Franc Swiss Mulai Gantikan Yen sebagai Mata Uang Pendanaan Carry Trade
Baca dalam 60 detik
- Intervensi AS-Jepang untuk memperkuat yen mendorong investor beralih ke franc Swiss sebagai mata uang pendanaan alternatif.
- Franc melemah ke level terendah tahun ini terhadap euro, memberikan kelegaan bagi eksportir Swiss namun memicu kekhawatiran inflasi.
- Pergeseran ini dapat berlanjut jika Jepang terus menaikkan suku bunga, mengubah dinamika pasar valas global.

Intervensi langka Amerika Serikat dan Jepang untuk menopang yen mulai membawa konsekuensi tak terduga: melemahnya franc Swiss. Kondisi ini justru menjadi angin segar bagi perusahaan dan pembuat kebijakan di Swiss yang selama bertahun-tahun bergelut dengan kuatnya mata uang lokal mereka.
Meski sempat melunak, franc masih perkasa sekitar 12 persen terhadap euro dibanding lima tahun lalu. Keunggulan itu ditopang surplus transaksi berjalan yang persisten, fiskal yang sehat, inflasi rendah, serta aliran dana safe-haven. Namun, kekuatan tersebut membuat produk ekspor Swiss semakin mahal dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Baik yen maupun franc sama-sama dipengaruhi oleh carry trade, yakni praktik meminjam mata uang dengan suku bunga rendah untuk dibelikan aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain, seringkali pasar berkembang. Selama ini yen menjadi pilihan utama sebagai mata uang pendanaan, tetapi gejolak akibat intervensi membuat pelaku pasar mulai melirik franc.
Menurut Fredrik Repton, manajer portofolio senior di Neuberger Berman, pelaku pasar akan mulai memutar sebagian posisi pendanaan mereka. Ia mencontohkan pergerakan euro-franc sebagai indikator yang lebih relevan untuk membaca arah pasar saat ini.
Data menunjukkan franc berada di kisaran 0,9385 per euro, terlemah dalam setahun terakhir, setelah melemah sekitar 4 persen dari puncak 11 tahun di 0,9 pada Maret. Terhadap dolar AS, franc juga turun hampir 7 persen dari level tertinggi Januari. Rabobank bahkan merevisi target euro-franc 9-12 bulan menjadi 0,95 dari sebelumnya 0,94, mengindikasikan ekspektasi pelemahan lebih lanjut.
Carry trade memang sedang dalam performa terbaiknya dalam beberapa tahun, didukung volatilitas rendah. Namun, ketika mata uang mulai berfluktuasi tajam, keuntungan kecil dari selisih suku bunga bisa tergerus. Analis kesulitan mengukur besaran carry trade, tetapi posisi shortโtaruhan terhadap pelemahan asetโmenjadi proksi yang baik. Intervensi terakhir telah memicu pelepasan posisi short yen, mendekatkan jumlahnya dengan franc.
Chris Turner, kepala pasar global ING, menilai butuh banyak dorongan untuk menggeser yen dari posisinya sebagai mata uang pendanaan utama. Namun, risiko intervensi hanyalah salah satu faktor yang membuat investor berpikir dua kali. Ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang dan spekulasi bahwa Dana Pensiun Pemerintah Jepang akan mengalihkan alokasi ke aset domestik turut mengubah dinamika yen.
Dengan suku bunga yang ditahan rendah oleh Bank Nasional Swiss (SNB), franc menjadi alternatif yang jelas. Adarsh Sinha, kepala strategi G10 FX Bank of America, menegaskan bahwa selain suku bunga yang lebih rendah, volatilitas franc juga lebih rendah dibanding yen. BofA merekomendasikan jual franc terhadap yen dengan target 190 yen per franc, dari posisi saat ini 196 yen.
Pelemahan franc akibat pergeseran ini tentu disambut baik oleh SNB yang selama ini menyatakan siap intervensi untuk melemahkan mata uangnya. Repton mengaku tidak lagi sepesimistis dua bulan lalu, meski tetap tidak menyukai franc. Sementara Turner melihat pergeseran ini masih tahap awal, tetapi sangat mungkin terjadi. "Jepang ingin yen lebih kuat, Swiss ingin franc lebih lemah, jadi ini masuk akal," ujarnya.
Bagi Indonesia, pergeseran ini patut dicermati. Pelemahan franc dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah melalui penguatan dolar AS, mengingat franc dan yen sering menjadi indikator sentimen risiko global. Selain itu, pelaku pasar Indonesia yang aktif dalam carry trade rupiah perlu mewaspadai potensi peningkatan volatilitas di pasar valas global. Pertanyaannya, akankah Bank Indonesia ikut menyesuaikan kebijakan moneternya untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari dinamika mata uang global ini?



