Gelombang Desakan Global: Petisi Tuntut Mundur Infantino dan Reformasi FIFA
Baca dalam 60 detik
- Jaringan penggemar sepak bola Eropa, Afrika, dan Amerika Utara meneken petisi daring yang mendesak mundurnya Gianni Infantino dari kursi presiden FIFA.
- Petisi ini muncul setelah FIFA diguncang wacana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang dinilai mengkhianati nilai sosial olahraga.
- Langkah ini berpotensi memicu krisis kepercayaan terhadap FIFA, dengan tuntutan transparansi dan tata kelola yang lebih akuntabel.

Jakarta, LyndHub โ Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA semakin menguat. Football Supporters Europe (FSE), jaringan penggemar nirlaba, secara resmi mendukung petisi publik yang menuntut mundurnya presiden FIFA tersebut. Petisi yang beredar di change.org ini juga didukung oleh Football Supporters Africa dan Independent Supporters Council (Amerika Utara), serta puluhan organisasi penggemar nasional dari berbagai negara.
Langkah ini bukan sekadar aksi simbolis. Petisi diluncurkan di tengah konferensi regional yang tengah mempertimbangkan mosi tidak percaya terhadap Infantino. Para pendukung petisi menilai, Infantino telah melampaui batas kewenangannya, terutama setelah ia mengusulkan penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. FSE, yang sebelumnya vokal menentang rencana tersebut, menegaskan bahwa sepak bola adalah "barang sosial" yang tidak seharusnya dieksploitasi untuk kepentingan segelintir investor.
Dalam pernyataan yang dirilis, petisi tersebut mengecam keras upaya Infantino. "Upaya memalukan oleh satu individuโPresiden FIFA sendiriโuntuk menjual Piala Dunia kepada investor swasta adalah pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan sepak bola," demikian bunyi petisi. Mereka menyerukan gerakan yang lebih luas untuk menghentikan penyalahgunaan jabatan oleh Infantino dan memulihkan kepercayaan pada institusi yang seharusnya melindungi dan mengembangkan sepak bola dunia.
Petisi ini juga menyoroti kegagalan sistem regulasi internal FIFA. "Sistem regulasi diri yang berlaku saat ini di FIFA telah berulang kali gagal memberikan akuntabilitas yang memadai," tulis petisi. Mereka mendesak adanya transparansi penuh dalam pengambilan keputusan besar serta mekanisme checks and balances untuk membatasi kekuasaan eksekutif. Para penggemar menilai, tanpa reformasi mendasar, FIFA akan terus menjadi lembaga yang rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia kerap menjadi sorotan dalam hal tata kelola olahraga. Kasus ini menjadi pengingat bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi olahraga, termasuk PSSI, adalah keniscayaan. Publik Indonesia tentu berharap agar reformasi serupa juga terjadi di tingkat domestik, mengingat sejarah panjang konflik kepentingan dan kurangnya transparansi dalam pengelolaan sepak bola nasional.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas petisi tersebut. Namun, tekanan yang terus menguat dari berbagai penjuru dunia menunjukkan bahwa masa depan kepemimpinan Infantino berada di ujung tanduk. Apakah langkah ini akan berujung pada perubahan nyata di tubuh FIFA, atau hanya menjadi catatan sejarah lain dalam konflik panjang antara penggemar dan penguasa sepak bola? Pertanyaan ini menggantung di tengah ketidakpastian yang melanda organisasi sepak bola tertinggi di dunia.



