Gracie Abrams Akui Sempat Benci Lagu Sendiri: Butuh Enam Bulan untuk Berdamai
Baca dalam 60 detik
- Gracie Abrams butuh enam bulan untuk bisa mendengarkan ulang lagu 'Look At My Life' tanpa rasa tidak nyaman.
- Album 'Daughter From Hell' berhasil menempati puncak Billboard 200 dengan penjualan 124.000 unit, pencapaian terbaik kariernya.
- Pengalaman Abrams mencerminkan tekanan psikologis yang kerap dialami musisi dalam proses kreatif, relevan bagi industri musik Indonesia.

Gracie Abrams, penyanyi pop berusia 26 tahun, mengaku sempat membenci salah satu lagu barunya hingga enam bulan lamanya. Lagu berjudul 'Look At My Life' yang masuk dalam album terbarunya, Daughter From Hell, baru bisa ia dengar kembali setelah didorong oleh kolaboratornya, Aaron Dessner.
Dalam podcast Therapuss with Jake Shane, Abrams menceritakan bahwa ia menulis lagu tersebut saat kondisi mentalnya sedang tidak baik. "Aku benar-benar tidak menyukai lagu itu sampai baru-baru ini. Aku menulisnya saat aku merasa tidak enak," ujarnya. Ia juga mengaku memiliki bias terhadap karya yang baru dibuat, sehingga butuh waktu untuk bisa menerimanya.
Proses rekonsiliasi dengan lagu itu tidak mudah. Abrams menyebut butuh enam bulan hingga ia bisa mendengarkannya tanpa merasa ingin "mencungkil bola matanya sendiri". Namun, setelah melalui masa sulit itu, ia bersyukur lagu tersebut akhirnya muncul kembali dan ia merasa lega tidak membuangnya begitu saja.
Pengalaman serupa juga dialami Abrams dengan lagu 'Mess It Up' yang dirilis pada 2021. Saat itu, para penggemar memintanya untuk membawakan lagu tersebut dalam konser, meskipun ia enggan. Abrams menggambarkan permintaan penggemar seperti "orang yang berdiri di depan rumah dengan garpu rumput dan obor", memaksanya untuk menyanyikan lagu itu.
Kisah ini muncul di tengah kesuksesan besar Abrams yang baru saja meraih album nomor satu pertamanya di Billboard 200 melalui Daughter From Hell. Album ketiganya itu terjual 124.000 unit setara album dalam pekan yang berakhir 23 Juli, sekaligus menjadi pencapaian terbaiknya sepanjang karier. Sebelumnya, album The Secret of Us hanya mampu mencapai posisi kedua pada Juli 2024.
Bagi musisi Indonesia, kisah Abrams ini menjadi pengingat bahwa proses kreatif tidak selalu linear. Banyak musisi tanah air yang mungkin mengalami hal serupa, di mana karya yang lahir dari masa sulit justru menjadi favorit penggemar. Tekanan untuk selalu produktif dan menghasilkan karya yang diterima publik bisa menjadi beban psikologis tersendiri.
Menurut psikolog musik, fenomena seperti ini cukup umum terjadi. Ketika seorang seniman menciptakan karya dalam keadaan emosional yang intens, mereka sering kali mengaitkan karya tersebut dengan memori negatif. Butuh waktu dan perspektif baru untuk bisa memisahkan karya dari perasaan yang menyertainya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana para musisi, baik di Indonesia maupun global, dapat menjaga kesehatan mental mereka di tengah tuntutan industri yang semakin kompetitif. Apakah pengalaman Abrams akan mendorong lebih banyak artis untuk berbicara terbuka tentang perjuangan mereka dalam berkarya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, kisah ini membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang sisi manusiawi di balik industri musik.



