Alex Marquez Sebut Kesalahan Gigi di Motegi 'Tidak Dapat Diterima'
Baca dalam 60 detik
- Alex Marquez gagal finis di GP Jepang setelah dua kali salah menurunkan gigi, yang ia sebut kesalahan fatal.
- Insiden di sesi pemanasan dan balapan membuatnya kehilangan poin berharga dan merusak peluang di klasemen.
- Marquez juga mengkritik inkonsistensi penalti long lap dan mendesak standarisasi dari MotoGP.

Pembalap Gresini, Alex Marquez, mengakhiri Grand Prix Jepang dengan kekecewaan mendalam setelah dua kali terjatuh akibat kesalahan yang sama: salah menurunkan gigi saat memasuki tikungan. Insiden ini tidak hanya membuatnya gagal finis, tetapi juga menghancurkan peluangnya meraih poin di Sirkuit Motegi.
Masalah Marquez sebenarnya sudah terlihat sejak sesi sprint pada Sabtu. Ia salah memperhitungkan pengereman di Tikungan 3, menabrak Pedro Acosta dan Fabio di Giannantonio, dan dihukum dua kali long lap penalty. Meski sempat berada di posisi delapan, ia akhirnya terjatuh pada lap 19. Ini adalah kecelakaan keduanya pada hari Minggu, setelah sebelumnya juga jatuh di sesi pemanasan dengan ban keras.
Marquez mengungkapkan bahwa penyebab kedua kecelakaan tersebut adalah kesalahan dalam mengoper gigi. Alih-alih menurunkan gigi, ia justru menaikkan gigi, sehingga ia berada dua gigi lebih tinggi dari yang seharusnya untuk Tikungan 11. โSaya tidak meletakkan kaki saya di posisi yang tepat, pada sudut yang benar. Bukannya menurunkan gigi, saya malah menaikkannya. Dua kali,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa ketika sepeda motor dalam posisi miring, kesalahan gigi membuat motor mendorong dan akhirnya terjatuh.
Marquez tidak menyembunyikan kemarahannya pada diri sendiri. โIni kesalahan yang tidak dapat diterima untuk seorang pembalap. Saya marah pada diri sendiri. Anda tidak bisa membuat kesalahan seperti ini, apalagi dua kali dalam sehari,โ tegasnya kepada DAZN. Ia juga menjelaskan bahwa saat mencoba menurunkan ke gigi dua, ia malah menginjak ke gigi empat karena ukuran sepatunya yang besar (44), dan hal itu terkadang terjadi. Namun, ia menegaskan bahwa itu bukan alasan.
Padahal, Marquez memulai akhir pekan dengan menjanjikan. Ia memuncaki sesi latihan bebas pada Jumat, menunjukkan kecepatan yang kompetitif. Ketika ditanya apakah ia kecewa tidak memanfaatkan momentum tersebut, ia menjawab, โSetiap kali Anda membuat kesalahan, tidak peduli posisi Anda, itu selalu mengecewakan. Setidaknya ada hal positif: kecepatan kami ada. Tapi kesalahan ini tidak bisa saya lakukan, apalagi dua kali dalam sehari.โ
Selain masalah pribadi, Marquez juga menyoroti ketidakseragaman penalti long lap di berbagai sirkuit. Menurutnya, long lap penalty di Motegi jauh lebih merugikan dibandingkan di Brno. โApa yang mereka lakukan dengan Long Lap tidak masuk akal. Di Brno, Anda kehilangan sedikit waktu. Bandingkan dengan di sini, long lap Motegi seperti melakukan empat kali long lap Brno. Ini perlu distandarisasi. Penalti long lap seperti di Brno, yang berada di lintasan itu sendiri, jauh lebih baik karena tidak ada lubang, gundukan, atau saluran air. Ini perlu didiskusikan, dan kita lihat apakah mereka mendengarkan,โ paparnya.
Kegagalan Marquez di Motegi menjadi pukulan telak dalam perebutan posisi di klasemen. Sementara sang kakak, Marc Marquez, berhasil menang dengan Ducati pabrikan, Alex justru pulang tanpa poin. Ini adalah penampilan terburuknya sejak seri pembuka di Thailand. Kesalahan yang sama dua kali dalam sehari menunjukkan perlunya evaluasi teknis dan mental bagi pembalap berusia 30 tahun itu.
Ke depan, Marquez dituntut untuk segera bangkit. Ia memiliki kecepatan, tetapi konsistensi dan ketelitian menjadi PR besar. Jika kesalahan serupa terulang, peluangnya di sisa musim bisa semakin tipis. Mampukah ia mengatasi tekanan dan kembali bersaing di barisan depan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: di level MotoGP, kesalahan sekecil apa pun bisa berujung bencana.



