Duplantis Kembali ke Jalur Kemenangan di Lausanne, Rekor Dunia Masih Menanti
Baca dalam 60 detik
- Atlet lompat galah Swedia, Armand Duplantis, menjuarai Diamond League Lausanne dengan lompatan 6,21 meter, mengalahkan rival utamanya dari Yunani.
- Setelah kekalahan mengejutkan di Stockholm dan cedera ringan di London, performa ini menjadi sinyal positif menjelang Kejuaraan Dunia Atletik Ultimate perdana di Budapest.
- Duplantis gagal memecahkan rekor dunianya sendiri (6,31 m) dalam dua percobaan di ketinggian 6,32 m, tetapi menunjukkan konsistensi dan daya saing yang kuat.

Armand Duplantis kembali menunjukkan dominasinya di cabang lompat galah dengan menjuarai Diamond League Lausanne, Kamis (20/8) waktu setempat. Atlet asal Swedia itu sukses melewati mistar setinggi 6,21 meter pada percobaan pertama, mengungguli pesaing terdekatnya, Emmanouil Karalis dari Yunani, yang harus puas di posisi kedua dengan lompatan 6,16 meter. Kemenangan ini menjadi jawaban atas performa kurang meyakinkan dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus modal berharga menjelang ajang Kejuaraan Dunia Atletik Ultimate yang akan digelar di Budapest bulan depan.
Laga di Place de la Navigation, kawasan Ouchy di tepi Danau Geneva, berlangsung sengit. Duplantis dan Karalis sama-sama berhasil menuntaskan ketinggian 6,16 meter, namun Duplantis lebih efisien dengan hanya membutuhkan satu percobaan. Karalis, yang tampil diiringi alunan musik 'Zorba's Dance' dan mendapat dukungan penuh penonton, baru berhasil pada percobaan kedua. Setelah itu, Duplantis langsung menaikkan mistar ke 6,21 meter dan langsung sukses, sementara Karalis dua kali gagal. Dengan satu kesempatan tersisa, Karalis mengambil langkah berani dengan menaikkan target ke 6,26 meter—angka yang akan menjadi rekor pribadinya—namun gagal. Duplantis, yang dikenal dekat dengan Karalis, langsung menghampiri dan memeluknya sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan rivalnya itu.
Kemenangan ini terasa istimewa bagi Duplantis. Pada Juni lalu, ia menelan kekalahan pertamanya dalam tiga tahun di Stockholm, yang mengakhiri rentetan 40 kemenangan beruntun. Kemudian, pada Juli, ia mundur dari London Diamond League karena cedera pangkal paha. Namun, di Lausanne, ia tampil penuh percaya diri. Bahkan, ia sempat mencoba memecahkan rekor dunianya sendiri yang berjarak 6,31 meter dengan mengajukan mistar ke ketinggian 6,32 meter. Dua kali percobaan dilakukannya, namun belum berhasil. Meski demikian, Duplantis mengaku puas dengan penampilannya. "Saya lelah, tapi saya merasa sangat baik. Kompetisi yang luar biasa, semua orang melompat dengan sangat baik, jadi saya merasa harus tampil maksimal. Saya senang bisa melompat tinggi," ujarnya sambil tertawa.
Bagi pecinta atletik Indonesia, performa Duplantis ini menarik untuk disimak, terutama karena lompat galah bukanlah cabang yang populer di tanah air. Namun, kehadiran atlet-atlet Asia Tenggara yang mulai merambah kancah internasional, seperti Ernest John Obiena dari Filipina yang kerap bersaing di level atas, menunjukkan bahwa lompat galah bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia. Jika Indonesia ingin berprestasi di cabang ini, pembinaan sejak dini dan fasilitas yang memadai menjadi kunci. Keberhasilan Duplantis yang konsisten memecahkan rekor—15 kali memecahkan rekor dunia—menjadi bukti bahwa dedikasi dan dukungan sistem yang baik mampu melahirkan juara dunia.
Duplantis, yang pekan lalu meraih gelar Eropa keempat berturut-turut di Birmingham, akan berusaha mengasah performanya lebih tajam lagi untuk Kejuaraan Dunia Atletik Ultimate yang akan digelar di Budapest pada September mendatang. Ajang tersebut akan menjadi panggung pertama bagi para atlet elite dunia untuk bersaing dalam format baru yang lebih ringkas dan menarik. Pertanyaannya, mampukah Duplantis kembali memecahkan rekor dunianya di Budapest? Atau justru Karalis yang akan mengejutkan dunia dengan lompatan di atas 6,30 meter? Yang jelas, persaingan lompat galah putra kini semakin seru dan layak dinantikan.
Suasana di Lausanne pun terasa istimewa. Penonton dapat menyaksikan aksi para atlet dari jarak sangat dekat, mengelilingi lintasan dan area pendaratan. Musik pop yang menggelegar menambah semarak, sementara para atlet melompat setinggi dua lantai gedung. Duplantis sendiri mengaku sangat menikmati venue tersebut. "Saya benar-benar suka melompat di sini, venue-nya luar biasa, kotanya luar biasa, semua orang yang datang luar biasa. Saya tidak sabar untuk kembali tahun depan," katanya. Dengan performa yang terus meningkat, Duplantis tampaknya akan menjadi favorit kuat di Budapest. Namun, kejutan selalu mungkin terjadi di dunia atletik. Siapa yang akan menggagalkan ambisinya? Kita tunggu saja.



