Pogacar Incar Vuelta demi Lengkapi Trilogi Grand Tour
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar kembali ke Vuelta a Espana setelah enam tahun, dengan misi memenangkan satu-satunya Grand Tour yang belum ia taklukkan.
- Jika sukses, ia akan menjadi pembalap kesembilan sepanjang sejarah yang meraih gelar di tiga ajang paling prestisius dalam balap sepeda.
- Jadwal padat pasca-Tour de France membuatnya harus pandai membagi tenaga, mengingat Kejuaraan Dunia dan balapan klasik masih menanti.

Tadej Pogacar memasuki Vuelta a Espana 2025 dengan satu misi yang belum pernah tercapai sepanjang kariernya: menaklukkan satu-satunya Grand Tour yang masih luput dari daftar juaranya. Pebalap Slovenia berusia 27 tahun itu akan memulai petualangan di ajang yang berlangsung 22 Agustus hingga 13 September, dengan start perdana di Monaco.
Keikutsertaan Pogacar kali ini terasa istimewa karena ia datang langsung setelah memenangkan Tour de France untuk kelima kalinya secara beruntun pada Juli lalu. Sebelumnya, ia juga sudah mengunci gelar Giro d'Italia pada 2024. Jika berhasil menjuarai Vuelta, ia akan bergabung dalam klub elite sembilan pembalap yang pernah memenangkan ketiga Grand Tour sepanjang sejarah balap sepeda.
Ambisi itu bukan sekadar pelengkap statistik. Dalam konferensi pers jelang balapan, Pogacar menyebut Vuelta sebagai "mimpi besar" yang sudah lama ia idamkan. "Ini adalah satu-satunya target yang hilang dari karier saya. Saya akan memberikan segalanya untuk mencoba menang," ujarnya, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Namun, perjalanan menuju podium tertinggi tidak akan mudah. Pogacar sadar betul bahwa ia tidak bisa menghabiskan seluruh energinya di Vuelta, karena masih ada Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Eropa, dan Il Lombardia yang menanti dalam beberapa pekan setelahnya. "Saya tidak boleh mengakhiri balapan ini dalam kondisi hancur. Saya harus balap dengan cerdas dan melihat bagaimana pendekatan di beberapa etape awal," tambah pembalap UAE Team Emirates-XRG itu.
Ini merupakan penampilan kedua Pogacar di Vuelta setelah debutnya pada 2019, saat ia masih berusia 20 tahun dan langsung finis ketiga. Kini, dengan pengalaman dan kedewasaan balap yang jauh lebih matang, ia dianggap sebagai favorit kuat. Namun, persaingan diprediksi ketat, terutama dengan kehadiran pebalap seperti Primoz Roglic yang juga mengincar gelar keempat di ajang ini.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, Vuelta tahun ini menjadi tontonan menarik karena menyajikan duel generasi antara Pogacar dan Roglic, dua nama yang kerap menghiasi layar kaca saat musim balap Eropa berlangsung. Meski belum ada pembalap Indonesia yang tampil di level ini, antusiasme publik tanah air terhadap ajang Grand Tour terus tumbuh, seiring dengan menjamurnya komunitas penggemar dan tayangan langsung di berbagai platform.
Pogacar sendiri mengaku sudah cukup pulih setelah Tour de France, dan ia merasa nyaman karena rute awal balapan kali ini dekat dengan kampung halamannya. "Waktu pemulihan memang singkat, tapi saya punya cukup waktu. Dan ini dimulai dekat rumah," katanya. Pernyataan itu menegaskan kesiapannya untuk tampil maksimal sejak etape pertama.
Pertanyaannya sekarang, akankah Pogacar mampu mengelola ritme balapnya dengan sempurna di tengah padatnya kalender? Atau justru ambisi besarnya di Vuelta akan mengorbankan performanya di ajang-ajang berikutnya? Jawabannya akan mulai terlihat saat pebalap-pebalap melaju di tanjakan-tanjakan keras Spanyol dalam beberapa pekan ke depan.



