Viral Penumpang Kelas Bisnis Pakai Gelas Anggur untuk Garuk Kepala, Etiket Penerbangan Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Seorang penumpang kelas bisnis dalam penerbangan dari Taiwan terekam menggunakan gelas minum untuk menggaruk kepalanya, memicu gelombang kritik di media sosial.
- Insiden ini menambah daftar panjang keluhan penumpang tentang perilaku yang dianggap melanggar batas kepatutan di kabin pesawat, dari kaki di jendela hingga kursi yang direbahkan berlebihan.
- Pakar etiket menilai tindakan tersebut tidak pantas dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang lain, sementara maskapai menghadapi tantangan menjaga standar perilaku di ruang publik terbatas.

Sebuah video yang memperlihatkan seorang penumpang kelas bisnis menggunakan gelas minum pesawat untuk menggaruk kepalanya telah menjadi viral di media sosial, memicu perdebatan tentang batas kepatutan perilaku di dalam kabin. Insiden tersebut terjadi pada penerbangan dari Taiwan pada 24 September lalu, ketika pria itu tampak menggosokkan bibir gelas ke kulit kepalanya yang gatal, sebuah aksi yang direkam oleh penumpang di belakangnya.
Saksi mata yang berada tepat di belakang pria tersebut mengaku merasa ngeri dan kehilangan selera makan. "Ini menjijikkan. Itu gelas, bukan sisir pijat," ujarnya, seperti dikutip dari laporan media. "Tidak ada yang mau makan ketombe Anda. Saya benar-benar mau muntah." Rekaman itu kemudian menyebar luas, memicu reaksi keras dari warganet yang menilai tindakan tersebut tidak higienis dan tidak menghormati penumpang lain.
Pakar etiket Diane Gottsman menegaskan bahwa menggunakan benda apa pun untuk menggaruk tubuh di tempat umum, terlebih di dalam pesawat yang penuh orang, adalah tindakan yang melanggar norma sosial. "Kapan pun Anda melihat seseorang menggaruk tubuhnya dengan suatu benda, atau bahkan menggaruk dengan jari di tempat umum, hal itu terlihat tidak elok dan agak mengganggu," kata Gottsman. Ia menambahkan bahwa kesopanan di ruang terbatas seperti kabin pesawat seharusnya menjadi perhatian utama setiap penumpang.
Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada Maret 2026, seorang penumpang dikritik karena menaikkan kakinya ke jendela pesawat selama penerbangan 4,5 jam. Kejadian itu dibagikan di Reddit oleh penumpang lain yang merasa terganggu. "Baru kali ini dalam lima tahun saya mengalami kejadian kaki berada di depan wajah saya. Padahal saya bepergian setiap bulan. Saya duduk di kelas satu, dan wanita ini menaruh kakinya di sandaran tangan kursi saya," tulisnya. Ia menambahkan bahwa wanita tersebut kemudian menaikkan kaki ke jendela, meskipun memakai kaus kaki.
Dalam konteks Indonesia, industri penerbangan nasional juga menghadapi tantangan serupa. Maskapai seperti Garuda Indonesia dan Lion Air telah menerapkan aturan ketat mengenai perilaku penumpang, termasuk larangan melepas alas kaki di kabin dan penggunaan fasilitas bersama. Namun, penegakan aturan sering kali bergantung pada awak kabin yang harus menegur secara halus. Budaya sopan santun dan menghormati privasi orang lain menjadi nilai yang dijunjung tinggi, sehingga tindakan seperti menggunakan gelas untuk menggaruk kepala dapat dianggap sangat tidak pantas dan berpotensi mencoreng citra maskapai.
Fenomena ini menyoroti perlunya kesadaran kolektif tentang etiket di ruang publik, terutama di penerbangan yang semakin terjangkau bagi berbagai kalangan. Maskapai mungkin perlu memperkuat kampanye kesopanan atau menambahkan pengingat dalam pengumuman pra-penerbangan. Di sisi lain, penumpang juga diharapkan lebih peka terhadap kenyamanan bersama. Apakah insiden seperti ini akan mendorong standar perilaku yang lebih jelas di industri penerbangan global, atau justru menjadi sekadar hiburan viral yang cepat dilupakan?



