Australia Bangkit di Mackay: Cummins Puji Respons Tim, Green Hapus Keraguan
Baca dalam 60 detik
- Australia menyamakan kedudukan 1-1 melawan Bangladesh setelah menang dominan di Mackay, menebus kekalahan mengejutkan di Darwin.
- Penampilan Mitchell Starc yang memukau (6-12) menjadi pembeda, sementara Cameron Green membuktikan konsistensinya dengan seri apik.
- Kapten Pat Cummins menegaskan kebangkitan ini sebagai bukti mentalitas tim, dengan Green diharapkan membawa kepercayaan diri ke seri berikutnya.

Setelah kekalahan memalukan di Darwin, Australia menjawab kritik dengan cara paling tegas: menghancurkan Bangladesh dalam dua hari di Mackay. Kemenangan dengan selisih satu inning dan 51 run tidak hanya menyamakan kedudukan seri 1-1, tetapi juga mengirim sinyal bahwa skuat asuhan Pat Cummins masih menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan di kancah Test cricket.
Pertandingan yang berlangsung pada Minggu (23/8) itu menjadi panggung bagi Mitchell Starc yang tampil luar biasa. Dalam inning pertama, ia merobek pertahanan Bangladesh dengan catatan 6-12, yang membuat tim tamu hanya mampu mengumpulkan 64 run. Performa ini menjadi fondasi kemenangan cepat Australia, sebuah kebalikan total dari kekalahan sembilan wicket di Darwin yang disebut-sebut sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Test cricket.
"Kami butuh bangkit, dan dua hari ini luar biasa dari para pemain," ujar Cummins seperti dikutip media setempat. "Semua tampil tajam. Ini kebalikan dari minggu lalu. Jika kami bisa melewati satu atau dua jam pertama dengan baik, kami bisa mengatur jalannya pertandingan. Saya tidak berharap mendapat 6-20 setiap laga, tapi ini awal yang hebat dan kami tidak pernah mengendur setelahnya."
Di sisi lain, Cameron Green kembali menjadi sorotan. Setelah mencetak abad di Darwin, ia melanjutkan performa impresifnya dengan 67 run yang berharga di Mackay, membantu Australia membangun keunggulan 146 run. Angka itu terbukti terlalu berat bagi Bangladesh. Bagi Green, seri ini adalah pembuktian setelah periode paceklik run selama Ashes, yang memicu keraguan dari para mantan pemain dan pengamat tentang tempatnya di tim.
Cummins memberikan pujian khusus untuk Green. "Dia tampil sangat dominan sepanjang seri ini. Saya sangat senang untuknya. Dia menopang inning kami kemarin dan pagi ini. Semoga dia bisa memetik banyak kepercayaan diri dari sini. Kami tahu betapa bagusnya dia." Pernyataan ini menegaskan bahwa Green bukan sekadar pelengkap, melainkan aset jangka panjang bagi Australia.
Bagi pengamat kriket di Indonesia, kebangkitan Australia ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks persaingan menuju seri Ashes mendatang. Meski Indonesia bukan negara pemain kriket utama, perkembangan ini relevan bagi penggemar yang mengikuti dinamika tim-tim elite. Kemenangan ini juga menunjukkan bahwa tekanan mental setelah kekalahan bisa diatasi dengan persiapan matang dan eksekusi yang disiplinโpelajaran yang berlaku universal dalam olahraga.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Australia dapat mempertahankan konsistensi ini. Dengan Green yang kembali menemukan sentuhannya dan Starc yang sedang dalam performa puncak, Australia tampak mengancam. Namun, lawan berikutnya akan lebih tangguh, dan Cummins serta timnya harus membuktikan bahwa kemenangan di Mackay bukan sekadar kilatan sesaat. Mampukah mereka menjaga momentum ini hingga akhir seri?



