Pertarungan Keluarga Buss: Jeanie Lawan Saudara demi Kendali Lakers
Baca dalam 60 detik
- Jeanie Buss mengancam langkah hukum untuk membatalkan penjualan saham keluarga Lakers senilai $12,5 miliar.
- Kesepakatan dengan konsorsium Josh Kushner dan Bob Iger bisa menjadi rekor penjualan klub olahraga termahal.
- Konflik internal keluarga Buss berpotensi mengguncang tata kelola Lakers dan menarik perhatian investor global.

Gubernur Los Angeles Lakers, Jeanie Buss, mengambil sikap tegas menentang rencana saudara-saudaranya yang ingin melepas sisa kepemilikan keluarga pada klub basket legendaris itu. Langkah ini memicu pertarungan hukum internal keluarga yang bisa menentukan masa depan salah satu waralaba paling bernilai di dunia olahraga.
Pekan lalu, konsorsium yang dipimpin Josh Kushner—adik ipar presiden AS Donald Trump—dan mantan CEO Disney, Bob Iger, sepakat membeli saham pengendali dari Mark Walter senilai $12,5 miliar (sekitar Rp 200 triliun). Walter sendiri baru membeli saham tersebut dari keluarga Buss tahun lalu dengan nilai $10 miliar, dengan kesepakatan bahwa Jeanie tetap menjadi gubernur hingga 2030.
Keluarga Buss, yang telah menjadi pemilik utama atau minoritas Lakers sejak 1979, mengumumkan pada Senin bahwa mereka memilih untuk menjual sisa saham 17,8 persen kepada kelompok Iger. Namun, Jeanie melalui pengacaranya, Adam Streisand, menyatakan bahwa pemungutan suara tersebut tidak sah karena membutuhkan persetujuannya sebagai salah satu dari tiga wali amanat, bersama Joey dan Janie Buss.
Dalam surat terbuka kepada lima saudaranya, Streisand menegaskan bahwa para wali amanat wajib menjaga kepemilikan minimal 15 persen agar Jeanie tetap menjadi pemilik kendali. "Setiap upaya untuk membantu atau bersekongkol dalam penjualan ini merupakan pelanggaran kepercayaan dan kewajiban fidusia," tulisnya, seperti dikutip ESPN. Jeanie juga menuntut agar saudara-saudaranya secara publik mengakui posisinya sebagai pemilik kendali Lakers.
Meski demikian, saudara kandung Jeanie—Johnny, Jimmy, Janie, Joey, dan Jesse—menegaskan kembali keputusan mereka pada Selasa. "Kami tetap bersatu dalam keputusan ini dan akan melanjutkan proses dengan bijak dan penuh hormat," demikian pernyataan mereka. Sikap ini memperlihatkan perpecahan yang dalam di antara enam anak Jerry Buss, yang membeli Lakers pada 1979 seharga $67,5 juta.
Konteks Indonesia: Fenomena ini menarik bagi pengamat olahraga dan investor Tanah Air karena menunjukkan bagaimana nilai waralaba olahraga global terus meroket. Bagi pengusaha Indonesia yang berinvestasi di klub-klub Eropa, kasus ini menjadi pelajaran tentang pentingnya tata kelola keluarga dan kontrak yang jelas. Selain itu, keterlibatan Josh Kushner—yang juga sempat terlibat dalam kontroversi rencana investasi di FIFA—menambah dimensi politik dan bisnis yang kompleks.
Para analis memperkirakan bahwa jika penjualan ini lolos, akan menjadi tonggak baru dalam industri olahraga, dengan valuasi yang melampaui klub-klub seperti Manchester United atau Dallas Cowboys. Namun, pertarungan hukum yang dilancarkan Jeanie bisa menjadi batu sandungan. Ia berargumen bahwa penjualan tersebut akan melanggar kesepakatan awal yang menjamin posisinya sebagai gubernur hingga 2030.
NBA sendiri dijadwalkan memberikan persetujuan akhir pada bulan depan. Jika disetujui, Walter akan mengantongi keuntungan cepat sebesar $2,5 miliar dari investasinya. Namun, jika Jeanie menang, maka rencana konsorsium Kushner-Iger bisa gagal total, dan Lakers akan tetap berada dalam kendali keluarga Buss—setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.
Pertanyaannya kini: apakah ikatan keluarga mampu bertahan di tengah godaan finansial sebesar itu, atau justru menjadi ajang uji kekuatan hukum dan bisnis yang akan menentukan arah Lakers selanjutnya?



