Nanda Malini Tutup Usia: Legenda Musik Protes Sri Lanka yang Vokalnya Dilarang di Era Perang
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris Sri Lanka, Nanda Malini, meninggal di usia 82 tahun, meninggalkan warisan lagu-lagu protes yang mengiringi gejolak politik negaranya.
- Albumnya yang berjudul Pawana sempat dilarang diputar di radio nasional pada 1980-an karena dianggap menghasut perlawanan terhadap ketidakadilan.
- Pemerintah Sri Lanka menetapkan masa berkabung tiga hari, dan Presiden Anura Kumara Dissanayake menyebut Malini sebagai 'legenda musik sejati' yang menginspirasi generasi.

Nanda Malini, penyanyi yang suaranya menjadi pengiring bagi gejolak politik dan sosial di Sri Lanka, mengembuskan napas terakhir pada usia 82 tahun. Ia meninggal di kediamannya di Nawala, hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-83. Kabar duka ini memicu gelombang penghormatan dari berbagai kalangan, mengingatkan kembali pada peran pentingnya sebagai suara perlawanan di tengah rezim otoriter dan perang saudara.
Malini lahir pada 23 Agustus 1943 di sebuah desa di Kalutara, sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara. Karier musiknya dimulai ketika ia memenangkan kompetisi menyanyi puisi di Kolombo pada 1956. Sejak itu, ia dikenal luas sebagai penyanyi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyuarakan kritik sosial. Pada 1970-an dan 1980-an, lagu-lagunya menjadi medium protes terhadap korupsi, kesenjangan sosial, dan hasutan untuk bersatu melintasi batas etnis dan agama.
Albumnya yang dirilis pada 1987, Pawana, menjadi simbol perlawanan pada masa itu. Berisi lagu-lagu tentang hak asasi manusia dan penindasan negara, album ini dilarang diputar di stasiun radio nasional oleh otoritas. Namun, larangan tersebut tidak menghentikan para penggemar untuk tetap mendengarkan dan menghadiri konsernya. Larangan itu justru memperkuat statusnya sebagai ikon pemberontakan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan etnis yang memuncak pada perang saudara 1983.
Kiprah Malini tidak berhenti seiring berakhirnya perang. Pada 2022, ketika Sri Lanka dilanda krisis ekonomi dan protes besar-besaran, ia kembali tampil di hadapan para demonstran. Dukungannya terhadap gerakan yang akhirnya menggulingkan Presiden Gotabaya Rajapaksa menunjukkan bahwa suaranya tetap relevan hingga akhir hayatnya. Malini bukan sekadar penyanyi; ia adalah saksi dan partisipan aktif dalam sejarah politik negaranya.
Bagi Indonesia, kisah Malini mengingatkan pada kekuatan musik sebagai alat perlawanan dan kontrol sosial. Di era digital saat ini, di mana informasi mengalir deras, larangan berkarya seperti yang dialami Malini mungkin terasa kuno, tetapi esensinya tetap relevan: bagaimana negara memperlakukan seniman yang kritis. Di Indonesia, sejarah juga mencatat bagaimana lagu-lagu protes pernah dibungkam pada masa Orde Baru, namun kemudian menjadi bagian dari gerakan reformasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa musik selalu memiliki tempat dalam perjuangan keadilan, baik di Sri Lanka maupun di Indonesia.
"Musiknya yang abadi menginspirasi generasi Sri Lanka, tua dan muda," tulis Presiden Dissanayake dalam pernyataan resminya.
Warisan Nanda Malini tidak hanya terletak pada melodi dan liriknya, tetapi juga pada keberaniannya untuk berdiri di sisi rakyat. Ia membuktikan bahwa seorang seniman bisa menjadi kekuatan perubahan, meski harus berhadapan dengan kekuasaan. Pertanyaannya kini, akankah generasi penerus di Sri Lankaโdan di tempat lainโmemiliki keberanian serupa untuk menggunakan suara mereka bagi kebenaran? Atau justru era digital dengan segala kebebasannya justru melahirkan bentuk-bentuk baru pembungkaman yang lebih halus?



