Sekuel 'Michael': Jaafar Jackson Bertekad Suarakan Sisi Kemanusiaan Sang Paman di Tengah Bayang Tuduhan Lama
Baca dalam 60 detik
- Jaafar Jackson, pemeran Michael Jackson di film biopik 'Michael', mengungkap harapannya agar sekuel menyoroti kebaikan hati sang paman di tahun-tahun terakhirnya.
- Kendala hukum dari perjanjian damai dengan Jordan Chandler berpotensi membatasi penggambaran skandal pelecehan di sekuel, namun Lionsgate yakin masih banyak kisah menarik yang bisa diangkat.
- Sekuel 'Michael' diharapkan tidak hanya menampilkan sisi ikonik, tetapi juga memberikan ruang bagi 'suara' Michael Jackson yang selama ini jarang terdengar.

Jaafar Jackson, keponakan sekaligus pemeran Michael Jackson dalam film biopik yang dirilis tahun lalu, angkat bicara mengenai rencana sekuel. Ia menegaskan harapannya agar film kedua tidak sekadar menampilkan sisi ikonik sang paman, melainkan juga memberi ruang bagi 'suara' Michael yang selama ini kerap tenggelam, terutama saat menghadapi masa-masa sulit di akhir hidupnya.
Film pertama 'Michael' memang ditutup dengan kalimat 'His Story Continues', menandakan ambisi Lionsgate untuk melanjutkan kisah hidup Raja Pop tersebut. Film yang berkisah hingga era tur 'Bad' pada 1987 itu mendapat sambutan hangat, namun Jaafar merasa masih banyak hal yang belum tergali. Dalam wawancara dengan GQ Middle East, ia mengungkapkan bahwa keluarga besarnya selama ini merasa narasi tentang Michael sering dibajak oleh kepentingan pihak lain. "Ini kisah orang lain, ide orang lain, dan sebagian besar digerakkan oleh agenda tertentu," ujarnya. "Masalahnya, suara Michael sendiri tidak pernah benar-benar didengar. Itu sangat penting, terutama untuk tahun-tahun terakhirnya."
Jaafar, yang merupakan putra dari Jermaine Jackson, menekankan bahwa film pertama berhasil memperlihatkan sisi manusiawi Michael sebelum ia menjadi bintang besar. Ia berharap sekuel dapat melanjutkan penggambaran tersebut, termasuk menunjukkan bagaimana Michael tetap mempertahankan kebaikan hatinya meski harus berhadapan dengan berbagai tuduhan dan perlakuan buruk. "Dia tidak pernah berubah, selalu mencari kebaikan dalam diri orang lain. Meski hatinya hancur, ia tetap sama," kata Jaafar. "Saya harap hal itu terasa di film kedua."
Kendala hukum ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Lionsgate. Namun, pihak studio optimistis. Adam Fogelson, kepala divisi film Lionsgate, dalam panggilan pendapatan kuartalan bulan Mei lalu menyatakan bahwa masih banyak kisah menarik dari kehidupan Michael yang belum diceritakan, termasuk beberapa lagu terpopulernya yang belum masuk dalam film pertama. "Ada banyak sekali kisah Michael Jackson yang sangat menghibur, dan banyak bagian dari katalog musiknya yang paling populer belum tersentuh," ujar Fogelson. "Banyak peristiwa lain yang terjadi bahkan dalam rentang waktu film pertama yang belum diangkat. Kami sangat yakin kami punya film yang akan kembali memikat penonton global."
Bagi penonton Indonesia, perkembangan ini menarik karena film biopik musisi dunia selalu mendapat perhatian besar. Antusiasme terhadap kisah Michael Jackson, yang memiliki basis penggemar kuat di Tanah Air, diprediksi akan tetap tinggi. Namun, keputusan untuk tidak menampilkan kontroversi secara gamblang bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi menjaga sensitivitas hukum, di sisi lain berpotensi mengurangi daya tarik dramatis bagi penonton yang ingin melihat sisi kontroversial sang idola.
Pertanyaan besarnya, akankah sekuel 'Michael' mampu menyeimbangkan antara tuntutan komersial, batasan hukum, dan keinginan keluarga untuk meluruskan narasi? Atau justru kehadiran sekuel ini akan semakin mempertegas perdebatan tentang bagaimana sejarah hidup seorang ikon seharusnya diceritakan? Yang jelas, publik akan menunggu dengan napas tertahan.



