PM Ukraina Minta Jepang Kirim Rudal Pencegat: Ini Taruhannya bagi Keamanan Regional
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Ukraina, Sergii Koretskyi, secara langsung meminta Jepang memasok rudal pencegat untuk menghadapi serangan rudal balistik Rusia yang kian intensif.
- Persediaan rudal Patriot Ukraina diperkirakan menyusut drastis menjadi 264 unit tahun ini dari 675 unit pada 2023, menyusul melambatnya produksi AS akibat perang dengan Iran.
- Revisi kebijakan ekspor alutsista Jepang pada April lalu membuka peluang pengiriman senjata mematikan, namun tetap mensyaratkan perjanjian keamanan dan persetujuan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Perdana Menteri Ukraina, Sergii Koretskyi, secara gamblang meminta Jepang untuk memasok rudal pencegat guna menghadapi gempuran rudal balistik Rusia yang kian membabi buta, empat setengah tahun setelah invasi skala penuh dimulai. Dalam wawancara dengan Kyodo News, ia menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah sistem pertahanan udara, terutama rudal anti-balistik, untuk melindungi warga sipil dan infrastruktur vital menjelang musim dingin.
Permintaan ini muncul di tengah menipisnya stok rudal pencegat Ukraina yang selama ini menjadi andalan untuk menahan serangan Moskow. Menurut data yang disampaikan Presiden Volodymyr Zelenskyy, jumlah rudal Patriot yang dimiliki Ukraina diperkirakan hanya tersisa 264 unit pada tahun ini, merosot tajam dari 675 unit pada 2023 dan 364 unit pada 2025. Padahal, rudal tersebut merupakan tameng utama untuk melindungi kota-kota besar dari serangan udara Rusia.
Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai produsen utama sistem Patriot tengah kesulitan memenuhi permintaan karena stoknya terkuras akibat perang yang berkepanjangan dengan Iran. Kondisi ini membuat Ukraina mencari alternatif pasokan dari sekutu lain, termasuk Jepang yang memiliki lisensi produksi rudal pencegat buatan AS.
Jepang sendiri telah merevisi kebijakan ekspor peralatan pertahanan pada April lalu, sebuah langkah yang dinilai sebagai perubahan signifikan dalam postur pertahanan negara tersebut di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dikenal sebagai tokoh garis keras keamanan. Revisi ini memungkinkan pengiriman senjata mematikan ke negara lain, namun tetap dibatasi oleh sejumlah syarat ketat.
Salah satu syarat utamanya adalah negara penerima harus menandatangani perjanjian dengan Jepang mengenai perlindungan informasi rahasia yang terkait dengan transfer alutsista. Selain itu, ekspor senjata ke negara yang sedang berkonflik secara prinsip tetap dilarang. Artinya, meskipun Ukraina dan Jepang telah memiliki kerangka kerja sama, keputusan akhir untuk mengirimkan rudal pencegat tetap berada di tangan Takaichi.
Koretskyi, yang baru menjabat sejak Juli, menyatakan optimisme terhadap kerja sama jangka panjang dengan Jepang, tidak hanya untuk kebutuhan perang tetapi juga untuk rekonstruksi Ukraina pasca-konflik. "Kami tidak ingin menunggu perang selesai untuk mulai membangun kembali," ujarnya, seraya menambahkan harapannya untuk mengunjungi Tokyo dan menyambut kunjungan balasan dari Takaichi ke Kyiv.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Meski bukan pihak yang terlibat langsung, dinamika konflik Ukraina-Rusia dan kebijakan pertahanan Jepang dapat memengaruhi keseimbangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Jepang selama ini dikenal sebagai mitra penting Indonesia dalam berbagai bidang, termasuk pertahanan. Jika Jepang semakin longgar dalam mengekspor alutsista, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi salah satu negara yang diuntungkan, terutama dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan rudal pencegat secara global juga dapat memicu persaingan pasokan yang lebih ketat, yang berpotensi memengaruhi harga dan ketersediaan teknologi pertahanan di pasar internasional. Indonesia, yang tengah berupaya memperbarui armada militernya, perlu mencermati dinamika ini agar tidak tertinggal dalam akses terhadap teknologi pertahanan mutakhir.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah Jepang akan benar-benar mengabulkan permintaan Ukraina dan bagaimana respons Rusia terhadap langkah tersebut. Jika Jepang akhirnya mengirimkan rudal pencegat, hal ini akan menjadi preseden penting dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan Jepang pasca-Perang Dunia II. Sebaliknya, jika tidak, Ukraina harus mencari jalan lain untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan rudal Rusia yang terus mengancam.



