Ketua AFC Salman Balas Qatar: Kritik Prosedural Justru Mengoyak Sepak Bola Asia
Baca dalam 60 detik
- Sheikh Salman menolak tuduhan Qatar bahwa dirinya melampaui wewenang saat bergabung dengan UEFA dan CONCACAF mengkritik Infantino.
- Perseteruan ini memperdalam perpecahan di sepak bola Asia, dengan Qatar dan lima asosiasi Arab lain mendukung Infantino.
- Konflik ini berpotensi memengaruhi dinamika politik FIFA menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, dengan tegas membantah tuduhan Asosiasi Sepak Bola Qatar (QFA) bahwa dirinya telah melampaui kewenangan ketika ikut serta dalam kritik bersama UEFA dan CONCACAF terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dalam surat yang beredar luas, ia juga mengecam sikap QFA yang dinilai lebih mementingkan prosedur ketimbang membela kepentingan olahraga ini.
Ketegangan ini bermula dari surat terbuka tiga konfederasi yang mendesak Infantino mundur setelah gagalnya rencana menarik investasi swasta untuk turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia. Langkah tersebut memicu reaksi berantai, terutama dari QFA yang merasa tidak dilibatkan sebelum pernyataan bersama itu dirilis. Presiden QFA, Hamad bin Khalifa Al-Thani, yang juga anggota Komite Eksekutif AFC dan Dewan FIFA, mempertanyakan dasar hukum AFC berbicara atas nama 47 asosiasi anggotanya.
Menanggapi hal itu, Sheikh Salman dalam suratnya yang dirilis Reuters menegaskan bahwa dirinya memiliki mandat konstitusional untuk bertindak. "Saya memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk bertindak tegas menjaga posisi AFC dan sepak bola Asia ketika muncul persoalan fundamental," tulisnya. Ia juga mengingatkan bahwa AFC selama ini kerap mengeluarkan pernyataan publik untuk isu-isu penting, termasuk saat mendukung Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 di tengah tekanan global.
Sheikh Salman menyayangkan sikap selektif QFA yang baru mempersoalkan prosedur ketika kebijakan itu tidak menguntungkan mereka. "Saya tidak ingat QFA pernah mengajukan keberatan prosedural ketika protokol yang ada menguntungkan kepentingan mereka," ujarnya. Ia menilai langkah QFA justru mengganggu persatuan sepak bola Asia dan melemahkan AFC.
Di tengah krisis ini, dukungan Qatar kepada Infantino menjadi sorotan. Qatar bersama Maroko akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030, dan sikap mereka dianggap sebagai bentuk loyalitas politik. Namun, langkah tersebut justru memperlebar jurang antara kubu yang mendukung dan menentang Infantino di kawasan Asia dan Afrika.
Bagi Indonesia, konflik ini relevan mengingat posisi PSSI yang selama ini dekat dengan AFC. Ketegangan antara AFC dan salah satu anggotanya yang berpengaruh bisa berdampak pada dinamika pengambilan keputusan di tingkat regional, termasuk dalam hal alokasi turnamen dan kebijakan pengembangan sepak bola. Indonesia perlu mencermati arah konflik ini karena dapat memengaruhi stabilitas organisasi sepak bola Asia secara keseluruhan.
Hingga berita ini diturunkan, QFA belum memberikan tanggapan resmi atas surat Sheikh Salman. Namun, surat tersebut mengindikasikan bahwa perpecahan di tubuh AFC semakin dalam, dan pertarungan menuju pemilihan presiden FIFA tahun depan diprediksi akan semakin sengit. Akankah konflik ini mereda, atau justru memicu perombakan besar di jajaran kepemimpinan sepak bola Asia? Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari kedua kubu.



