Dari Hobi Melukis Gitar Bekas, Perempuan Singapura Ini Raup Omzet Lima Digit dari Pickguard Kucing
Baca dalam 60 detik
- Julia Becker, lulusan teknik SUTD, mengubah hobi melukis pickguard menjadi bisnis ThreeStools yang melayani pelanggan dari 10 negara.
- Desain kucingnya yang unik mendominasi permintaan, dengan 70 persen pembeli pria, termasuk gitaris metal, dan antrean pesanan kustom mencapai dua bulan.
- Kisah suksesnya menantang stereotip karier seni di Singapura dan membuka peluang serupa bagi kreator Indonesia di pasar global.

Seorang perempuan berusia 24 tahun asal Singapura membuktikan bahwa jalan karier di bidang seni tidak selalu berujung pada status "seniman kelaparan". Julia Becker, pendiri ThreeStools, berhasil mengubah hobi melukis pickguard gitar menjadi bisnis yang mendatangkan pendapatan lima digit, dengan pelanggan tersebar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia.
Bermula dari bass bekas seharga S$700 yang dibelinya di Carousell, Becker mulai mengecat pickguardโpanel pelindung di bagian depan gitarโdengan motif floral. Respons positif dari teman-temannya mendorongnya untuk membuka layanan kustom di platform yang sama pada 2023 dengan tarif S$50. Kini, ThreeStools telah menjual lebih dari 1.000 pickguard ke berbagai negara, termasuk Inggris, Australia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Brasil, dan Argentina.
Yang menarik, sekitar 70 persen pelanggannya adalah pria, dan sebagian di antaranya adalah gitaris metal yang kerap memainkan musik headbanging dengan pickguard bergambar kucing. "Mereka memakainya kadang sebagai ironi, kadang karena memang suka kucing," ujar Becker. Desain kucing yang menggemaskan memang menjadi ciri khas produknya, di samping motif panda, ikan koi, hiu, dan lobster.
Perjalanan Becker tidak selalu mulus. Pandemi menggagalkan rencananya untuk magang di Nike dan kuliah seni di luar negeri. Ia akhirnya mengambil jurusan teknik pengembangan produk di Singapore University of Technology and Design (SUTD) pada 2021. Namun, hobinya terus berlanjut. Saat bergabung dengan band kampus, ia membutuhkan seorang bassis, sehingga ia membeli bass bekas yang kemudian menjadi titik awal bisnisnya.
Perubahan besar terjadi pada pertengahan 2025 ketika Becker memposting desain kucingnya di komunitas gitar Reddit. Postingan itu mendapat 3.700 likes dan memicu 30 pesanan langsung. Ia pun membuka toko di Etsy dan dalam sebulan menerima 30 pesanan. Sejak itu, permintaan melonjak. Pada akhir tahun, ia sudah menerima lebih dari 120 pesanan per bulan, mayoritas dari AS, dan pendapatannya menembus angka lima digit. Media gitar terkemuka, Guitar World, bahkan pernah menampilkan karyanya.
Kesuksesan ini tidak lepas dari strategi Becker yang beralih dari lukisan tangan ke teknologi 3D printing. Dengan bantuan printer 3D, ia bisa membuat pickguard dengan bentuk yang lebih variatif dan efisien. Meski awalnya hanya memiliki satu printer di kamar tidurnya, kini ia telah menambah dua printer dan satu laser cutter. Harga produk jadi berkisar antara S$66 hingga S$110 dengan gratis ongkir ke seluruh dunia, sementara pesanan kustom dibanderol mulai US$100 dengan masa tunggu dua bulan.
Bagi Becker, pickguard kustom bukan sekadar aksesori, melainkan media ekspresi identitas. "Bentuk dasar gitar listrik tidak banyak berubah sejak 1950-an," katanya. "Mengganti pickguard adalah cara paling mudah untuk personalisasi." Separuh dari pesanan kustomnya bahkan datang dari pelanggan yang ingin mengenang hewan peliharaan kesayangan yang telah tiada, seperti seorang pelanggan asal Kanada yang memesan pickguard untuk mengenang schnauzer mininya.
Kisah Becker menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama di kawasan Asia Tenggara, bahwa kreativitas bisa menjadi mata pencaharian yang layak. Di Indonesia, industri kreatif juga berkembang pesat, dan cerita seperti ini bisa mendorong lebih banyak anak muda untuk berani menekuni passion mereka. Meski demikian, Becker mengingatkan bahwa tidak semua jalan mulus. "Saya tidak akan berkata optimis bahwa kamu harus langsung fokus ke seni. Tapi jangan menyerah pada mimpimu hanya karena orang lain bilang kamu tidak bisa," pesannya.
Ke depan, Becker berencana melanjutkan studi magister Innovation Design Engineering di Royal College of Art dan Imperial College London pada September mendatang. Ia akan tetap menjalankan ThreeStools dari London. Pertanyaannya, apakah ia akan mampu mempertahankan ritme produksi dan pelayanan di tengah kesibukan akademis? Atau justru pengalaman barunya akan membawa inovasi baru yang lebih besar? Waktu yang akan menjawab.



