Mercedes Desak F1 Kurangi Kompleksitas Mobil Usai Kekacauan di Sepang
Baca dalam 60 detik
- Mercedes menilai regulasi teknis F1 2026 terlalu rumit dan memicu insiden pembuka di Malaysia.
- Wakil bos tim Bradley Lord menyebut mobil generasi baru 'sangat kompleks' dan menyerukan penyederhanaan.
- F1 akan beralih ke mesin V8 dengan elektrifikasi lebih kecil pada 2030, sejalan dengan keinginan fans.

Mercedes mendesak Formula 1 untuk menyederhanakan regulasi teknis setelah kekacauan pada balapan pembuka musim 2026 di Sirkuit Sepang, Malaysia, akhir pekan lalu. Insiden yang melibatkan beberapa mobil mogok dan merangkak saat lap formasi memaksa balapan ditunda lebih dari 90 menit, sementara FIA berjibaku mengirim perbaikan perangkat lunak.
Wakil principal Mercedes, Bradley Lord, menyebut kejadian itu sebagai cerminan betapa rumitnya mobil F1 era baru. Menurutnya, kompleksitas power unit yang menggabungkan mesin pembakaran internal dan MGU-K telah menjadi momok bagi tim, pembalap, bahkan penggemar. "Mobil-mobil ini sangat kompleks, begitu pula regulasi yang mengaturnya. Bahkan di balapan ke-15 atau ke-16, kami masih bisa terperangkap oleh elemen-elemen tertentu," ujar Lord, dikutip dari Motorsport.com.
Insiden di Malaysia bukan kali pertama sistem baru ini menuai masalah. Sejak diperkenalkan pada awal 2026, power unit generasi terkini sudah beberapa kali membuat pembalap kesulitan, terutama saat mengelola distribusi tenaga. Namun, kekacauan di Sepang menjadi puncak kekecewaan karena terjadi sebelum balapan dimulai, meninggalkan tribun penonton dengan pemandangan lintasan kosong.
Lord menegaskan bahwa kejadian tersebut seharusnya menjadi pelajaran berharga. "Ini menunjukkan bahwa Formula 1 benar-benar sulit. Ada alasan mengapa kami melakukan pengujian sebelum balapan, dan situasi itu belum pernah teruji sebelumnya," tambahnya. Ia berharap arah pengembangan ke depan lebih mengutamakan kesederhanaan ketimbang kerumitan.
"Arah masa depan adalah penyederhanaan yang lebih besar, bukan peningkatan kompleksitas. Insiden hari ini hanyalah catatan kaki dalam balapan yang sebenarnya menarik, tetapi ini menegaskan bahwa kesederhanaan versus kompleksitas adalah arah yang valid bagi olahraga ini." - Bradley Lord, Wakil Principal Mercedes
Mercedes sendiri tengah menikmati performa kuat sejak perubahan regulasi 2026. Setelah tiga tahun kesulitan dengan mobil ground effect, tim asal Brackley itu kini memimpin klasemen konstruktor dengan W17 yang dominan. Meski paket peningkatan yang dibawa ke Sepang tidak memberikan hasil maksimal, Mercedes tetap menjadi kekuatan utama musim ini.
Kritik terhadap kompleksitas regulasi juga datang dari para penggemar dan pembalap. Mereka mengeluhkan bagaimana tenaga dikelola antara mesin pembakaran internal dan MGU-K, yang sering kali membuat balapan tidak terduga. Lord menilai bahwa insiden di Malaysia, meski hanya "catatan kaki", memperkuat argumen bahwa F1 perlu bergerak menuju aturan yang lebih sederhana.
Perubahan besar sudah di depan mata. Mulai 2030, F1 akan menggunakan powertrain baru dengan layout mesin V8 dan elektrifikasi yang lebih kecil. Keputusan ini seolah menjawab keinginan fans dan Lord yang menginginkan balapan lebih mudah dipahami dan tidak terlalu bergantung pada sistem elektronik rumit.
Dengan arah tersebut, pertanyaannya kini: akankah penyederhanaan regulasi benar-benar membuat balapan lebih kompetitif dan minim insiden, atau justru memunculkan tantangan baru bagi tim dan pembalap? Yang jelas, Mercedes telah menyuarakan kegelisahan yang mungkin segera menjadi agenda utama diskusi di paddock.



