Antrean Keluar Ethereum Cetak Rekor 2026: Efek Domino Insiden MetaMask
Baca dalam 60 detik
- Volume Ether yang mengantre untuk keluar dari jaringan Ethereum melonjak lebih dari lima kali lipat dalam tiga hari, memicu antrean terpanjang sepanjang 2026.
- Lonjakan ini dipicu oleh keputusan MetaMask menarik ribuan validator secara preventif setelah insiden keamanan, meski dana pengguna dipastikan aman.
- Sementara itu, antrean masuk untuk mulai staking justru menurun, menandakan pergeseran dinamika likuiditas di ekosistem Ethereum.

JAKARTA โ Antrean penarikan Ether (ETH) dari mekanisme staking Ethereum mengalami lonjakan dramatis dalam sepekan terakhir. Data terbaru menunjukkan sekitar 786.000 ETH senilai lebih dari $2 miliar masih menunggu untuk keluar dari jaringan hingga Senin pagi waktu Asia, dengan estimasi waktu tunggu mencapai hampir 14 hari. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang tahun 2026, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar kripto global.
Pemicu utama lonjakan ini adalah keputusan MetaMask, penyedia dompet kripto populer, untuk menarik sejumlah besar validator dari layanan staking Lido. Langkah ini diambil sebagai respons preventif terhadap insiden keamanan yang diungkap pada 30 September lalu. Meskipun MetaMask memastikan tidak ada dana pelanggan yang terdampak, operasi penarikan massal ini tetap menciptakan efek berantai yang signifikan pada antrean jaringan.
Menurut analisis CoinDesk, volume ETH yang menunggu keluar melonjak dari sekitar 166.000 ETH pada 29 September menjadi sekitar 851.000 ETH pada 2 Oktober. Angka ini setara dengan 2% dari total 43,6 juta ETH yang di-staking, jauh melampaui lonjakan sebelumnya yang hanya mencapai 476.000 ETH pada Mei lalu. Seorang peneliti keamanan Ethereum, Kaden, memperkirakan bahwa penarikan preventif ini mencakup sekitar 17.000 validator yang memegang sekitar 523.000 ETH, meskipun MetaMask belum mengonfirmasi angka tersebut.
Mekanisme staking Ethereum memang dirancang untuk membatasi kecepatan masuk dan keluarnya validator guna menjaga stabilitas keamanan jaringan. Saat ini, protokol hanya mengizinkan sekitar 57.600 ETH untuk masuk dan jumlah yang sama untuk keluar setiap harinya. Ketika ada pergerakan besar seperti yang dilakukan MetaMask, antrean pun menumpuk. Koin yang keluar kemudian harus melalui proses penarikan terpisah sebelum akhirnya sampai ke dompet pemiliknya.
"Tidak ada tindakan yang diperlukan dari pemegang stETH," ujar Lido dalam pernyataan resminya pekan lalu, merujuk pada token yang mewakili saham pengguna dalam layanan tersebut.
Lido, yang mengelola validator untuk MetaMask, memperkirakan bahwa dana yang ditarik akan kembali secara bertahap seiring dengan keluarnya validator yang terdampak. Proses keseluruhan diperkirakan memakan waktu hingga 45 hari, dan selama periode tersebut, validator yang tidak aktif akan kehilangan imbalan staking. Lido juga memperkirakan bahwa validator MetaMask terakhir yang terdampak akan berhenti melakukan staking pada 7 Oktober, setelah itu koin mereka akan kembali masuk ke antrean untuk memulai staking lagi.
Menariknya, di sisi lain, permintaan untuk mulai melakukan staking justru menunjukkan tren pendinginan. Pada Senin, sekitar 1,5 juta ETH senilai sekitar $4 miliar menunggu untuk masuk ke antrean staking, dengan estimasi waktu tunggu sekitar 25 hari. Angka ini turun dari sekitar 2 juta ETH dengan waktu tunggu 35 hari pada awal September. Penurunan ini mengindikasikan bahwa minat investor untuk mengunci aset mereka dalam jangka panjang mulai berkurang, mungkin karena ketidakpastian pasar atau ekspektasi imbal hasil yang lebih rendah.
Bagi investor Indonesia yang aktif di pasar kripto, dinamika ini patut dicermati. Meskipun insiden ini bersifat teknis dan tidak menyebabkan kerugian finansial langsung, fluktuasi antrean staking dapat memengaruhi likuiditas ETH di pasar spot dan derivatif. Trader lokal yang menggunakan platform global seperti Binance atau Indodax mungkin akan melihat volatilitas harga jangka pendek akibat ketidakseimbangan pasokan ETH yang masuk dan keluar dari sirkulasi aktif. Selain itu, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi dan pemahaman risiko operasional dalam ekosistem DeFi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah lonjakan antrean keluar ini akan mereda setelah validator MetaMask kembali aktif, atau justru memicu eksodus lebih besar dari operator lain yang khawatir terhadap keamanan. Jika kepercayaan terhadap staking Ethereum menurun, hal ini bisa berdampak pada tingkat partisipasi jaringan dan imbal hasil bagi para staker. Sementara itu, para pengamat akan terus memantau apakah Lido dan MetaMask dapat menyelesaikan proses ini sesuai jadwal, serta bagaimana respons pasar terhadap pergerakan besar ini dalam beberapa pekan mendatang.



