Ratusan Marmut Terlantar: Kisah Panti Asuhan di Massachusetts yang Menjadi Harapan Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Di Salisbury, Massachusetts, Guinea Pig Sanctuary menampung hingga 400 marmut yang dibuang pemiliknya, menjadikannya salah satu dari sedikit penampungan khusus di AS.
- Pemiliknya, Kimie Smothermon, memulai misi ini setelah cucunya yang selamat dari kebakaran justru menemukan kenyamanan bersama marmut, namun tragedi 2019 nyaris menghentikan segalanya.
- Dengan lonjakan penelantaran hewan peliharaan pasca-pandemi, tempat ini menyoroti kebutuhan akan edukasi kepemilikan hewan yang lebih bertanggung jawab, relevan juga bagi Indonesia.

Setiap pagi, Kimie Smothermon dibangunkan oleh paduan suara mencicit, berkicau, dan mendengkur dari hampir 400 marmut yang menghuni Guinea Pig Sanctuary di Salisbury, Massachusetts. Tempat penampungan yang berjarak sekitar 64 kilometer di utara Boston ini bukan sekadar rumah singgah, melainkan garis depan dalam krisis penelantaran hewan peliharaan yang kian meluas di Amerika Serikat.
Smothermon, yang juga pendiri sekaligus pengelola tempat ini, mengakui bahwa rutinitasnya jauh dari kata mudah. Dalam gurauannya, ia pernah berkata, "Jika aku bisa keluar dari ini, mungkin sudah kulakukan. Tapi aku rasa, tanpa ini, aku mungkin tidak akan bangun dari tempat tidur." Pernyataan itu mencerminkan beban emosional dan fisik yang ia pikul setiap hari, di tengah ruang kerja sempit yang dipenuhi kandang bertingkat dari lantai hingga langit-langit.
Guinea Pig Sanctuary adalah salah satu dari segelintir organisasi nirlaba di AS yang secara khusus menampung marmut terlantar. Kebutuhan akan tempat semacam ini terus meningkat seiring banyaknya pemilik yang kewalahan merawat hewan pengerat sosial ini. Smothermon menjelaskan, marmut sebaiknya dipelihara berpasangan karena mereka sangat sosial dan tidak bisa dikurung sepanjang waktu. Ukurannya yang hanya 20-32 sentimeter dan asal-usulnya dari pegunungan Andes, Amerika Selatan, seringkali membuat orang salah mengira perawatannya mudah.
Setiap hari, telepon berdering dengan permintaan dari berbagai penjuru negeri: 11 marmut dari Illinois, tujuh dari Texas, atau 97 dari New York yang hampir separuhnya sedang hamil. Smothermon jarang menolak. "Katakan saja bawa ke sini," ujarnya. "Kalau itu yang harus kau lakukan, aku yang ambil alih tanggung jawabnya." Sikap tanpa pamrih ini lahir dari pengalaman pahit yang membentuk hidupnya.
Kisahnya bermula dari cucunya, Alex, yang setelah mengalami luka bakar dan masalah kesehatan, baru berani berinteraksi dengan hewan saat berusia 12 tahun. Marmut menjadi pintu masuknya untuk pulih. Namun pada 2019, kebakaran hebat menghanguskan rumah mereka di New Hampshire, merenggut nyawa cucu lainnya, dua anjing, dan puluhan marmut. Smothermon jatuh dalam depresi berat, tetapi justru saat itulah orang-orang terus menitipkan marmut terlantar, bahkan ketika keluarganya tinggal di hotel. "Melihat kebutuhan itu memberi kami fokus untuk melanjutkan mimpi Alex," kenangnya.
Fenomena penelantaran marmut ini sejalan dengan tren global pasca-pandemi, di mana adopsi hewan peliharaan melonjak namun diikuti penyerahan kembali ketika pemilik mulai jenuh. Di Indonesia, meski data resmi minim, komunitas pecinta marmut kerap mengeluhkan banyaknya hewan yang dibuang karena pemilik tidak siap dengan kebutuhan sosial dan kesehatan mereka. Kurangnya regulasi dan edukasi menjadi akar masalah yang serupa.
Menurut Janet Woodman, relawan di tempat itu, marmut adalah hewan yang sangat sensitif dan bahkan disebutnya sebagai "hewan terapi terbaik setelah kuda." Namun, kepekaan itu juga berarti mereka mudah stres jika diabaikan. Smothermon menegaskan, "Kalau aku tidak bangun, mereka tidak makan dan bisa mati. Jadi meski ini bukan pilihan, aku harus melakukannya." Komitmennya yang hanya mengambil libur beberapa hari dalam setahun menjadi cermin dedikasi yang langka.
Ke depan, keberlanjutan tempat penampungan semacam ini bergantung pada kesadaran publik dan dukungan kebijakan. Apakah masyarakat akan semakin bertanggung jawab, atau justru semakin banyak marmut yang membutuhkan penyelamatan? Pertanyaan ini menggantung, tidak hanya bagi Smothermon, tetapi juga bagi para pecinta hewan di seluruh dunia.



