Kedutaan China Bantah Dampingi Pemilik Hotel ke Perbatasan Kamboja-Thailand
Baca dalam 60 detik
- Dubes China untuk Kamboja, Wang Wenbin, secara tegas membantah laporan media Thailand yang menyebut staf kedutaan mendampingi pemilik Heng Fang Hotel ke area perbatasan.
- Bantahan ini muncul di tengah sengitnya sengketa kepemilikan hotel antara warga China dan militer Thailand di wilayah yang diklaim Kamboja.
- Kasus ini berpotensi memanaskan hubungan bilateral di kawasan, mengingat China merupakan investor utama di Kamboja dan Thailand.

Kedutaan Besar China di Phnom Penh angkat bicara menanggapi pemberitaan media Thailand yang mengklaim para pejabatnya turut mendampingi pemilik hotel asal China ke kawasan perbatasan Kamboja-Thailand. Dalam klarifikasi resmi yang disampaikan melalui media sosial, Jumat (21/8), Duta Besar China untuk Kamboja, Wang Wenbin, menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar dan tidak ada satu pun staf kedutaan yang dikirim ke lokasi yang dimaksud.
"Kedutaan Besar China di Kamboja menyatakan bahwa laporan di atas tidak benar dan belum pernah mengirim personel ke wilayah perbatasan Kamboja-Thailand tersebut akhir-akhir ini," tulis Wang dalam pernyataannya. Ia juga mengimbau media dan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memverifikasi informasi sebelum menyebarluaskannya.
Klarifikasi ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap Heng Fang Hotel, sebuah properti yang terletak di area Thma Da, Provinsi Pursat, Kamboja. Pemilik hotel yang juga berkewarganegaraan China tersebut sebelumnya menuduh militer Thailand telah menduduki dan menjarah propertinya yang berada di wilayah Kamboja. Tuduhan ini memicu pemberitaan luas di media Thailand dan Kamboja, serta berpotensi memanaskan hubungan bilateral kedua negara.
Wang menambahkan, "Kami berharap media terkait dan rekan-rekan dari berbagai kalangan dapat memverifikasi sumber berita dengan cermat dan tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi." Pernyataan ini menegaskan sikap resmi Beijing yang ingin menjaga stabilitas hubungan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan kompleksitas sengketa perbatasan di kawasan. Meski Indonesia tidak terlibat langsung, dinamika antara China, Kamboja, dan Thailand dapat berdampak pada stabilitas keamanan regional yang menjadi perhatian ASEAN. Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya verifikasi informasi di tengah maraknya berita palsu atau hoaks yang dapat memicu ketegangan diplomatik.
Klarifikasi dari Beijing ini diharapkan dapat meredakan ketegangan yang mungkin timbul akibat pemberitaan yang tidak akurat. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana kedua negara akan menyelesaikan sengketa properti ini secara diplomatis tanpa melibatkan pihak ketiga. Apakah kasus ini akan menjadi preseden bagi penanganan sengketa serupa di kawasan? Hanya waktu yang akan menjawab.



