Gracie Abrams Buka Suara soal Isu Keretakan dengan Taylor Swift: 'Dia Alien yang Cemerlang'
Baca dalam 60 detik
- Gracie Abrams menepis spekulasi perseteruan dengan Taylor Swift, menyebut pengalaman tur Eras sebagai 'kelas master' dalam industri musik.
- Penulis lagu Aaron Dessner mengonfirmasi bahwa lagu 'Death Wish' bukan tentang Swift, melainkan tentang mantan kekasih teman.
- Abrams juga blak-blakan mengakui privilege-nya sebagai 'nepo baby', menyebutnya sebagai faktor penting dalam kariernya.

Gracie Abrams akhirnya angkat bicara mengenai rumor keretakan dengan Taylor Swift. Dalam wawancara terbarunya, pelantun "Close to You" itu justru memuji megabintang 36 tahun tersebut sebagai "alien yang cemerlang dan unik". Pernyataan ini sekaligus memadamkan spekulasi yang beredar di kalangan penggemar selama berbulan-bulan.
Abrams, yang menjadi pembuka tur Eras Taylor Swift pada 2023 dan 2024, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga dari pengalaman tersebut. Ia menggambarkan melihat Swift bekerja sebagai "kelas master" yang memperlihatkan bagaimana seorang raksasa industri memperlakukan setiap orang yang terlibat, dari penonton hingga kru di belakang panggung. "Kau bisa melihat langsung bagaimana titan industri ini menciptakan pengalaman terbaik bagi semua orang," ujarnya dalam podcast Therapuss.
Lebih lanjut, Abrams menyoroti dedikasi Swift yang luar biasa. "Aku belajar bahwa pertunjukan harus tetap berjalan apa pun yang terjadi. Kau tidak akan pernah tahu kalau dia sedang sakit atau hatinya hancur. Dia tetap memberikan segalanya dengan penuh keanggunan dan kehangatan," tuturnya. Ia juga menyebut suasana tur tersebut seperti "kamp musim panas" yang penuh kebersamaan.
Spekulasi keretakan antara keduanya muncul setelah perilisan lagu "Death Wish" yang liriknya dianggap mengisyaratkan konflik dengan seorang teman. Namun, Aaron Dessner, penulis lagu yang kerap bekerja sama dengan kedua musisi tersebut, menegaskan bahwa lagu itu "pasti tidak" tentang Swift. Menurut Dessner, lagu tersebut ditulis saat Abrams sedang bercerita tentang mantan kekasih seorang teman yang berada dalam hubungan yang tidak sehat. "Jadi, lagu itu tentang orang itu, saya rasa. Saya bahkan tidak tahu siapa orangnya," katanya kepada Billboard.
Di sisi lain, Abrams juga berbicara terbuka tentang statusnya sebagai "nepo baby". Putri dari sutradara J.J. Abrams dan CEO Bad Robot Productions, Katie McGrath, ini mengaku tidak tersinggung jika disebut demikian. Dalam podcast Popcast milik New York Times, ia menyadari betapa besar peran privilege dalam perjalanan kariernya. "Aku punya jaring pengaman yang memungkinkanku bereksperimen dan fokus. Aku punya waktu untuk menggeluti hal yang kucintai. Aku tidak tumbuh dengan ketakutan finansial, dan itu hal terbesar," jelasnya. Ia juga mengaku beruntung tumbuh di lingkungan yang memberinya kosakata dan pemahaman tentang industri kreatif.
Pernyataan Abrams ini menjadi angin segar bagi penggemar yang selama ini mencemaskan hubungan keduanya. Di Indonesia, fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana industri musik global kerap diwarnai spekulasi yang belum tentu benar. Bagi penggemar Taylor Swift di Tanah Air, kabar ini menegaskan bahwa persahabatan di balik panggung bisa tetap solid meski sorotan media begitu tajam.
Ke depannya, publik tentu menantikan apakah kolaborasi antara Abrams dan Swift akan kembali terjadi. Dengan pengakuan jujur Abrams tentang privilege-nya, ia justru berhasil membangun citra yang lebih autentik di mata penggemar. Pertanyaannya, akankah keterbukaan semacam ini menjadi tren baru di kalangan musisi muda yang kerap dihantui isu nepotisme?



