Millie Bobby Brown: Anjing Poodle Winnie, Terapis Pribadi yang Meredakan Serangan Panik
Baca dalam 60 detik
- Aktris Millie Bobby Brown mengandalkan poodle miniatur bernama Winnie untuk meredakan serangan panik lewat terapi tekanan dalam.
- Winnie, yang diadopsi pada 2020, kini juga berperan sebagai 'kakak' yang sabar bagi bayi perempuan Brown dan Jake Bongiovi.
- Kisah ini menyoroti potensi hewan peliharaan sebagai pendukung kesehatan mental, tren yang juga mulai diminati di Indonesia.

Bintang Stranger Things, Millie Bobby Brown, menemukan penawar kecemasan yang tak lazim: seekor poodle miniatur bernama Winnie. Anjing yang diadopsinya pada 2020 itu dilatih melakukan terapi tekanan dalam (deep-pressure therapy), sebuah metode yang membuatnya menaruh kaki di dada sang aktris saat serangan panik datang. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Vogue, Brown menyebut Winnie sebagai "jenius kecil" yang mengubah hidupnya.
Winnie bukan sekadar hewan peliharaan biasa. Ia adalah bagian dari terapi kesehatan mental yang dijalani Brown, yang selama ini terbuka tentang perjuangannya melawan kecemasan. "Saya mendapatkannya untuk membantu saya dengan kecemasan, dan dia benar-benar mengubah hidup saya," ujar Brown. Metode tekanan dalam yang dikuasai Winnie memang dikenal dalam dunia terapi sebagai cara menenangkan sistem saraf, mirip dengan pelukan hangat atau penggunaan selimut berbobot.
Kehadiran Winnie kian berarti setelah Brown dan suaminya, Jake Bongiovi, menyambut anak pertama mereka yang kini berusia 12 bulan. Brown memuji Winnie yang berperan sebagai "kakak" yang sabar bagi sang buah hati. "Dia melakukan pekerjaan yang sangat baik sebagai kakak perempuan. Dia sangat sabar," kata Brown. Meski begitu, di balik keharmonisan itu, ada cerita tentang masa sulit ketika Winnie harus beradaptasi dengan kehadiran bayi di rumah.
Dalam wawancara di The Tonight Show pada Desember lalu, Brown mengungkapkan bahwa Winnie sempat mengalami "pukulan ego" saat bayi hadir. "Saya pikir dia tidak mengerti. Dia belum mengakui kehadirannya, tetapi anak saya sekarang sudah sepenuhnya menyadari bahwa dia adalah hewan," tutur Brown. Winnie bahkan sempat bersikap "power play" dengan bayi, seperti mengabaikannya atau mencuri mainan mandi. "Dia seperti berkata, 'Aku akan mengabaikanmu sampai kamu menghilang,'" kelakar Brown.
Di luar perannya sebagai terapis dan kakak, Winnie juga punya sisi unik yang membuatnya semakin dekat dengan Brown. Sang aktris percaya bahwa mereka berdua adalah "jiwa yang kembar". "Dia tidak mau berjalan di atas jeruji besi. Di New York City, dia tidak akan berjalan di atas jeruji sama sekali. Lucunya, saya juga tidak suka berjalan di atas jeruji. Jika saya berjalan di lima jeruji sekaligus, saya harus mengucapkan kata 'toast'," ungkap Brown. Keunikan ini membuat ikatan mereka terasa istimewa, seolah Winnie memahami kebiasaan sang majikan secara naluriah.
Kisah Brown dan Winnie menyoroti peran hewan peliharaan dalam mendukung kesehatan mental, sebuah tren yang juga mulai mengemuka di Indonesia. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa, terapi dengan bantuan hewan (pet therapy) mulai dilirik sebagai alternatif pendamping pengobatan konvensional. Meski belum sepopuler di negara Barat, beberapa komunitas pecinta hewan di Jakarta dan kota besar lainnya mulai mengadopsi praktik serupa, terutama untuk membantu anak-anak dengan gangguan kecemasan atau autisme.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa terapi hewan bukanlah pengganti pengobatan medis. "Hewan peliharaan bisa menjadi pendamping emosional yang luar biasa, tetapi untuk gangguan kecemasan yang serius, tetap diperlukan penanganan profesional," kata seorang psikolog klinis di Jakarta. Kisah Brown setidaknya membuka ruang diskusi tentang bagaimana hewan dapat menjadi bagian dari solusi kesehatan mental, meski tetap perlu diimbangi dengan pendekatan ilmiah.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya tentang bagaimana Winnie membantu Brown, tetapi juga sejauh mana masyarakat Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa. Apakah terapi dengan hewan akan menjadi tren baru di tengah meningkatnya kesadaran kesehatan mental? Atau justru tetap menjadi cerita personal yang menginspirasi tanpa diikuti kebijakan yang mendukung? Hanya waktu yang akan menjawab.



