Kabut Asap Palembang Cetak Rekor Baru: PM2.5 Tembus 903 µg/m³, Warga Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Konsentrasi partikel halus PM2.5 di Palembang mencapai puncak 903,6 µg/m³ pada Minggu dini hari, level tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini.
- Kualitas udara berbahaya ini berdampak pada kesehatan warga, termasuk seorang pengemudi ojek online yang meninggal setelah mengalami sesak napas.
- BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker dan mengurangi aktivitas luar ruangan, sementara karhutla masih berpotensi berlanjut.

Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, memburuk drastis pada Minggu (4/10) akibat kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Stasiun pemantauan PM2.5 Musi 2 milik BMKG mencatat lonjakan konsentrasi partikel halus hingga 903,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 05.00 WIB—angka tertinggi yang pernah terekam sepanjang tahun ini.
Data tersebut menempatkan udara Palembang dalam kategori berbahaya, jauh di atas ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 15 µg/m³ untuk paparan harian. Sejak pukul 02.00 WIB, level PM2.5 sudah menembus 358,7 µg/m³ dan terus melonjak hingga puncaknya tiga jam kemudian. Meski sempat menurun pada pukul 08.00 WIB menjadi 271,7 µg/m³, konsentrasi kembali naik ke level berbahaya pada sore hari, mencapai 495,6 µg/m³.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengonfirmasi bahwa kualitas udara masih berada di level berbahaya. "Angka tertinggi terjadi pada pukul 05.00 WIB, dan itu merupakan nilai terburuk sepanjang pemantauan tahun ini," ujarnya. Ia menambahkan bahwa fluktuasi konsentrasi PM2.5 dipengaruhi oleh arah angin dan intensitas karhutla di sekitar wilayah.
"Masker jangan sampai lupa dipakai karena tebalnya asap ini," ujar Ilham, warga Talang Jambe, yang merasakan mata perih saat berkendara di Jalan Soekarno Hatta.
Dampak kesehatan akibat paparan asap ini sudah memakan korban. Ardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online asal Jalan Mataram Ujung Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Keluarganya menduga kondisi tersebut diperparah oleh asap karhutla yang telah menyelimuti kota selama hampir dua bulan. Rita Yunita, istri almarhum, mengungkapkan bahwa suaminya memiliki riwayat asma dan sering batuk serta sesak sejak kabut asap datang.
Kabut asap ini tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga aktivitas harian. Jarak pandang di jalan raya menurun drastis, memaksa pengendara menyalakan lampu utama agar terlihat. Bau asap yang menyengat dan rasa perih di mata menjadi keluhan umum warga. Kondisi ini diperparah dengan minimnya angin dan curah hujan yang tidak mampu membersihkan partikel polutan dari udara.
Pemerintah daerah dan BMKG terus memantau perkembangan kualitas udara. Namun, upaya penanggulangan karhutla masih menjadi tantangan besar, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar. Tanpa penanganan serius, kabut asap diprediksi akan terus berlanjut hingga musim hujan tiba.
Pertanyaannya, sampai kapan warga Palembang harus menanggung risiko kesehatan akibat bencana ekologis tahunan ini? Perlu langkah konkret dari semua pihak untuk mencegah terulangnya krisis asap di masa depan.



