Pilpres Brasil: Lula Hadapi Flávio Bolsonaro, Pertaruhan Arah Politik Amerika Latin
Baca dalam 60 detik
- Brasil menggelar putaran pertama pilpres pada Minggu (4/10) dengan petahana Luiz Inácio Lula da Silva bersaing ketat melawan senator sayap kanan Flávio Bolsonaro.
- Hasil pemilu ini tidak hanya menentukan masa depan Brasil, tetapi juga keseimbangan geopolitik Amerika Latin yang tengah bergeser ke kanan.
- Jika tidak ada kandidat yang meraih lebih dari 50% suara, putaran kedua akan digelar pada 25 Oktober mendatang.

Brasil menggelar pemilihan presiden putaran pertama pada Minggu (4/10) dalam kontestasi yang mempertemukan Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva dengan Senator Flávio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro yang tengah menjalani hukuman 27 tahun penjara. Pemungutan suara ini menjadi salah satu yang paling terpolarisasi dalam sejarah Brasil modern dan berpotensi mengubah lanskap politik Amerika Latin secara keseluruhan.
Lula, 80 tahun, mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat yang tidak berurutan. Ia memposisikan diri sebagai salah satu pemimpin regional yang masih berani menolak tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Baru-baru ini, Lula menuduh Trump berupaya mengintervensi pemilu Brasil demi menguntungkan kubu Bolsonaro. Sementara itu, Flávio Bolsonaro, 45 tahun, secara terbuka memuji Trump dan berjanji akan bergabung dengan koalisi anti-kartel narkoba yang dipimpin AS—sebuah koalisi yang telah menewaskan puluhan orang dalam serangan udara dan operasi militer di kawasan.
Posisi Brasil sebagai salah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang masih diperintah kubu kiri menjadi taruhan besar. Gelombang kemenangan elektoral sayap kanan dan kanan ekstrem di berbagai negara tetangga, ditambah pengambilalihan Venezuela oleh AS setelah penangkapan Nicolás Maduro, menempatkan Brasil sebagai benteng terakhir orientasi politik yang berbeda di kawasan. Kemenangan Flávio akan mempercepat pergeseran geopolitik Amerika Latin ke orbit Washington.
Meski diwarnai sejumlah skandal, Flávio tetap kompetitif. Rekaman yang beredar menunjukkan ia meminta dana US$26,8 juta kepada seorang bankir yang dituduh korupsi untuk membiayai film tentang ayahnya. Spekulasi bahwa ia berencana mencabut status santo pelindung Brasil yang sangat dihormati juga sempat mencuat. Namun, menurut sejumlah analis, daya tariknya terutama berasal dari transfer langsung basis pemilih ayahnya dan sentimen anti-Lula yang masih kuat. Tingkat penolakan terhadap Lula tetap tinggi meskipun indikator sosial dan ekonomi menunjukkan perbaikan.
Kampanye Lula sendiri tidak lepas dari masalah. Tuduhan korupsi yang masih dalam penyelidikan melibatkan putranya dan mantan ajudan, serta skandal yang melibatkan hakim agung, turut memanaskan sentimen anti-sistem. Meski tidak terkait langsung dengan Lula, isu-isu ini dianggap memperkuat suara anti-petahana.
"Pilihan pertama saya sebenarnya Jair Bolsonaro, tapi karena dia ditahan rumah dan tidak ada kandidat kanan lain yang cukup kuat melawan presiden saat ini, saya pilih Flávio," ujar Claudinei Ferreira Viana, 45 tahun, manajer bengkel di Pinhais, Paraná.
Di sisi lain, pemilih Lula seperti AMC, 40 tahun, yang meminta identitasnya disamarkan karena takut pembalasan dari pemerintah konservatif lokal di pedalaman Amazonas, tetap setia pada petahana. "Saya memilih Lula karena banyak program yang dia ciptakan untuk mendukung kelompok paling rentan. Jair Bolsonaro melemahkan perlindungan bagi masyarakat adat, dan semua yang telah dilakukan Lula untuk memperkuat perlindungan itu dan menjaga Amazon akan terancam serius jika putranya berkuasa," katanya.
Pemilu ini juga menjadi cermin bagi Indonesia. Sebagai sesama negara demokrasi besar dengan populasi dan sumber daya alam melimpah, Brasil dan Indonesia sama-sama menghadapi tekanan geopolitik dari kekuatan besar, terutama AS dan Tiongkok. Arah kebijakan luar negeri Brasil pasca-pemilu akan memengaruhi posisi negara-negara berkembang dalam menghadapi rivalitas global. Jika Brasil beralih ke kubu yang lebih pro-AS, poros kekuatan di belahan bumi selatan bisa bergeser, dengan implikasi bagi diplomasi iklim, perdagangan komoditas, dan kerja sama Selatan-Selatan yang selama ini menjadi tulang punggung kebijakan luar negeri Indonesia.
Selain memilih presiden, warga Brasil juga akan memilih 27 gubernur negara bagian, anggota legislatif negara bagian, seluruh 513 anggota kongres federal, dan 54 dari 81 senator. Konfigurasi parlemen yang terbentuk akan menentukan seberapa lancar agenda presiden terpilih—baik dari kubu Lula maupun Flávio—dapat dijalankan.
Dengan selisih elektabilitas yang tipis, kedua kubu kini berfokus merebut suara pemilih yang belum menentukan pilihan. Jika tidak ada yang mencapai ambang 50%+1, putaran kedua pada 25 Oktober akan menjadi medan pertempuran terakhir. Pertanyaannya, akankah Brasil mempertahankan arah kiri yang telah membawa pertumbuhan inklusif, atau memilih perubahan haluan yang bisa mempercepat pergeseran politik Amerika Latin ke kanan? Dunia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan dengan saksama.



