Mengapa Aurora Borealis Kini Terlihat di Langit Amerika Serikat Bagian Selatan
Baca dalam 60 detik
- Puncak siklus matahari ke-25 membuat aurora borealis terlihat hingga Florida dan Texas, fenomena yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
- Badai geomagnetik kuat pada Mei 2024 mencatat indeks Ap 271, tertinggi kedua sejak 1960, dan memicu aurora hingga Miami.
- Peluang menyaksikan aurora di lintang rendah masih terbuka hingga 2026 sebelum aktivitas matahari menurun menuju solar minimum sekitar 2031.

Warga Amerika Serikat di luar Alaska dan Kanada kini memiliki kesempatan langka menyaksikan aurora borealis dari halaman rumah mereka sendiri. Pemicunya adalah puncak siklus aktivitas matahari yang berlangsung sejak Oktober 2024, yang mendorong badai geomagnetik kuat ke arah ekuator dan memperluas jangkauan cahaya utara hingga ke negara bagian selatan seperti Florida dan Texas.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. NASA dan NOAA mengonfirmasi bahwa Matahari telah memasuki fase solar maximum untuk Siklus 25, fase puncak dalam siklus 11 tahunan. Menurut NOAA, intensitas aktivitas magnetik akibat bintik matahari diperkirakan bertahan setidaknya hingga 2026, sebelum perlahan menurun menuju solar minimum pada 2031–2032. Artinya, jendela pengamatan aurora di lintang rendah masih terbuka lebar saat ini.
Yang membedakan momen ini dari periode sebelumnya adalah frekuensi dan kekuatan badai geomagnetik. Pada Mei 2024, NASA mencatat badai geomagnetik terkuat dalam dua dekade, dipicu oleh sedikitnya tujuh coronal mass ejection (CME) dari flare matahari. Indeks Ap—ukuran aktivitas geomagnetik—mencapai 271 pada 11 Mei 2024, tertinggi kedua sepanjang sejarah pencatatan setelah 280 pada November 1960. Badai ini membuat aurora terlihat di hampir seluruh Amerika Serikat kontinental, termasuk Miami, Fort Lauderdale, dan Key West.
Mekanisme di balik aurora melibatkan interaksi partikel bermuatan dari matahari dengan medan magnet Bumi. Ketika CME menghantam magnetosfer, partikel energi tinggi terperangkap dan bergerak menuju kutub. Di ketinggian 80–600 km, tumbukan dengan atom oksigen dan nitrogen memicu emisi cahaya. Warna hijau berasal dari oksigen pada 75–110 mil, merah dari oksigen di atas 120 mil, sedangkan merah muda dan biru dari nitrogen pada ketinggian lebih rendah. Selama badai Mei 2024, pengamat di lintang rendah melaporkan warna merah dan ungu yang tidak biasa, indikasi energi partikel yang sangat tinggi.
Medan magnet Bumi berperan sebagai gerbang yang menentukan seberapa jauh aurora dapat turun. Dalam kondisi tenang, oval aurora hanya melingkupi Alaska dan Kanada utara. Namun, saat badai geomagnetik menguat, batas ekuator oval tersebut meluas ke selatan. Skala Kp 0–9 dari Universitas Alaska Fairbanks menjadi acuan: Kp 4–5 cukup untuk Minnesota bagian utara dan Montana, Kp 6–7 untuk Colorado dan Indiana, sementara Kp 7 ke atas membuka peluang hingga Texas dan Georgia. Pada Januari 2026, NOAA bahkan memperkirakan Kp mencapai 6, memungkinkan aurora terlihat di lebih dari selusin negara bagian.
“Kombinasi langit cerah dan bulan sabit pada Mei 2024 membuat aurora terlihat dari sebagian besar Amerika Serikat kontinental untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II,” catat NOAA dalam laporan resminya.
Bagi pengamat di Indonesia, fenomena ini tidak dapat disaksikan langsung karena posisi geografis yang terlalu dekat ekuator. Namun, dampak badai geomagnetik tetap relevan. Badai kuat dapat mengganggu sinyal satelit, komunikasi radio, dan navigasi GPS yang menjadi tulang punggung layanan digital di Indonesia. Operator satelit dan penyedia jaringan perlu memantau peringatan cuaca antariksa dari NOAA untuk mengantisipasi gangguan pada infrastruktur telekomunikasi.
Secara historis, aurora di lintang rendah bukan hal yang mustahil. Pada 1989, cahaya utara terlihat hingga Honduras, meski disertai gangguan jaringan listrik besar di Amerika Utara. Data menunjukkan bahwa peristiwa ekstrem semacam ini memiliki periode ulang puluhan tahun, dan solar maximum saat ini memampatkan peluang tersebut ke dalam beberapa tahun aktif. Artinya, meski jarang, aurora di lintang rendah bukanlah peristiwa sekali seumur hidup.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah aurora akan terlihat lagi di lintang rendah, melainkan seberapa siap infrastruktur global menghadapi badai geomagnetik yang menyertainya. Dengan aktivitas matahari yang diperkirakan menurun setelah 2026, jendela pengamatan dan kewaspadaan ini akan menyempit perlahan. Masyarakat di Amerika Serikat bagian selatan punya alasan kuat untuk sesekali menengadah ke langit utara—sebelum puncak siklus ini benar-benar berlalu.



