AS Terapkan Tarif 50% untuk Produk Kanada, Perundingan Dagang Gagal Total
Baca dalam 60 detik
- Washington resmi memberlakukan bea masuk 50% untuk barang Kanada senilai US$20 miliar, memicu pembalasan serupa dari Ottawa.
- Kegagalan negosiasi ini mempertegas keretakan hubungan kedua negara dan berpotensi menggagalkan pembaruan perjanjian USMCA.
- Eskalasi perang dagang ini berisiko mengganggu rantai pasok global, termasuk bagi Indonesia yang bergantung pada impor gandum dan teknologi.

Washington akhirnya menarik pelatuk perang dagang. Pada Sabtu dini hari waktu setempat, Amerika Serikat resmi memberlakukan bea masuk 50 persen untuk sejumlah produk asal Kanada senilai sekitar US$20 miliar. Langkah ini diambil setelah perundingan dagang yang berlangsung tiga hari di Washington gagal mencapai kata sepakat, dengan kedua pihak saling menuding sebagai penyebab kebuntuan.
Kebijakan ini menyasar barang-barang seperti stik hoki kayu yang kini jarang digunakan, namun simbolisnya jauh lebih besar daripada dampak ekonominya. Nilai tersebut hanya mewakili sekitar 5 persen dari total ekspor Kanada ke AS. Meski begitu, eskalasi ini menandai meningkatnya ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Mark Carney, sekaligus mempersulit upaya pembaruan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (USMCA) yang mencakup Meksiko.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, langsung merespons dengan tegas. Dalam pernyataannya, ia mengumumkan penangguhan seluruh negosiasi dagang dan memerintahkan para perundingnya untuk kembali ke Ottawa. Carney menegaskan Kanada akan membalas tarif AS "dolar demi dolar". "Perubahan mendadak dalam proposal AS pada menit-menit terakhir tidak adil, tidak ekonomis, dan mempertanyakan keandalan kesepakatan apa pun," ujarnya. Sikap keras ini sejalan dengan mandat politik Carney yang terpilih tahun lalu dengan janji melawan tekanan Washington.
Sebelumnya, kedua pihak sempat dikabarkan hampir mencapai kesepakatan yang akan menurunkan tarif baja, aluminium, dan otomotif, serta membuka kembali pasar alkohol Amerika di toko-toko minuman Kanada. Namun, pada saat-saat akhir, Ottawa menolak menandatangani kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyayangkan keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai "peluang yang hilang" bagi Kanada untuk bermitra dengan ekonomi terbesar di G7. Sementara itu, seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa tawaran AS sebenarnya memberikan posisi tarif terbaik bagi Kanada dibandingkan eksportir besar lainnya, tetapi Kanada terus meminta konsesi tambahan, terutama untuk baja, aluminium, otomotif, dan kayu lunak.
Dampak dari tarif baru ini tidak hanya dirasakan oleh Kanada. Para pengamat perdagangan memperingatkan bahwa sektor-sektor yang sudah rentan, seperti industri kayu dan produk susu, berpotensi mengalami kerugian besar yang dapat memicu PHK dan penutupan usaha. Selain itu, kebuntuan ini juga membayangi masa depan USMCA yang akan memasuki proses peninjauan ulang. Bagi Indonesia, konflik dagang ini menjadi pengingat akan rapuhnya rantai pasok global. Sebagai negara yang mengimpor gandum dan berbagai produk teknologi dari Amerika Utara, fluktuasi tarif dapat berdampak pada harga pangan dan biaya produksi dalam negeri. Lebih jauh, ketidakpastian ini juga dapat mengalihkan arus investasi asing yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dengan tidak adanya jadwal perundingan lanjutan, ketegangan ini berpotensi berlarut-larut. Pertanyaannya, apakah kedua negara mampu menahan diri dari perang dagang yang lebih luas, atau justru akan terseret ke dalam siklus balas-membalas yang merugikan kedua belah pihak? Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal untuk memperkuat diversifikasi mitra dagang dan mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.



