Denise Brown Buka Suara soal Kekerasan dalam Rumah Tangga: 'Saya Dulu Salah Paham'
Baca dalam 60 detik
- Denise Brown, kakak Nicole Brown Simpson, merilis buku memoar dan panduan bertahan dari kekerasan dalam rumah tangga setelah 32 tahun tragedi yang mengguncang dunia.
- Ia mengakui pernah memberi nasihat yang salah kepada adiknya dan menyerukan perubahan cara pandang masyarakat terhadap korban KDRT.
- Buku ini hadir saat pendanaan tempat perlindungan di AS terancam, sementara data global menunjukkan sepertiga perempuan pernah mengalami kekerasan.

Lebih dari tiga dekade setelah pembunuhan Nicole Brown Simpson yang menyita perhatian dunia, kakaknya, Denise Brown, memilih untuk tidak lagi diam. Ia meluncurkan buku berjudul For My Sister Nicole: Love Shouldn’t Hurt – What to Know About Domestic Violence, sebuah memoar sekaligus panduan praktis yang ia harap dapat menyelamatkan nyawa para korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dalam wawancara eksklusif, Brown mengenang malam terakhir kebersamaan mereka pada Juni 1994. Saat itu, Nicole melihat ke luar jendela restoran dan tiba-tiba panik karena melihat mantan suaminya, OJ Simpson, melintas. “Dia bilang, ‘Dia terus mengikutiku’,” ujar Brown. Keesokan paginya, panggilan telepon dari polisi Los Angeles mengubah hidupnya selamanya: Nicole dan temannya, Ron Goldman, ditemukan tewas ditikam di luar rumah Nicole.
Brown mengaku langsung mengetahui siapa pelakunya. “Saya tahu di dalam hati, di lubuk perut, di jiwa saya, bahwa dia yang membunuh Nicole,” katanya. Meski Simpson dibebaskan dalam sidang pidana tahun 1995, pengadilan perdata tahun 1997 menyatakan dia bertanggung jawab atas kematian kedua korban. Simpson kemudian dihukum atas kasus perampokan bersenjata dan meninggal pada 2024.
Setelah pembunuhan itu, Brown mendedikasikan hidupnya untuk mengkampanyekan anti-KDRT. Ia mengakui bahwa dirinya dulu tidak memahami seluk-beluk kekerasan domestik. “Saya dulu berpikir kekerasan dalam rumah tangga hanya terjadi pada perempuan miskin, yang giginya tanggal, yang tidak punya keluarga penyayang,” kenangnya. Pandangan itu runtuh ketika ia membaca jurnal-jurnal Nicole yang mendokumentasikan penganiayaan dan kontrol yang dialaminya selama bertahun-tahun.
Brown mengkritik dirinya sendiri karena pernah memberi nasihat yang tidak tepat. “Saya bilang, ‘Kamu harus tinggalkan dia. Kamu harus keluar dari situasi ini.’ Itu bukan dukungan,” ujarnya. Ia kini menekankan pentingnya edukasi agar keluarga dan teman korban dapat memberikan dukungan yang benar, serta memahami bahwa meninggalkan pelaku adalah proses yang rumit dan berbahaya.
“Saya berharap buku ini bisa menyelamatkan nyawa. Ketika saya melihat tanda-tanda pertama, saya akan punya pengetahuan untuk menyadari bahwa ini akan berlanjut, bukan menganggapnya insiden terisolasi.”
Ia juga menyoroti kondisi tempat perlindungan (shelter) yang menurutnya “di ambang penutupan” karena kekurangan dana dari pemerintah. Padahal, keberadaan shelter sangat krusial bagi korban yang ingin keluar dari lingkaran kekerasan.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin penting. Data Simfoni PPA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan ribuan kasus KDRT dilaporkan setiap tahun, dengan angka gelap yang diperkirakan jauh lebih tinggi. Kesadaran publik yang rendah, stigma, dan ketergantungan ekonomi sering membuat korban bertahan. Seperti kata Brown, “Anda mungkin mendatangi rumah yang sama 50 kali, tapi panggilan ke-51 bisa jadi yang menyelamatkan nyawanya.”
Brown berharap buku ini tidak hanya mengenang adiknya, tetapi juga mendorong perubahan sistemik. “Saya berharap adik saya bangga pada saya. Saya yakin jika posisinya terbalik, Nicole akan melakukan hal yang sama untuk saya,” tutupnya.



