LG Energy Banting Setir dari Baterai EV ke Penyimpanan Energi: Pasar AI Jadi Penyelamat?
Baca dalam 60 detik
- Produsen baterai asal Korea Selatan, LG Energy Solution, mengalihkan mayoritas pabriknya di Amerika Utara untuk memproduksi baterai penyimpanan energi (ESS) menyusul melonjaknya permintaan dari pusat data AI.
- Lima dari delapan pabrik LG Energy di kawasan tersebut akan memproduksi baterai ESS hingga akhir tahun ini, sebuah pergeseran yang dipicu oleh pertumbuhan pasar yang tak terduga.
- Meski permintaan penyimpanan energi diproyeksikan meningkat, konsultan Benchmark Mineral Intelligence menilai kapasitas tersebut belum cukup untuk menyerap kelebihan produksi yang semula ditujukan untuk kendaraan listrik.

Raksasa baterai asal Korea Selatan, LG Energy Solution, tengah mengubah haluan strategisnya secara drastis. Jika beberapa tahun lalu perusahaan ini berlomba memproduksi sel baterai untuk kendaraan listrik (EV), kini fokus utamanya beralih ke baterai penyimpanan energi (ESS). Pergeseran ini dipicu oleh ledakan permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pasokan listrik stabil dalam skala besar.
Robert Lee, presiden LG Energy untuk kawasan Amerika Utara, mengungkapkan bahwa sebagian besar pabrik perusahaannya di wilayah tersebut kini memproduksi atau bersiap memproduksi baterai ESS. Dari delapan pabrik yang ada, lima di antaranya ditargetkan memproduksi baterai untuk sistem penyimpanan energi pada akhir tahun ini. Langkah ini menjadi respons atas pertumbuhan pasar yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Keputusan ini merupakan buah dari kekecewaan industri otomotif terhadap realisasi ledakan EV di Amerika Serikat. Sebelumnya, puluhan miliar dolar telah digelontorkan untuk membangun pabrik baterai EV, namun permintaan tidak sesuai harapan. Alhasil, perusahaan baterai dan produsen mobil terpaksa mencari jalan keluar agar pabrik yang sudah terlanjur dibangun tidak menganggur.
Pabrik LG Energy di Lansing, Michigan, yang baru saja diresmikan, menjadi contoh nyata transformasi ini. Pabrik tersebut akan memproduksi sel baterai untuk utilitas dan juga untuk Tesla, yang dikenal sebagai pemimpin pasar ESS. Selain itu, pabrik ini juga akan memasok baterai untuk kendaraan listrik Toyota. Menariknya, peralihan ke baterai ESS tidak semudah membalikkan telapak tangan. LG Energy harus mengembangkan kimia baterai baru yang sebelumnya asing bagi mereka, yaitu lithium iron phosphate (LFP), sebuah pasar yang selama ini didominasi produsen China.
Baterai LFP memang memiliki kepadatan energi lebih rendah dibandingkan baterai berbasis nikel yang menjadi spesialisasi LG Energy. Konsekuensinya, jarak tempuh kendaraan listrik menjadi lebih pendek. Namun, LFP dinilai lebih aman dan tahan lama, menjadikannya pilihan ideal untuk menyimpan energi dalam jumlah besar dari pembangkit listrik. Peralihan ke ESS ini dianggap tepat waktu bagi perusahaan yang telah menginvestasikan dana besar untuk pabrik baterai EV, meski belum tentu mampu menyerap seluruh kelebihan kapasitas yang ada.
Menurut konsultan Benchmark Mineral Intelligence, permintaan baterai stasioner di Amerika Utara tahun ini diperkirakan mencapai 76 gigawatt-jam. Meski permintaan penyimpanan energi diprediksi hampir dua kali lipat dalam lima tahun ke depan menjadi 125 GWh, angka tersebut dinilai belum cukup untuk menutup kelebihan kapasitas yang semula dialokasikan untuk EV. Artinya, pergeseran ini hanyalah solusi sementara, bukan obat mujarab.
Di tengah fokus baru pada ESS, LG Energy tetap memproduksi baterai EV berbasis nikel. Pabrik joint venture dengan General Motors di Ohio, yang sempat tutup selama tujuh bulan, baru saja memulai kembali produksi sel baterai untuk kendaraan listrik GM. Robert Lee optimistis bahwa EV akan kembali menguasai pasar otomotif AS pada akhirnya. "EV akan kembali dan menjadi mayoritas kendaraan penumpang di AS," ujarnya. "Hanya masalah waktu."
Bagi Indonesia, pergeseran strategi LG Energy ini menjadi sinyal penting. Indonesia, yang tengah giat membangun ekosistem baterai EV dengan mengandalkan cadangan nikelnya, perlu mencermati dinamika pasar global. Jika permintaan EV melambat dan fokus bergeser ke ESS, maka investasi di sektor nikel untuk baterai EV mungkin perlu dikaji ulang. Di sisi lain, peluang untuk memasok bahan baku baterai LFP, seperti lithium dan besi fosfat, bisa menjadi alternatif. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menangkap peluang ini atau justru terjebak dalam ketidakpastian transisi energi global?



