AS-Kanada Hampir Sepakati Perjanjian Dagang, Trump Tunda Tarif 50 Persen
Baca dalam 60 detik
- Washington dan Ottawa mengisyaratkan kesepakatan dagang komprehensif tinggal selangkah lagi setelah Trump menunda pemberlakuan tarif 50 persen.
- Perundingan yang alot selama berminggu-minggu akhirnya menunjukkan titik terang, dengan kedua pihak saling memuji kemajuan signifikan.
- Kesepakatan ini berpotensi meredakan ketegangan dagang di kawasan dan memberi kepastian bagi rantai pasok global, termasuk Indonesia.

Washington dan Ottawa akhirnya menemukan titik temu setelah berminggu-minggu negosiasi dagang yang alot. Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan pemberlakuan tarif baru sebesar 50 persen untuk sejumlah barang asal Kanada, seiring kedua negara mengklaim telah mencapai kesepakatan yang tinggal menunggu finalisasi dokumen.
Trump menyatakan, "Kami telah mencapai kesepakatan dengan Kanada," namun masih tunduk pada penyelesaian administrasi. Perdana Menteri Kanada Mark Carney lebih hati-hati, menyebut kedua pihak "sedang bergerak menuju kesepakatan." Pernyataan ini muncul setelah Trump awalnya berencana memberlakukan tarif pada Rabu (19/8), tetapi memundurkannya tiga hari untuk memberi ruang negosiasi.
Di balik layar, Menteri Perdagangan Kanada Dominic LeBlanc dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bertemu lagi di Washington dan sepakat bahwa pembicaraan berjalan "kolaboratif menuju kesepakatan final." Greer optimistis perjanjian ini akan "memperkuat ekonomi Amerika Utara," sambil mengakui bahwa beberapa hambatan telah dihilangkan dan langkah berikutnya akan lebih solid.
Namun, Carney mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah sebelum dokumen final ditandatangani. Detail kesepakatan belum dipublikasikan, tetapi Trump menyebut perjanjian ini akan menguntungkan petani AS yang selama ini mengeluhkan akses terbatas ke pasar Kanada. Sebelumnya, Gedung Putih menuduh Kanada melakukan "perlakuan diskriminatif" terhadap produk alkohol, mobil, dan susu asal AS.
Bagi Kanada, kesepakatan ini menjadi krusial karena tarif Trump pada sektor otomotif, baja, aluminium, dan produk kehutanan telah memukul perekonomian mereka. Ottawa menjadikan keringanan bea masuk sebagai prioritas utama dalam negosiasi. Sejak Juli, Kanada sebenarnya ingin memperbarui perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara, tetapi Trump menolak dan menuntut perubahan substansial.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai negara dengan hubungan dagang erat dengan AS dan Kanada, dinamika tarif di kawasan dapat memengaruhi harga komoditas global dan arus investasi. Jika kesepakatan ini terwujud, stabilitas ekonomi Amerika Utara berpotensi mendorong permintaan terhadap produk ekspor Indonesia, seperti tekstil dan elektronik. Namun, jika negosiasi gagal, risiko perang dagang baru bisa memicu gejolak pasar keuangan global.
Para analis menilai bahwa keberhasilan kesepakatan ini akan menjadi ujian bagi pendekatan Trump yang kerap menggunakan tarif sebagai alat tekan. Di sisi lain, Carney perlu meyakinkan publik Kanada bahwa kesepakatan ini benar-benar melindungi kepentingan strategis negaranya. Pertanyaannya, akankah detail perjanjian yang belum diumumkan mampu memuaskan semua pihak, atau justru memicu kritik baru di dalam negeri masing-masing?



