Kematian Jason Arday: Refleksi Pahit tentang Rasa Memiliki Akademisi Kulit Hitam
Baca dalam 60 detik
- Wafatnya Profesor Jason Arday memicu pertanyaan mendalam tentang inklusivitas di kampus-kampus Inggris, terutama bagi akademisi kulit hitam.
- Program Aspire yang didukungnya telah mendampingi 59 sarjana kulit hitam, dengan 15 di antaranya melanjutkan ke program doktoral penuh, menunjukkan dampak nyata di luar angka.
- Di tengah tekanan finansial dan kritik terhadap inisiatif EDI, universitas justru harus memperkuat komitmen pada rasa memiliki, bukan menguranginya.

Kepergian Profesor Jason Arday pada 14 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi akademisi kulit hitam yang melihatnya sebagai simbol harapan di tengah hambatan struktural yang masih membelenggu pendidikan tinggi. Arday, yang sempat menghadapi tuduhan plagiarisme dan mengundurkan diri dari University of Cambridge, kini menjadi pengingat bahwa pertanyaan tentang rasa memiliki di dunia akademik masih jauh dari usai.
Di balik statistik yang hanya mencatat sekitar satu persen profesor kulit hitam di Inggris, tersimpan realitas pahit yang dialami banyak sarjana: menjadi satu-satunya wajah berbeda di ruang rapat, bergulat dengan aturan tak tertulis, dan terus-menerus membuktikan kapasitas di lingkungan yang kerap meragukan mereka. Bagi sebagian orang, perjalanan menuju gelar doktor bahkan dimulai bukan dari pelatihan riset, melainkan dari secuil kalimat penegasan bahwa mereka memang pantas berada di sana.
Program Accomplished Study Programme in Research Excellence (Aspire), yang pernah didatangi Arday untuk berbagi pengalaman, menjadi salah satu jawaban konkret atas persoalan ini. Dalam tiga angkatan, program tersebut telah mendampingi 59 sarjana kulit hitam dan campuran, dengan 15 di antaranya berhasil melanjutkan studi doktoral dengan pembiayaan penuh di berbagai universitas Inggris. Namun, seperti diungkapkan penulis artikel asal The Conversation, dampak terpenting dari program semacam ini tidak selalu bisa diukur dari angka semata.
Yang lebih mendasar adalah transformasi relasional yang terjadi: para peserta bertemu dengan mentor yang percaya pada potensi mereka, berinteraksi dengan akademisi kulit hitam yang membuka cakrawala baru, dan memasuki ruang di mana diskusi tentang ras tidak lagi menjadi tabu. Mereka akhirnya memiliki komunitas yang menganggap serius ambisi mereka. Filosofi ubuntu dari Afrika โ yang menekankan 'aku ada karena kita ada' โ serta omoluabi dari tradisi Yoruba tentang integritas dan tanggung jawab sosial, menegaskan bahwa kesuksesan akademik bukanlah pencapaian individual semata.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana representasi kelompok marginal di perguruan tinggi juga masih menjadi pekerjaan rumah. Meski tidak identik, isu kesenjangan akses dan rasa memiliki di kampus-kampus Indonesia โ baik berdasarkan latar belakang ekonomi, wilayah, maupun etnis โ menuntut perhatian serupa. Pertanyaannya, apakah institusi pendidikan tinggi di Indonesia sudah cukup proaktif menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif, atau baru sebatas wacana kebijakan?
Penulis artikel, yang juga terlibat dalam Aspire, menggarisbawahi bahwa dukungan bagi sarjana kulit hitam bukanlah aksi amal. Universitas justru menjadi lebih kaya secara intelektual ketika pengetahuan dihasilkan oleh beragam latar belakang, karena pertanyaan-pertanyaan baru muncul dan asumsi-asumsi lama ditantang. Namun, di tengah tekanan finansial yang melanda banyak kampus dan meningkatnya skeptisisme terhadap inisiatif kesetaraan, keberagaman, dan inklusi (EDI), ada bahaya besar bahwa institusi justru mundur dari komitmen mereka.
Jika mentoring mampu mengubah lintasan karier, maka sudah seharusnya didanai. Jika komunitas menumbuhkan rasa memiliki, maka harus dipertahankan. Jika intervensi yang ditargetkan membuka jalan bagi sarjana kulit hitam berbakat untuk masuk pendidikan doktoral, maka investasi harus terus digencarkan. Tanpa itu, EDI hanya akan menjadi jargon kosong yang nyaman diucapkan tetapi enggan didanai.
Kepergian Arday meninggalkan pesan yang tak terbantahkan: kebaikan dan kepedulian adalah fondasi yang kuat untuk melawan rasisme struktural. Di saat banyak akademisi kulit hitam mempertanyakan tempat mereka di masa depan, mundur dari agenda kesetaraan rasial bukanlah pilihan. Universitas harus dibangun menjadi ruang di mana sarjana kulit hitam tidak sekadar masuk dan bertahan, tetapi benar-benar didukung, dihargai, dan mampu berkembang. Pertanyaan kuncinya kini beralih: apakah institusi pendidikan tinggi, termasuk di Indonesia, berani menjadikan rasa memiliki sebagai prioritas nyata, bukan sekadar wacana?



