Festival Literasi Menjamur, Tapi Skor Baca RI 54,80: Antara Antusiasme dan Ketimpangan Akses
Baca dalam 60 detik
- Gelombang festival literasi di berbagai daerah sepanjang SeptemberโOktober 2026 tidak berbanding lurus dengan capaian skor baca nasional yang masih 54,80.
- Tingginya partisipasi pelajar di acara seperti Semesta Buku Malang dan Festival Literasi Pekalongan menandakan minat baca bukan persoalan utama, melainkan distribusi bahan bacaan dan pembinaan berkelanjutan.
- Pemerintah perlu mengubah festival dari acara seremonial menjadi infrastruktur literasi permanen, jika ingin mengejar ketertinggalan dari negara tetangga.

Skor literasi membaca Indonesia yang hanya 54,80 kembali menjadi sorotan di tengah maraknya festival literasi di sejumlah kota. Sepanjang September hingga Oktober 2026, ajang seperti Semesta Buku di Malang, Festival Literasi Pekalongan, dan CIA Fest di Jakarta menampilkan ribuan judul buku serta antusiasme pelajar yang tinggi. Namun, gegap gempita acara-acara tersebut tidak serta-merta mengangkat capaian kompetensi membaca nasional yang masih tertinggal jauh dari standar global.
Angka 54,80 yang dirilis dalam berbagai asesmen nasional menggambarkan bahwa rata-rata siswa Indonesia baru mampu memahami teks pada level literal, belum sampai pada inferensi dan evaluasi kritis. Kondisi ini kontras dengan pemandangan di lapangan: ribuan pelajar memadati stan buku, memilih bacaan, dan mengikuti lokakarya. Menurut sejumlah pengamat pendidikan, fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan terletak pada minat, melainkan pada akses yang tidak merata dan tidak berkelanjutan.
Festival literasi memang menjadi ruang perayaan yang penting. Di Malang, Taman Krida Budaya disulap menjadi pasar buku raksasa yang menarik perhatian tidak hanya pelajar, tetapi juga keluarga. Di Pekalongan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan setempat menggelar Festival Literasi 2026 dengan pameran arsip foto daerah, menautkan sejarah lokal dengan kebiasaan membaca. Sementara CIA Fest di Lapangan Banteng, Jakarta, mengusung tema "Sumatra: Dari Anak untuk Anak", menghadirkan aktivitas edukatif seperti tari kreasi dan bercerita.
Namun, sejumlah analis menilai festival semacam ini sering kali bersifat seremonial dan tidak berkelanjutan. "Antusiasme datang ke festival tidak otomatis meningkatkan kemampuan membaca kritis. Yang dibutuhkan adalah program pendampingan jangka panjang, akses buku murah, dan perpustakaan sekolah yang hidup," ujar seorang peneliti literasi dari sebuah lembaga swadaya masyarakat, seperti dikutip dari diskusi terbatas pekan lalu. Ia menambahkan bahwa tanpa intervensi struktural, skor baca sulit beranjak dari angka 54,80.
"Festival boleh ramai, tapi kalau setelahnya anak-anak kembali ke sekolah tanpa buku yang memadai, ya hanya jadi tontonan sesaat." โ Pengamat pendidikan
Persoalan utama memang bukan pada kemauan siswa. Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang cukup tinggi, terutama pada konten digital. Masalahnya, bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai jenjang masih mahal dan langka di daerah. Perpustakaan sekolah di banyak kabupaten hanya memiliki koleksi usang, sementara toko buku modern terkonsentrasi di kota-kota besar. Akibatnya, skor baca stagnan meskipun event literasi menjamur.
Pemerintah melalui Kemendikdasmen sebenarnya telah meluncurkan program literasi sekolah, namun implementasinya terkendala anggaran dan koordinasi daerah. Festival literasi yang digelar oleh pemerintah kota dan provinsi sering kali tidak terhubung dengan kurikulum atau pelatihan guru. Menurut sejumlah kepala sekolah, mereka lebih membutuhkan bantuan pengadaan buku dan waktu khusus membaca setiap hari, bukan sekadar acara tahunan.
Jika dilihat dari perbandingan regional, Indonesia masih tertinggal dari Vietnam (skor 78) dan Malaysia (skor 67) dalam asesmen serupa. Ketimpangan ini diperparah oleh kesenjangan digital: akses internet di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih rendah, sehingga literasi digital pun tidak bisa menjadi jembatan. Padahal, literasi digital dapat menjadi solusi murah untuk mendistribusikan bahan bacaan, asalkan infrastrukturnya tersedia.
Ke depan, tantangannya adalah mengubah festival dari panggung sesaat menjadi ekosistem. Beberapa inisiatif seperti perpustakaan keliling dan taman baca masyarakat perlu diperbanyak dan didanai secara konsisten. Selain itu, pelibatan swasta dalam penyediaan buku murah dan pelatihan guru literasi bisa menjadi kunci. Tanpa itu, skor 54,80 akan terus menghantui meski festival literasi terus menjamur. Akankah tahun depan angka itu berubah, atau kita hanya menambah daftar acara tanpa dampak?



