Le Court Rebut Kaus Hijau Tour of Britain Women Usai Menangi Etape Great Orme
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Mauritius, Kim Le Court, merebut kaus pemimpin setelah menjuarai etape ketiga dengan akselerasi di tanjakan akhir Great Orme.
- Kemenangan ini menjadi penebusan atas kecelakaan tahun lalu yang memaksanya mundur, sekaligus menggeser sprinter Belanda Lorena Wiebes dari puncak klasemen.
- Balapan berlangsung di tengah sorotan keamanan pasca kematian Fin Tarling, dan etape berikutnya yang menantang akan menguji konsistensi Le Court.

Pembalap asal Mauritius, Kim Le Court, tampil sebagai penguasa baru Tour of Britain Women setelah memenangi etape ketiga yang berakhir di tanjakan legendaris Great Orme, Llandudno, Wales Utara. Kemenangan ini sekaligus mengantarnya mengenakan kaus hijau pemimpin klasemen umum, menggusur sprinter andalan Belanda, Lorena Wiebes.
Le Court, yang membela tim AG Insurance-Soudal, melesat dari rombongan utama sekitar tiga kilometer menjelang finis. Pada rute sepanjang 104,7 kilometer yang dimulai dari Mold, ia sukses menjaga keunggulan hingga garis akhir. Ia finis 13 detik di depan Liane Lippert dari Jerman (Movistar), sementara Caroline Andersson dari Swedia (Liv Alula Jayco) menguntit di posisi ketiga dengan selisih tambahan tujuh detik.
Hasil ini mengubah peta persaingan. Le Court kini memimpin klasemen umum dengan keunggulan 26 detik atas Lippert, sementara Wiebes turun ke peringkat ketiga dengan defisit 35 detik. Bagi Le Court, momen ini terasa istimewa. Musim lalu ia sempat memegang kaus pemimpin sejak etape pertama, namun kecelakaan berat di tengah hujan pada etape kedua memaksanya tersingkir. Kini, dalam kondisi kering, ia menunjukkan kapasitasnya sebagai pendaki ulung.
"Kami tidak boleh terlalu percaya diri," ujar Le Court, mengingat pengalaman pahitnya. "Tahun lalu saya memakai kaus hijau di hari pertama, lalu jatuh di hari kedua. Jadi kami akan tetap rendah hati dan berjuang sampai akhir." Pernyataan ini menegaskan bahwa balapan masih panjang dan segalanya bisa berubah.
Wiebes, yang mendominasi dua etape pembuka dengan kecepatan sprinter kelas dunia, akhirnya kehilangan takhta. Ia juga harus merelakan kaus merah klasemen poin kepada Le Court. Meski demikian, penampilannya di tanjakan Great Orme patut diacungi jempolโia finis hanya 42 detik di belakang Le Court, sebuah hasil yang mungkin melebihi ekspektasi banyak pihak.
Di sisi lain, balapan kali ini berlangsung di bawah bayang-bayang duka. Hanya sepekan setelah kematian Fin Tarling, pebalap muda Wales berusia 19 tahun yang tertabrak van saat Volta a Portugal, isu keselamatan menjadi sorotan utama. Tarling adalah adik dari Josh Tarling, yang akan turun di Vuelta a Espana mulai Sabtu. Kejadian ini memicu diskusi luas tentang risiko balapan kecil dan standar helm yang lebih baik.
Kekhawatiran serupa juga disuarakan peserta. Maeve Plouffe dari tim O'Shea Red Chilli menulis di media sosial bahwa ia nyaris tertabrak mobil umum di sebuah bundaran pada etape pertama. Namun, ia tetap mengapresiasi organisasi balapan secara keseluruhan. Kritik dan pujian berbaur, mencerminkan tensi yang menyelimuti ajang ini.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Meski Tour of Britain Women tidak melibatkan pebalap Indonesia, isu keselamatan dan profesionalisme penyelenggaraan relevan dengan perkembangan olahraga sepeda tanah air yang mulai menggeliat. Kejuaraan nasional dan event internasional yang digelar di Indonesia perlu belajar dari insiden semacam ini untuk memastikan standar keamanan yang ketat.
Etape keempat yang akan digelar Sabtu menjanjikan tantangan berbeda: rute bergelombang sepanjang 138,3 kilometer menuju Hay on Wye di perbatasan Wales-Inggris. Jika para sprinter mampu melewati tanjakan-tanjakan awal, finis cepat bisa terjadi. Namun, jika medan berbukit berbicara, peluang Le Court untuk memperlebar jarak semakin terbuka.
Pertanyaannya, akankah Le Court mampu mempertahankan kaus hijau hingga akhir? Atau akankah Wiebes bangkit di etape yang lebih datar? Satu hal yang pasti: persaingan di Tour of Britain Women tahun ini masih menyimpan banyak drama.



