Final FIFA ASEAN Cup 2026: Nilai Pasar Timnas Indonesia Nyaris Dua Kali Lipat Thailand
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia dan Thailand akan bertemu di final FIFA ASEAN Cup 2026 pada Senin (5/10) di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
- Total nilai pasar skuad Indonesia mencapai Rp396,9 miliar, jauh melampaui Thailand yang hanya Rp165,13 miliar.
- Rivalitas panjang kedua tim mencatat Thailand lebih dominan dengan 37 kemenangan atas Indonesia dalam 78 pertemuan resmi.

Timnas Indonesia akan menghadapi Thailand di partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Laga ini mempertemukan dua tim terkuat di Asia Tenggara, dengan Indonesia melaju sebagai juara Grup A dengan tujuh poin, sedangkan Thailand mengunci juara Grup B dengan enam poin.
Menjelang duel tersebut, perbandingan nilai pasar skuad menjadi sorotan. Berdasarkan data yang dihimpun, total nilai pasar Timnas Indonesia mencapai Rp396,9 miliar, menempatkannya sebagai tim termahal di turnamen ini. Angka tersebut hampir dua setengah kali lipat dari nilai pasar skuad Thailand yang hanya Rp165,13 miliar.
Komposisi pemain abroad menjadi penyumbang utama tingginya nilai pasar Indonesia. Kevin Diks yang bermain di Eropa memiliki nilai pasar Rp86,91 miliar, disusul Emil Audero (Rp48,67 miliar), Calvin Verdonk (Rp43,45 miliar), Maarten Paes (Rp34,76 miliar), Dean James (Rp29,55 miliar), Justin Hubner (Rp17,38 miliar), dan Thom Haye (Rp15,64 miliar).
Di kubu Thailand, pemain dengan nilai pasar tertinggi adalah Nicholas Mickelson (Rp17,38 miliar), diikuti kapten Chanathip Songkrasin (Rp12,17 miliar) dan striker Supachai Chaided (Rp10,42 miliar). Menariknya, nilai pasar Thom Haye yang berlaga di kompetisi domestik Indonesia masih lebih tinggi dari Chanathip, menunjukkan kedalaman skuad Garuda saat ini.
Namun, nilai pasar Indonesia sejatinya bisa lebih tinggi lagi jika kapten Jay Idzes tidak absen karena cedera. Pemain dengan valuasi Rp243,34 miliar itu harus menepi, sehingga mengurangi kekuatan finansial skuad Merah Putih di atas kertas.
Rivalitas Indonesia dan Thailand bukan hal baru. Kedua tim telah bertemu 78 kali dalam pertandingan resmi senior sejak 31 Agustus 1957. Thailand masih lebih unggul dengan 37 kemenangan, sementara Indonesia meraih 25 kemenangan, dan 16 laga berakhir imbang. Data ini menunjukkan bahwa meski nilai pasar Indonesia lebih tinggi, catatan sejarah masih berpihak kepada Thailand.
"Laga final ini akan menjadi ujian mental dan taktik bagi kedua tim. Nilai pasar tidak selalu menjamin kemenangan, tetapi memberikan gambaran kualitas individu pemain," ujar seorang pengamat sepak bola nasional.
Bagi Indonesia, kemenangan di final akan menjadi prestasi besar sekaligus membuktikan bahwa investasi pada pemain diaspora dan pembinaan usia muda mulai menuai hasil. Sementara Thailand akan berusaha mempertahankan dominasi tradisionalnya di kawasan.
Pertanyaan besarnya: akankah keunggulan nilai pasar Timnas Indonesia berbanding lurus dengan hasil di lapangan, atau Thailand kembali menunjukkan bahwa sejarah dan pengalaman lebih menentukan? Jawabannya akan terungkap di Gelora Bung Karno malam nanti.



