Bandara Niigata Hadirkan Bar Sake Interaktif: Cara Baru Jepang Pikat Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Bandara Niigata meluncurkan booth sake tap dengan empat varian regional dan program pencicipan berbayar untuk meningkatkan daya tarik bandara.
- Inisiatif ini merupakan uji coba untuk mendorong kunjungan ulang dan memperkuat citra Niigata sebagai 'kerajaan sake' Jepang.
- Jika sukses, konsep ini berpotensi menjadi fitur permanen dan bisa menjadi inspirasi bagi bandara di Indonesia untuk mempromosikan produk lokal.

Bandara Niigata di Jepang kini punya daya tarik baru: sebuah booth interaktif yang menyajikan sake lokal langsung dari keran. Diresmikan pada 19 Agustus lalu, fasilitas ini dirancang untuk memberi pengalaman mencicipi sake dari berbagai wilayah di Prefektur Niigata, sekaligus menjadi uji coba apakah inovasi semacam ini mampu meningkatkan kepuasan penumpang dan mendorong mereka untuk kembali lagi.
Booth yang diberi nama "Niigata de kampai" (bersulang di Niigata) ini menempati lantai pertama bandara. Di dalamnya terdapat empat keran sake yang mewakili wilayah Joetsu, Chuetsu, Kaetsu, dan Pulau Sado. Setiap minggu, merek sake yang ditawarkan akan diganti untuk memberikan variasi. Selain sake, ada juga empat keran tambahan yang menyajikan amazake (minuman fermentasi beras) dan jus buah lokal. Pengunjung juga bisa menikmati bir kerajinan, anggur, shochu, dan umeshu dalam suasana kaku-uchi, yaitu area berdiri santai ala bar.
Konsep ini bukan sekadar tempat minum. Pengunjung dapat memadukan sake dengan hidangan khas Niigata seperti sup noppe, edamame, dan tare-katsu (katsu dengan saus). Untuk menikmati layanan ini, pengunjung perlu membeli "Kampai Passport" dengan harga mulai 500 yen (sekitar Rp55 ribu) hingga 1.500 yen (sekitar Rp165 ribu). Tiket ini memungkinkan mereka mencicipi berbagai minuman dan makanan, sementara masuk ke booth sendiri gratis.
Katsuhisa Hiramatsu, direktur jenderal Biro Kebijakan Transportasi pemerintah prefektur, berharap inisiatif ini dapat memperkuat citra Niigata sebagai "kerajaan sake". "Kami ingin pengunjung pulang dan bercerita bahwa sake mengalir dari keran di Niigata," ujarnya. Sementara itu, Takanori Nakamura, duta prefektur untuk produk bermerek Niigata, menekankan keunggulan bahan-bahan lokal yang "dibuat dengan bahan-bahan luar biasa yang membuat iri dunia".
Program khusus akan digelar setiap akhir pekan. Pada hari Sabtu, seorang "Gold Master" โ pemegang peringkat tertinggi dalam ujian Sake Master Niigata โ akan merekomendasikan sake yang cocok dengan preferensi dan suasana hati pengunjung. Sementara pada hari Minggu, koki dari restoran pemenang Niigata Gastronomy Award 2026 akan menyajikan menu spesial dalam jumlah terbatas, dengan paket tiga hidangan kecil dan tiga gelas sake seharga 2.000 yen (sekitar Rp220 ribu).
Bagi Indonesia, inovasi ini menawarkan pelajaran menarik. Bandara-bandara di tanah air, seperti Soekarno-Hatta atau Ngurah Rai, bisa mengadopsi konsep serupa untuk mempromosikan produk lokal, misalnya kopi Nusantara atau kuliner khas daerah. Dengan meningkatnya pariwisata, bandara bukan lagi sekadar pintu masuk, melainkan etalase budaya dan ekonomi kreatif. Pertanyaannya, akankah pengelola bandara Indonesia berani mengambil langkah berani seperti Niigata untuk memperkaya pengalaman wisatawan?



