Lobang Buaya: Ambisi Hanung Bramantyo yang Tenggelam dalam Terlalu Banyak Genre
Baca dalam 60 detik
- Film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo dinilai gagal menyatukan elemen fiksi, sejarah, horor, dan thriller dalam satu narasi yang koheren.
- Kelemahan paling mencolok terletak pada akurasi kostum militer dan penampilan fisik pemain yang tidak meyakinkan sebagai prajurit era 1960-an.
- Meski demikian, sinematografi Suadi Utama dan akting Khiva Iskak sebagai antagonis menjadi dua aspek yang menyelamatkan film ini dari keterpurukan total.

Hanung Bramantyo kembali dengan proyek ambisius bertajuk Lobang Buaya, sebuah film fiksi yang berlatar 309 hari sebelum tragedi berdarah 1965. Alih-alih menyajikan penelusuran sejarah yang tajam, sutradara yang dikenal lewat karya-karya bernuansa religi dan nasionalisme ini justru terjebak dalam pusaran genre yang saling bertabrakan selama 113 menit durasi tayang.
Film ini lahir dari obsesi Hanung yang tidak pernah terwujud: menggarap ulang Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) versi modern. Ketika proyek tersebut batal, ia bersama penulis skenario Haqi Ahmad memilih jalur fiksi dengan bungkus misteri, horor, dan thriller. Persoalannya, ketiga elemen itu tidak dirangkai dengan fondasi naratif yang solid, sehingga penonton dibiarkan menebak-nebak arah cerita sejak babak pertama.
Keputusan menempatkan dialog dengan diksi kontemporer di mulut karakter yang hidup pada 1964 menciptakan jarak antara film dan penontonnya. Alih-alih mendekatkan generasi muda pada sejarah, pilihan bahasa ini justru memperkuat kesan bahwa Lobang Buaya adalah produk zaman sekarang yang dipaksakan berpakaian masa lalu.
Catatan paling telak datang dari departemen kostum. Hagai Pakan, yang biasanya lihal dalam membangun karakter melalui busana, kali ini tampak kehabisan ide. Seragam angkatan bersenjata yang dikenakan para pemain tidak hanya berbeda dari arsip sejarah, tetapi juga jauh dari standar visual yang pernah dicapai film propaganda 1984. Warna hijau yang dipilih, model kancing, tanda pangkat, hingga nametag terlihat generik dan tidak meyakinkan.
Persoalan ini diperparah oleh penampilan Baskara Mahendra. Rambut yang panjangnya melewati kuping hingga gaya rambut yang mengembang di atas kepala sama sekali tidak mencerminkan disiplin militer. Standar potongan cepak sudah menjadi penanda universal prajurit sejak era Perang Dunia, dan ketiadaan detail ini menggerus kredibilitas karakter Soegeng sebagai perwira tinggi. Ditambah lagi, postur Baskara tidak menunjukkan jejak latihan fisik yang biasanya melekat pada seorang tentara.
Kritik terhadap aspek teknis ini bukan semata soal estetika, melainkan soal kepercayaan penonton. Ketika seorang aktor tidak mampu membawa aura militernya, seluruh bangunan cerita yang bergantung pada karakter tersebut ikut goyah.
Namun, tidak semua aspek film ini tenggelam. Khiva Iskak tampil memukau sebagai Suradi, antagonis dengan perkembangan karakter yang ekstrem. Ia mampu menghadirkan aura kegilaan psikopat yang membuat penonton merasakan ketegangan nyata di setiap adegan. Di balik kamera, Suadi Utama memperlihatkan kepiawaian dalam menangkap momen dramatis, memadukan lighting dan editing untuk memperkuat emosi yang dibawa para pemain.
Tim desainer produksi juga patut mendapat apresiasi atas kerja keras membangun set lokasi. Meski ada beberapa detail yang kurang tepat, seperti warna cat rumah Sukarya yang terkesan daur ulang dari film lain, upaya menghadirkan atmosfer Desa Lobang Buaya era 1960-an tetap terlihat.
Lobang Buaya menjadi cermin bagi perfilman sejarah Indonesia: ambisi besar tanpa disiplin riset yang memadai hanya akan menghasilkan karya yang setengah matang. Hanung memiliki visi, tetapi visi itu perlu diterjemahkan melalui keputusan kreatif yang logis dan konsisten. Pertanyaannya kini, apakah industri film nasional siap menempatkan akurasi detail sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap?



