Texas Instruments Rilis Chip Baterai yang Deteksi Kerusakan Sebelum Jadi Kebakaran
Baca dalam 60 detik
- Texas Instruments memperkenalkan chip BQ79826Z-Q1 yang mengintegrasikan spektroskopi impedansi elektrokimia untuk memantau kondisi sel baterai secara langsung.
- Teknologi ini menjawab kelemahan baterai LFP yang kurva tegangannya datar sehingga sulit membedakan penuaan permanen dan perubahan muatan sementara.
- Produksi massal ditargetkan akhir tahun ini, dengan sistem penyimpanan komersial pertama diperkirakan baru hadir pada 2027.

Texas Instruments (TI) resmi memperkenalkan chip manajemen baterai bernama BQ79826Z-Q1 yang diklaim mampu mendeteksi potensi kerusakan pada sel baterai penyimpanan skala jaringan listrik jauh sebelum muncul risiko kebakaran. Chip ini menjadi yang pertama mengintegrasikan teknologi electrochemical impedance spectroscopy (EIS) langsung ke dalam silikon, bukan sekadar mengandalkan pembacaan tegangan seperti sistem konvensional.
Langkah TI ini menyasar celah krusial dalam industri penyimpanan energi yang tengah tumbuh pesat. Selama ini, sistem manajemen baterai (BMS) umumnya hanya membaca tegangan dan suhu untuk memperkirakan kesehatan sel. Metode tersebut dinilai tidak cukup akurat, terutama untuk baterai lithium iron phosphate (LFP) yang banyak dipakai di instalasi penyimpanan stasioner. Henrik Mannesson, General Manager Grid Infrastructure and Power Delivery TI, menjelaskan bahwa kurva tegangan LFP cenderung datar di wilayah tengah, sehingga sulit membedakan apakah penurunan tegangan disebabkan penuaan permanen atau hanya perubahan status pengisian sementara.
Dengan EIS, chip ini mengirim sinyal bolak-balik berfrekuensi rendah ke setiap sel dan mengukur responsnya. Dari data itu, sistem dapat membangun model listrik yang presisi untuk memisahkan status pengisian dari degradasi kimia permanen, seperti pelapisan lithium atau perubahan komposisi elektrolit. "Kami bisa membedakan secara tepat antara state of charge dan degradasi kimia permanen," ujar Mannesson seperti dikutip ESS News.
Bagi produsen sistem penyimpanan, integrasi diagnostik ke dalam chip berarti pengurangan komponen tambahan, papan sirkuit yang lebih ringkas, dan biaya produksi yang lebih rendah. TI juga menekankan bahwa chip ini membantu mempercepat pengujian termal dan degradasi yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu. "Kami ingin memastikan pelanggan mendapatkan data akurat sebelum menjalankan uji termal dan degradasi multi-minggu," tambah Mannesson.
Pasar penyimpanan baterai skala jaringan memang sedang naik daun seiring meningkatnya penetrasi energi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga surya dan angin yang bersifat intermiten membutuhkan penyimpanan untuk menjaga stabilitas pasokan, terutama saat gangguan jaringan. Namun, insiden kebakaran pada instalasi baterai besar menjadi momok yang menghantui investor dan operator. Peningkatan keselamatan menjadi prasyarat utama agar proyek-proyek ini tetap bankable.
"Sistem besar ini dibiayai oleh dana pensiun dan infrastruktur yang mencari imbal hasil aman. Menyediakan data thermal runaway dan penuaan yang andal secara langsung meningkatkan kelayakan proyek," tegas Mannesson.
Konteks Indonesia sendiri sangat relevan. Pemerintah tengah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan penyimpanan energi untuk mendukung transisi energi. PLTS atap dan proyek penyimpanan baterai skala utilitas mulai bermunculan, meski masih terkendala biaya dan regulasi. Kehadiran chip dengan diagnostik presisi seperti ini dapat menjadi katalis untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap proyek penyimpanan di dalam negeri. Apalagi, Indonesia memiliki target bauran energi terbarukan 23% pada 2025 dan net zero emission 2060, yang mau tidak mau membutuhkan solusi penyimpanan yang aman dan ekonomis.
Meski demikian, adopsi teknologi ini tidak instan. TI baru menawarkan sampel awal, dan sistem komersial pertama diperkirakan baru hadir dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Tantangannya bukan hanya integrasi teknis, tetapi juga kesiapan rantai pasok dan regulasi keselamatan baterai di masing-masing negara. Pertanyaannya, akankah operator penyimpanan di Indonesia dan Asia Tenggara mampu memanfaatkan lompatan teknologi ini untuk mempercepat transisi energi, atau justru tertinggal karena biaya awal yang masih tinggi?



