Oki dan Tonkori: Musik Ainu yang Menembus Batas di Panggung New York
Baca dalam 60 detik
- Musisi Ainu Oki membawakan perpaduan tonkori dengan reggae dan Afrobeat dalam konser di New York, menandai kembalinya ia ke kota yang memicu pencarian jati dirinya.
- Perjalanan Oki dari seniman kontemporer yang bingung hingga menjadi duta musik Ainu menunjukkan bagaimana identitas budaya dapat dieksplorasi melalui seni.
- Lewat film dokumenter 'Everyday Ainu', Oki berupaya memastikan narasi tentang Ainu disampaikan dari perspektif internal, menginspirasi komunitas adat lain termasuk di Indonesia.

Musisi asal Jepang, Oki, kembali mengguncang panggung New York dengan alunan tonkori, alat musik petik tradisional Ainu, yang dipadukan dengan irama reggae dan Afrobeat. Konser yang digelar awal Juni lalu ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan juga penegasan identitas budaya yang telah lama ia cari. Bagi Oki, New York adalah kota yang dulu memaksanya bertanya: siapa dirinya sebenarnya?
Pria berusia 69 tahun ini tumbuh di Kanagawa, dekat Tokyo, tanpa mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah orang Ainu. Fakta itu baru ia ketahui saat berusia 22 tahun, ketika ia tengah menekuni seni logam di Tokyo University of the Arts. Sejak itu, ia merasa terombang-ambing antara dua dunia: tidak sepenuhnya dianggap Jepang, tetapi juga asing bagi komunitas Ainu di Hokkaido. Perasaan kehilangan arah ini membawanya pindah ke New York di usia 30 tahun, tanpa rencana yang jelas.
Di kota yang tak pernah tidur itu, Oki bertemu dengan seniman dari berbagai komunitas adat, termasuk seorang seniman Navajo di Arizona. Pengalaman tersebut membuka matanya akan pentingnya akar budaya. Meski sempat menekuni produksi film, proyek yang ia ikuti gagal, dan ia memutuskan memulai hidup baru di Hokkaido. Di sanalah ia menemukan tonkori, alat musik lima senar yang nyaris punah, dan memutuskan untuk menghidupkannya kembali dengan sentuhan modern.
Perjalanan Oki mencerminkan tren global di mana musisi pribumi menggunakan platform internasional untuk memperkenalkan warisan budaya mereka. Di Indonesia, semangat serupa terlihat pada musisi yang mengangkat alat musik tradisional seperti sasando atau angklung ke panggung dunia. Namun, tantangan terbesar adalah menjaga keaslian tanpa terjebak pada eksotisme yang hanya melihat kulit luarnya. Oki sendiri menegaskan, "Saya tidak ingin menjadi Ainu sebagai hal pertama yang orang kaitkan dengan saya." Ia ingin musiknya dinilai sebagai karya seni, bukan sekadar artefak budaya.
Kembalinya Oki ke New York juga menjadi ajang untuk mempromosikan film dokumenter perdananya, "Everyday Ainu", yang diproduksi oleh Museum Nasional Ainu di Shiraoi, Hokkaido. Dalam diskusi di Japan Society sehari setelah konser, ia menekankan pentingnya orang Ainu bercerita tentang diri mereka sendiri. Selama ini, banyak dokumenter tentang Ainu justru dibuat oleh pihak luar, yang sering kali gagal menangkap nuansa kehidupan sehari-hari mereka.
Bagi Indonesia, kisah Oki relevan dengan upaya revitalisasi budaya adat yang kerap terpinggirkan. Komunitas adat di berbagai daerah, seperti Dayak di Kalimantan atau Toraja di Sulawesi, juga berjuang agar suara mereka didengar di tengah arus modernisasi. Oki membuktikan bahwa musik bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya tanpa harus kehilangan esensinya. Pertanyaannya, mampukah para seniman adat Indonesia melakukan hal serupa di kancah global?
Ke depan, Oki berencana terus mengembangkan gaya musiknya dan membawa pesan Ainu ke lebih banyak panggung internasional. Dengan semakin terbukanya dunia terhadap keberagaman budaya, bukan tidak mungkin tonkori akan semakin dikenal, seperti halnya didgeridoo dari Australia atau gamelan dari Indonesia. Namun, yang lebih penting, Oki ingin memastikan bahwa setiap nada yang ia mainkan adalah cerminan jati dirinya, bukan sekadar tontonan.



