Kemenangan Verstappen di Sepang: Warisan Horner dan Ambisi Mesin Red Bull
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen memenangkan GP Sepang 2026, menandai kemenangan pertama mesin Red Bull Powertrains yang didukung Ford.
- Christian Horner, meski tak lagi menjabat, berperan besar dalam pendirian Red Bull Powertrains setelah Honda hengkang.
- Kemenangan ini membuktikan Red Bull mampu bersaing dengan raksasa otomotif seperti Mercedes dan Ferrari.

Max Verstappen mengukir sejarah baru di Sirkuit Sepang, Malaysia, dengan kemenangan yang tidak hanya mengangkat namanya tetapi juga menandai tonggak penting bagi Red Bull Powertrains. Ini adalah kemenangan perdana bagi mesin internal combustion buatan Red Bull yang mendapat dukungan teknologi dari Ford, sebuah pencapaian yang mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali mesin Ford menang di F1 pada 2003 silam.
Kemenangan di GP Sepang 2026 ini terasa istimewa karena hujan deras sempat menunda start balapan, mengingatkan pada balapan kacau di Interlagos 2003 ketika Giancarlo Fisichella menang bersama Jordan-Ford. Kini, dua dekade kemudian, sejarah terulang dengan nuansa berbeda: Red Bull, yang dulu dianggap sekadar perusahaan minuman energi, berhasil membangun mesin sendiri dan langsung menang di musim pertamanya.
Perjalanan Red Bull membangun mesin F1 tidak lepas dari sosok Christian Horner. Meski saat ini ia tidak lagi menjabat sebagai team principal, Horner adalah arsitek utama di balik proyek ambisius ini. Setelah Honda mengumumkan mundur dari F1 pada Oktober 2020, Red Bull dihadapkan pada krisis pasokan mesin. Horner dan Helmut Marko kemudian meyakinkan Dietrich Mateschitz untuk mengambil langkah berani: membangun pabrik mesin sendiri di Milton Keynes.
Keputusan untuk tidak menggandeng Porsche menjadi titik krusial. Pada 2021, sempat muncul wacana joint venture antara Red Bull dan Porsche, namun Horner ragu karena tidak ingin kehilangan kendali atas keputusan teknis. Akhirnya, Red Bull memilih jalan sendiri. Langkah ini awalnya dianggap angkuh oleh paddock, mengingat tidak ada tim non-otomotif yang pernah sukses membangun mesin F1 dari nol.
"Meski tim mungkin disebut Red Bull Ford atau Ford Red Bull, mesinnya sepenuhnya berasal dari Red Bull Powertrains. Ford akan terlibat dalam teknologi baterai," ujar Helmut Marko pada Maret 2023.
Kemenangan ini juga menjadi pukulan telak bagi Mercedes dan Ferrari yang telah lama mendominasi teknologi mesin. Red Bull membuktikan bahwa dengan rekruitmen insinyur terbaik dan fasilitas canggih, mereka mampu menyaingi raksasa otomotif. Kini, Red Bull Powertrains tidak hanya menjadi pemasok mesin bagi tim sendiri, tetapi juga menegaskan posisi Red Bull sebagai kekuatan mandiri di F1.
Bagi Horner, momen ini adalah warisan yang tak terbantahkan. Meski namanya tidak tercatat di trofi kemenangan Sepang, kontribusinya dalam membangun fondasi proyek mesin tidak bisa dihapus. Buku otobiografinya, Drive, yang akan terbit 22 Oktober, mungkin akan mengungkap lebih detail bagaimana ia mengubah Red Bull dari tim yang bergantung pada pemasok mesin menjadi kekuatan penuh.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Red Bull dapat mempertahankan momentum ini dan mendominasi era mesin baru? Sementara itu, bagi Horner, kemenangan ini mungkin menjadi penutup babak yang manisโsebuah bukti bahwa visinya melampaui masa jabatannya.



