Eric Trump Dukung Space-Eyes: Mantan Perwira Delta Force dan Bankir Top Masuk Jajaran Direksi
Baca dalam 60 detik
- Space-Eyes, perusahaan drone yang didukung Eric Trump, akan mengumumkan komposisi direksi baru pasca merger dengan McKinley Acquisition Corp.
- Langkah ini menegaskan ambisi perusahaan untuk menjadi pemain utama di industri pertahanan dan intelijen, dengan valuasi mencapai US$638 juta.
- Masuknya tokoh-tokoh berpengalaman di sektor militer dan keuangan diharapkan memperkuat kredibilitas perusahaan di mata investor dan pemerintah.

Space-Eyes, perusahaan rintisan teknologi drone yang berbasis di Miami dan didukung oleh Eric Trump, putra Presiden AS Donald Trump, akan mengumumkan susunan direksi baru yang mencakup mantan perwira tinggi militer dan eksekutif perbankan papan atas. Langkah ini diambil menjelang rencana perusahaan untuk melantai di bursa melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) McKinley Acquisition Corp pada kuartal keempat tahun ini.
Keputusan ini bukan sekadar formalitas korporat. Space-Eyes, yang selama ini berfokus pada riset dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk intelijen geospasial dan teknologi anti-drone, tengah bersiap melakukan ekspansi besar-besaran. Perusahaan yang baru mencatat pendapatan tahunan sekitar US$1 juta ini menargetkan pertumbuhan pesat seiring meningkatnya permintaan global akan sistem pertahanan otonom dan keamanan siber.
Dalam pernyataan resminya, Space-Eyes mengonfirmasi bahwa jajaran direksi publik akan diisi oleh Letnan Kolonel (Purn) Jim Reese, pendiri konsultan keamanan TigerSwan; Terry Meguid, mantan kepala perbankan investasi global Morgan Stanley; Harbir Singh, profesor manajemen dari Wharton School; serta Norm Christensen, pengusaha dirgantara. Keempat figur ini diharapkan membawa keahlian di bidang keamanan nasional, manufaktur pertahanan, merger dan akuisisi, serta tata kelola perusahaan.
Jatin Bains, pendiri dan CEO Space-Eyes, menegaskan bahwa komposisi direksi ini dirancang untuk membangun perusahaan teknologi pertahanan dan intelijen yang terdepan. "Kami sedang merakit dewan yang mencerminkan luasnya kapabilitas yang dibutuhkan untuk membangun perusahaan teknologi pertahanan dan intelijen terkemuka," ujarnya. Bains juga mengungkapkan bahwa Space-Eyes telah dipilih oleh US Space Force untuk mengembangkan algoritma pelacakan target, serta berpartisipasi dalam latihan militer seperti Valiant Shield di Guam dan Northern Edge di Alaska.
Kehadiran Eric Trump sebagai investor strategis menjadi sorotan tersendiri. Meski bukan anggota dewan, ia berperan aktif dalam memperkenalkan kandidat direksi potensial. Peter Wright, CEO McKinley Acquisition Corp, menilai Eric Trump membawa perspektif unik, terutama dalam hal risiko drone terhadap properti bernilai tinggi. "Dia memiliki lensa yang fenomenal dari perspektif itu, terlepas dari kenyataan bahwa ayahnya adalah presiden," kata Wright.
Kesepakatan merger ini menilai perusahaan gabungan mencapai US$638 juta, termasuk kas yang dimiliki SPAC, dengan nilai ekuitas operasional US$370 juta. Valuasi ini juga mencakup US$80 juta saham yang dapat diterbitkan jika target tertentu tercapai, serta US$12 juta dari investasi swasta tahap awal. Menariknya, valuasi ini lebih didasarkan pada proyeksi pertumbuhan permintaan sistem anti-drone dan perangkat lunak intelijen militer, bukan pada pendapatan eksisting yang masih tipis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Di tengah meningkatnya ancaman drone di kawasan, termasuk yang kerap mengganggu operasi militer dan keamanan, teknologi anti-drone menjadi kebutuhan mendesak. Beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia telah berinvestasi besar dalam sistem pertahanan drone. Indonesia, dengan luas wilayah dan kompleksitas geografisnya, juga membutuhkan teknologi serupa untuk mengamankan perbatasan dan instalasi vital. Kehadiran pemain baru seperti Space-Eyes di pasar global dapat menjadi alternatif pasokan teknologi, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan industri pertahanan dalam negeri.
Namun, perlu diingat bahwa valuasi yang tinggi tidak selalu menjamin kesuksesan jangka panjang. Banyak perusahaan teknologi yang melantai melalui SPAC justru mengalami koreksi tajam setelah euforia awal. Pertanyaannya, apakah Space-Eyes mampu membuktikan bahwa teknologi anti-drone dan intelijen geospasialnya benar-benar diminati pasar, atau hanya sekadar tren investasi yang didorong oleh nama besar? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah awal ini menunjukkan bahwa industri pertahanan siber dan drone semakin menarik minat investor global.



