Leptospirosis Mengintai di Tengah Banjir Manila: 3.760 Kasus dan Dua Kematian
Baca dalam 60 detik
- Rumah sakit rujukan penyakit menular di Manila mencatat 50 kasus leptospirosis dengan dua kematian, menyusul banjir akibat hujan deras.
- Angka nasional di Filipina mencapai 3.760 kasus dan diperkirakan terus bertambah dalam beberapa hari ke depan.
- Lonjakan kasus ini menyoroti risiko kesehatan masyarakat di kawasan rawan banjir, termasuk Indonesia yang memiliki pola musim serupa.

Banjir yang melanda Manila akibat hujan berkepanjangan membawa ancaman kesehatan serius: kasus leptospirosis di rumah sakit rujukan penyakit menular di ibu kota Filipina itu mencapai 50 orang, dengan dua di antaranya meninggal dunia. Angka ini dilaporkan media lokal pada Sabtu (22/8) dan dikonfirmasi oleh kantor berita Xinhua, menandakan bahwa genangan air yang meluas menjadi media penularan bakteri Leptospira.
San Lazaro Hospital, pusat rujukan nasional untuk penyakit menular yang dikelola oleh Departemen Kesehatan (DOH) Filipina, telah membuka jalur khusus bagi pasien leptospirosis. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan pasien yang datang dengan gejala demam, nyeri otot, dan sakit kepalaโtanda khas infeksi yang ditularkan melalui urine tikus yang tercemar air banjir.
Secara nasional, DOH mencatat total kasus leptospirosis di Filipina telah mencapai 3.760 kasus. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring meluasnya genangan air di berbagai wilayah. Kondisi ini menggarisbawahi bahwa banjir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memicu krisis kesehatan masyarakat yang membutuhkan respons cepat.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan dini. Dengan musim hujan yang kerap menyebabkan banjir di berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Makassar, risiko leptospirosis juga mengintai. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa leptospirosis merupakan penyakit endemis di beberapa daerah, dengan kasus yang sering muncul pasca-banjir. Masyarakat yang terpapar air banjir, terutama di permukiman padat dengan sanitasi buruk, berisiko tinggi tertular.
Para ahli kesehatan masyarakat menilai bahwa pencegahan leptospirosis harus dilakukan sebelum banjir terjadi, bukan hanya saat tanggap darurat. Edukasi tentang penggunaan sepatu bot, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari kontak langsung dengan genangan air menjadi langkah krusial. Di Filipina, DOH juga mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala setelah terpapar banjir, karena penanganan dini dengan antibiotik dapat mencegah komplikasi fatal.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah sistem kesehatan di negara-negara rawan banjir, termasuk Indonesia, siap menghadapi lonjakan kasus leptospirosis setiap musim hujan? Investasi dalam infrastruktur drainase, pengendalian tikus, dan sistem surveilans penyakit yang responsif menjadi kunci untuk mengurangi dampak kesehatan dari bencana alam yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.


