Film Animasi China yang Diejek Justru Laris: Dari 200 Yuan ke 8,2 Juta dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Film animasi 'Niulai' yang awalnya hanya meraup 10 ribu yuan dalam 10 hari, kini mencatatkan pendapatan kumulatif 17,1 juta yuan berkat ledakan popularitas di media sosial.
- Fenomena ini dipicu oleh komentar sinis di platform Douban yang justru memicu rasa penasaran penonton muda, menjadikan film ini contoh nyata kekuatan budaya meme di era digital.
- Keberhasilan 'Niulai' menegaskan pergeseran perilaku penonton Tiongkok yang mulai melirik karya independen, sekaligus membuka peluang bagi sineas lokal Indonesia untuk memanfaatkan tren serupa.

Film animasi asal China berjudul Niulai—yang sempat diejek habis-habisan karena kualitas animasinya dianggap primitif—kini menjadi fenomena box office yang tak terduga. Setelah nyaris sepi penonton pada pekan pertama penayangannya, film tentang anak sapi yang bermimpi tumbuh besar ini justru mencatatkan lonjakan pendapatan hingga 8,2 juta yuan (sekitar Rp18 miliar) dalam sehari, menjadikannya bahan perbincangan hangat di kalangan pegiat media sosial.
Menurut data platform pemantau film Maoyan, Niulai yang dirilis 5 Agustus lalu hanya mengumpulkan sekitar 10 ribu yuan (Rp23 juta) dalam sepuluh hari pertama. Bahkan, pada hari-hari tertentu, pendapatannya anjlok hingga 200 yuan (Rp460 ribu)—angka yang sangat rendah, terutama di tengah musim panas yang kompetitif. Namun, pada Senin pekan ini, film tersebut mencetak rekor dengan hampir 300 ribu penonton dalam sehari, mendorong total pendapatan kumulatifnya menjadi 17,1 juta yuan (sekitar Rp39 miliar).
Fenomena ini tidak lepas dari peran media sosial. Di Douban, platform ulasan film populer, para pengguna justru membanjiri Niulai dengan komentar sarkastis seperti "sangat buruk dan membuka mata", "simbol budaya troll internet baru", hingga "wajib ditonton bagi investor saham China". Komentar-komentar ini, yang awalnya bernada mengejek, justru memicu rasa penasaran publik dan mendorong orang untuk menonton film tersebut—sebuah fenomena yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai "ironi box office".
Yang lebih menarik, film ini digarap oleh hanya dua orang: sutradara Xin Yumeng dan ibunya, Sun Lifan, selama lima tahun. Red Star News, media lokal Chengdu, melaporkan bahwa keduanya mengerjakan film ini secara mandiri tanpa dukungan studio besar. Poster filmnya pun sederhana—gambar anak sapi yang digambar tangan dengan pena tanpa warna, disertai slogan tulisan tangan seperti "Ayo ke sini jika kamu suka hal aneh" dan "Tidak ada pengembalian dana". Kesederhanaan ini justru menjadi daya tarik tersendiri di tengah maraknya film animasi dengan visual canggih.
Fenomena Niulai juga menyoroti perilaku penonton muda Tiongkok yang gemar menyebarkan meme dan tren viral. Du Mingxi, mahasiswa berusia 19 tahun di Shanghai, mengaku sengaja merekomendasikan film ini kepada teman-temannya sebagai lelucon. "Jika ada teman bertanya, saya bilang bagus dan menyarankan mereka menonton," ujarnya. Ia berhasil mengajak dua temannya menonton; satu tertidur di tengah film, namun yang lain mengaku menikmatinya. Mingxi membandingkan fenomena ini dengan tren aneh di Amerika Serikat yang disebut "six-seven", di mana orang tertarik pada hal-hal aneh dan lucu tanpa alasan yang jelas.
Di tengah banjir kritik, ada juga penonton yang justru mengapresiasi kesederhanaan film ini. Zhong Jiaming, seorang guru sekolah kejuruan di Guangzhou, menyebutnya sebagai temuan langka di era ketika film sering kali "indah secara visual tetapi ceritanya gagal menarik". "Ini film untuk mereka yang muda di hati. Sederhana dan jujur, seperti dongeng sebelum tidur untuk anak-anak," katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga tentang kekuatan media sosial dalam memasarkan karya kreatif. Di tengah dominasi film-film besar dengan anggaran tinggi, Niulai membuktikan bahwa konten yang unik dan autentik—meski dianggap "aneh"—dapat menarik perhatian publik. Sineas independen Indonesia, yang sering kesulitan bersaing di pasar domestik, bisa belajar dari strategi memanfaatkan meme dan tren viral untuk membangun buzz. Namun, perlu diingat bahwa fenomena ini juga bisa menjadi pisau bermata dua: popularitas yang didorong oleh ejekan mungkin tidak bertahan lama, dan kualitas cerita tetap menjadi faktor kunci untuk mempertahankan penonton.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Niulai akan menjadi model baru bagi film-film independen di Asia, atau hanya sekadar anomali yang kebetulan viral. Yang jelas, fenomena ini menunjukkan bahwa selera penonton semakin beragam dan tidak bisa diprediksi. Apakah industri perfilman Indonesia siap menangkap peluang serupa?



