Strait of Hormuz Kembali Memanas: Tanker Diserang, Iran Ajukan Syarat Baru
Baca dalam 60 detik
- Dua kapal tanker menjadi sasaran proyektil misterius di perairan Oman dan Strait of Hormuz akhir pekan lalu, menambah daftar panjang serangan terhadap pelayaran internasional.
- Iran menegaskan jalur pelayaran strategis itu tidak akan dibuka kembali sebelum tujuh tuntutannya berdasarkan Islamabad Memorandum dipenuhi, termasuk penghentian blokade laut AS.
- Serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi oleh Houthi memperlebar konflik, sementara harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$100 per barel.

Dua kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di perairan dekat Oman dan Strait of Hormuz pada akhir pekan, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO). Insiden ini memperpanjang rentetan serangan terhadap kapal dagang di jalur pelayaran yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Serangan pertama terjadi Sabtu terhadap tanker minyak mentah sekitar empat mil laut di timur Oman, sementara insiden kedua pada Minggu merusak ruang mesin sebuah tanker di Strait of Hormuz.
Ketegangan di kawasan itu kembali mencuat setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Strait of Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tujuh syarat Iran dipenuhi. Pernyataan itu merujuk pada Islamabad Memorandum of Understanding, kesepakatan sementara yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Juni lalu. Syarat-syarat tersebut mencakup penghentian apa yang disebut Iran sebagai "tindakan agresi" AS, berakhirnya blokade laut terhadap pelabuhan Iran, penghentian perang ekonomi, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan. Sementara itu, AS tetap menuntut Iran membongkar program senjata nuklirnya.
Di sisi lain, konflik merembet ke infrastruktur energi Arab Saudi. Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang fasilitas milik raksasa minyak Aramco di Riyadh dengan rudal balistik dan drone pada Sabtu. Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi Saudi di Sanaa dan provinsi lain di Yaman. Otoritas Saudi belum memberikan komentar resmi, dan Aramco tidak segera menanggapi permintaan konfirmasi. Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi eskalasi terbaru di front kedua perang Iran.
Pasar energi merespons cepat. Pengiriman kelompok tempur kapal induk ketiga AS ke Timur Tengah pekan lalu mendorong harga minyak naik, meski kemudian sedikit turun setelah negara-negara G7 mengumumkan pelepasan stok diesel dan minyak mentah untuk meredam tekanan konsumen. Brent crude berakhir turun tipis 6 sen ke US$102,25 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) anjlok US$1,76 ke US$91,11 per barel. Meski demikian, harga masih berada di level yang cukup tinggi untuk memicu kekhawatiran inflasi global dan menaikkan biaya pinjaman pemerintah.
"Situasinya sangat dinamis dan volatil. Bagi saya, ini bukan pertanyaan apakah konflik akan kembali memanas, melainkan kapan," ujar Bader Al-Saif, pendiri Al-Saif Consulting, kepada CNBC.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara neto impor minyak, kenaikan harga Brent dan WTI akan langsung menekan defisit neraca perdagangan dan memperlebar subsidi energi. Pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga BBM nonsubsidi serta biaya logistik yang dapat merambat ke inflasi pangan. Selain itu, sekitar 60% kebutuhan minyak mentah Indonesia dipasok dari luar negeri, sehingga ketegangan di Strait of Hormuz berpotensi mengganggu jadwal pengiriman dan menaikkan premi asuransi pelayaran.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata yang rapuh akan bertahan atau kembali pecah menjadi perang terbuka. Dengan tiga kelompok tempur kapal induk AS di kawasan dan Iran yang bersikeras pada syaratnya, ruang diplomasi semakin sempit. Investor dan pembuat kebijakan di Asia, termasuk Indonesia, perlu bersiap menghadapi skenario harga minyak di atas US$100 per barel dalam jangka panjang.



