Michelin Guide Singapura 2026: 1887 by Andre Langsung Raih Dua Bintang, Enam Restoran Baru Masuk Daftar
Baca dalam 60 detik
- Edisi 2026 Michelin Guide Singapura mencatat kebangkitan kancah kuliner dengan 45 restoran berbintang, termasuk debut gemilang 1887 by Andre yang langsung meraih dua bintang.
- Seroja naik peringkat dari satu ke dua bintang, sementara enam restoran baru masuk kategori satu bintang, menandakan diversifikasi dan dinamika baru dalam peta gastronomi Singapura.
- Perhelatan ini juga menjadi ajang penghargaan khusus, seperti Young Chef of the Year untuk Shusuke Kubota dari Loca Niru dan Green Star untuk Fiz serta Seroja, menegaskan tren keberlanjutan dan talenta muda.

Setelah tahun lalu hanya mencatat satu tambahan dan satu promosi, peta kuliner Singapura kembali bergairah. Michelin Guide Singapura 2026, yang diumumkan pada Selasa (4/8) di Raffles Ballroom, Raffles Sentosa, menganugerahkan bintang kepada 45 restoran, dengan enam pendatang baru di kategori satu bintang dan dua restoran yang langsung meraih dua bintang. Total 307 tempat makan kini tercatat dalam panduan tersebut, menandakan industri kuliner Negeri Singa sedang dalam fase ekspansi yang agresif.
Debut paling mencolok datang dari 1887 by Andre, restoran yang baru dibuka pada 31 Maret di Raffles Singapore. Dalam waktu kurang dari lima bulan, restoran tersebut langsung diganjar dua bintang, sekaligus meraih penghargaan perdana 'Opening of the Year'. Sementara itu, Seroja, yang sebelumnya satu bintang, berhasil naik peringkat menjadi dua bintang. Kepala koki Seroja, Kevin Wong, mengaku sebelum pengumuman ia berharap mendapat dua bintang, namun tetap rendah hati: "Akan menyenangkan, tapi saya datang dengan hati terbuka. Pada akhirnya, kami melakukan yang terbaik. Bintang tambahan tidak mengubah tanggung jawab kami untuk memasak makanan yang baik bagi tamu."
Kategori tiga bintang masih didominasi oleh restoran Eropa: Les Amis di Shaw Centre, Odette di National Gallery, dan Zen di Bukit Pasoh Road. Sementara itu, enam restoran baru yang meraih satu bintang adalah Tenshima di Millenia Walk, Jin Ting Wan di Marina Bay Sands, Cherry Garden by Chef Fei di Mandarin Oriental, Sushi Kimura+ di Conrad Singapore Orchard, Yong Fu di Suntec City, dan Loca Niru di House of Tan Yeok Nee. Kehadiran nama-nama baru ini menunjukkan bahwa selera pasar Singapura semakin beragam, dari hidangan Jepang hingga masakan Tionghoa klasik.
Loca Niru, yang menyajikan masakan Jepang kontemporer, tidak hanya meraih bintang pertamanya, tetapi juga menjadikan kepala kokinya, Shusuke Kubota (35 tahun), sebagai Young Chef of the Year. Kubota, yang mengaku tidak menyangka mendapat dua penghargaan sekaligus, menyatakan bahwa bintang Michelin adalah mimpinya sejak memulai karier. Ia bertekad untuk terus bekerja keras dan tetap rendah hati. Di sisi lain, Cherry Garden yang diawasi oleh koki Huang Jinghui, yang terkenal dengan restoran Jiang by Chef Fei di Guangzhou, menjadi bintang internasional pertamanya. Dengan nada bercanda, Huang berujar, "Bahasa Inggris saya tidak bagus, makanan saya enak," sebelum menambahkan bahwa tujuannya adalah membawa cita rasa Kanton otentik ke Singapura.
Penghargaan khusus lainnya jatuh kepada Maryjoy Lim, manajer umum Jag, yang meraih Service Award, dan Joe Yang, head sommelier Jin Ting Wan, yang memenangkan Sommelier Award. Yang, yang berasal dari Guangdong, Tiongkok, mengaku bangga bisa mempromosikan anggur dari kampung halamannya. "Banyak orang belum tahu bahwa Tiongkok memproduksi anggur, dan saya selalu ingin berbagi pengetahuan itu kepada para tamu," ujarnya. Sementara itu, Fiz di Tanjong Pagar dan Seroja kembali dianugerahi Green Star atas komitmen mereka terhadap praktik ramah lingkungan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagi industri kuliner tanah air. Singapura, yang kerap menjadi barometer tren gastronomi Asia Tenggara, menunjukkan bahwa investasi pada kualitas dan inovasi mampu mendatangkan pengakuan internasional. Restoran Indonesia, seperti yang berbasis di Jakarta atau Bali, dapat mengambil pelajaran dari strategi Singapura dalam membangun ekosistem kuliner yang mendukung talenta muda dan keberlanjutan. Selain itu, semakin banyaknya restoran Asia yang diakui Michelin dapat membuka peluang bagi chef Indonesia untuk berekspansi ke pasar regional.
Edisi 2026 ini juga menandai dekade ke-10 Michelin Guide Singapura sejak diluncurkan pada 2016, dengan jeda pada 2020 akibat pandemi. Para inspektur anonim menilai restoran berdasarkan lima kriteria: kualitas bahan, penguasaan teknik memasak, kepribadian chef dalam hidangan, harmoni rasa, dan konsistensi. Dari sisi keberlanjutan, 17 tempat makan berhasil mempertahankan posisi mereka di semua edisi, termasuk A Noodle Story dan Kok Sen. Pertanyaannya, akankah tren positif ini berlanjut dan menginspirasi lebih banyak restoran di kawasan untuk mengejar standar internasional? Atau justru memicu persaingan yang semakin ketat di antara destinasi kuliner Asia Tenggara?



