Keisuke Honda Resmi Gabung FC Jurong: Target Juara Liga Singapura dan Ambisi Besar di Baliknya
Baca dalam 60 detik
- Eks bintang AC Milan dan Timnas Jepang, Keisuke Honda, resmi diperkenalkan sebagai pemain anyar FC Jurong untuk musim 2026/27 Singapore Premier League.
- Kehadiran Honda bukan sekadar gimmick; manajemen klub menegaskan ingin menularkan mentalitas juara dan standar profesionalisme kelas dunia ke seluruh skuad.
- Di usia 39 tahun, Honda masih menyimpan mimpi menjadi pelatih kepala Timnas Jepang, dan petualangannya di Singapura dianggap sebagai batu loncatan strategis.

Mantan gelandang AC Milan dan Timnas Jepang, Keisuke Honda, resmi diperkenalkan sebagai pemain anyar FC Jurong dalam sebuah konferensi pers di Stadion Jurong East, Sabtu (22/8). Kedatangan pemain berusia 39 tahun itu langsung dibebani target tinggi: membawa klub yang sebelumnya bernama Albirex Niigata Singapura itu meraih gelar juara Singapore Premier League (SPL) musim 2026/27.
Honda, yang memiliki 98 penampilan dan 37 gol untuk Samurai Biru, mengaku motivasinya sederhana namun kuat. "Menjadi pemain adalah passion saya. Saya selalu ingin bermain dan menang di depan penonton. Ini peluang besar untuk menjadi juara," ujarnya di hadapan awak media. Ia juga menyebut keinginannya bergabung karena FC Jurong selama ini kerap kalah dari Lion City Sailors, dan ia menilai klub ini layak menjadi yang nomor satu di Singapura.
Ketua FC Jurong, Daisuke Korenaga, menegaskan bahwa perekrutan Honda bukan sekadar mencari nama besar. "Kami tidak membawanya hanya karena namanya. Yang kami butuhkan adalah pengalaman, mentalitas juara, profesionalisme, dan standar tingginya," kata Korenaga. Ia enggan membeberkan detail kontrak, tetapi menekankan bahwa proyek ini bukan hanya untuk satu musim. "Suatu hari Keisuke akan pergi, tetapi yang ingin kami tinggalkan adalah mentalitas dan standarnya," tambahnya.
Karier Honda terbilang gemilang: memulai di Nagoya Grampus Eight, lalu merambah Eropa bersama VVV-Venlo dan CSKA Moskow, sebelum tiga tahun membela AC Milan. Ia juga sempat bermain di Australia, Brasil, dan Portugal. Setelah gantung sepatu, Honda melatih Timnas Kamboja (2018โ2023) dan kini aktif sebagai investor startup melalui perusahaannya, X&KSK. Ia mengaku akan lebih banyak menghabiskan waktu di Singapura, dengan jadwal bolak-balik ke Jepang untuk urusan bisnis.
Bagi sepak bola Asia Tenggara, langkah Honda ini menarik diamati. Ia bukan sekadar pemain bintang yang menghabiskan karier di Eropa, tetapi juga figur yang paham sepak bola kawasan. Pengalamannya melatih Kamboja memberinya wawasan tentang perkembangan sepak bola ASEAN. Di sisi lain, kehadirannya di SPL bisa menjadi magnet bagi sponsor dan perhatian media, sekaligus meningkatkan level kompetisi liga yang kerap dipandang inferior dibanding liga-liga tetangga seperti Malaysia atau Thailand.
Konteks Indonesia: Fenomena pemain asing senior dengan reputasi global memang bukan hal baru di Asia Tenggara. Namun, langkah Honda berbeda karena ia datang dengan status pemain sekaligus investor. Ini bisa menjadi preseden bagi liga-liga lain, termasuk Liga 1 Indonesia, untuk menarik pemain-pemain papan atas yang masih memiliki ambi besar. Jika Honda sukses mengangkat performa FC Jurong, bukan tidak mungkin klub-klub Indonesia ikut berburu pemain bintang dengan model serupa.
"Saya ingin fokus ke FC Jurong musim ini. Setelah itu, saya terbuka pada peluang apa pun, terutama melatih tim nasional," ujar Honda, yang sejak lama dikaitkan dengan kursi pelatih Timnas Jepang.
Honda sendiri menegaskan bahwa tujuan jangka panjangnya tetap menjadi pelatih kepala Timnas Jepang. "Semua orang Jepang tahu saya ingin menjadi pelatih kepala, tetapi saya butuh pengalaman lebih," katanya. Dengan menjalani musim sebagai pemain di Singapura, ia berharap bisa menambah jam terbang dan wawasan, baik sebagai pemain maupun calon pelatih. Pertanyaannya, akankah langkah ini cukup untuk meyakinkan federasi sepak bola Jepang? Atau justru akan membuka peluang karier kepelatihan di kawasan Asia Tenggara?



