Sejarah Baru di NTAs: Kelima Nominasi Aktris Terbaik Semuanya Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya dalam sejarah National Television Awards (NTAs), kategori Drama Performance diisi sepenuhnya oleh aktris, menjamin pemenang perempuan tahun ini.
- Sheridan Smith, Ruth Jones, Vicky McClure, Judy Parfitt, dan Ella Bruccoleri bersaing ketat, dengan latar dominasi pria dalam enam dari tujuh seremoni terakhir.
- Momen ini menjadi sorotan industri televisi global, sekaligus momentum bagi pemerataan representasi gender di ajang penghargaan serupa, termasuk di Indonesia.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah National Television Awards (NTAs), kategori Drama Performance tahun ini diisi sepenuhnya oleh lima aktris, sebuah capaian yang memastikan pemenang perempuan untuk pertama kalinya sejak 2023. Sheridan Smith, Ruth Jones, Vicky McClure, Judy Parfitt, dan Ella Bruccoleri tercatat sebagai nominator, menggeser dominasi pria yang telah berlangsung lama di ajang penghargaan televisi Inggris tersebut.
Sheridan Smith masuk berkat perannya sebagai Ann Ming dalam serial kriminal ITV I Fought The Law, yang mengangkat kisah nyata perjuangan seorang ibu melawan hukum double jeopardy berusia 800 tahun demi keadilan atas pembunuhan putrinya. Sementara itu, Ruth Jones dinominasikan untuk aktingnya sebagai Elena Ravenscroft dalam thriller Netflix karya Harlan Coben, Run Away. Keduanya akan bersaing dengan Vicky McClure yang kembali masuk nominasi untuk ketiga kalinya lewat Trigger Point, Judy Parfitt dari Call the Midwife, serta Ella Bruccoleri yang tampil dalam The Other Bennet Sister.
Dominasi pria di kategori ini memang mencolok: dalam enam dari tujuh seremoni terakhir, aktor pria selalu keluar sebagai pemenang. Owen Cooper, bintang Adolescence, menjadi yang terakhir meraih penghargaan tersebut tahun lalu. Sebelumnya, Sarah Lancashire adalah perempuan terakhir yang menang pada 2023 lewat perannya sebagai Catherine Cawood di Happy Valley. Kini, dengan kelima nominasi diisi perempuan, ajang ini seolah memberikan sinyal kuat tentang pergeseran arah industri televisi Inggris.
Di luar kategori Drama Performance, perhatian juga tertuju pada kategori TV Presenter yang tahun lalu menjadi kejutan besar. Duo Ant dan Dec yang telah memenangkan penghargaan selama 23 tahun berturut-turut akhirnya dikalahkan oleh Gary Lineker. Namun, tahun ini Lineker gagal masuk nominasi, membuka peluang bagi Ant dan Dec untuk merebut kembali mahkota. Mereka akan bersaing dengan Alison Hammond, Claudia Winkleman, Stacey Solomon, dan untuk pertama kalinya Sir David Attenborough yang baru saja merayakan ulang tahun ke-100.
Claudia Winkleman juga menjadi pesaing kuat di kategori Reality Competition lewat acara The Traitors dan Celebrity Traitors, yang akan bertarung dengan I'm A Celebrity... Get Me Out Of Here! beserta spin-off-nya, serta Race Across the World. Sementara itu, Gladiators yang di-reboot pada 2024 berhasil meraih nominasi pertamanya untuk The Bruce Forsyth Entertainment Award, bersaing dengan Michael McIntyre's Big Show, The Graham Norton Show, The Masked Singer, dan Would I Lie to You?.
Bagi penonton Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting bagi industri televisi nasional. Meski ajang seperti Indonesian Television Awards dan Festival Film Indonesia telah menunjukkan kemajuan representasi perempuan, kategori akting sering kali masih didominasi nama-nama pria. Momentum NTAs ini bisa menjadi bahan refleksi: apakah industri kita siap memberi ruang lebih luas bagi aktris-aktris berbakat, tidak hanya sebagai nominasi, tetapi juga sebagai pemenang yang konsisten?
Joel Dommett akan kembali memandu malam puncak NTA yang disiarkan langsung dari The O2 London pada Selasa, 8 September, mulai pukul 20.00 waktu setempat. Dengan sejarah yang sudah terukir sebelum acara dimulai, pertanyaannya kini: akankah kemenangan perempuan di kategori Drama Performance menjadi awal dari tren baru, atau sekadar anomali di tengah dominasi pria yang telah lama mengakar?



