Cedera Pergelangan Kaki Hentikan Langkah Rybakina di Cincinnati, Peluang ke Puncak Ranking Kembali Tertunda
Baca dalam 60 detik
- Elena Rybakina mundur dari perempat final Cincinnati Open karena cedera pergelangan kaki kiri, mengubur asanya menyalip Aryna Sabalenka di puncak ranking.
- Iga Swiatek melaju ke semifinal dan berpeluang mempertahankan gelar, sementara Rybakina akan menjalani MRI untuk mengetahui tingkat keparahan cedera.
- Kekalahan ini menambah daftar cedera yang menghantui persiapan para petenis jelang US Open, turnamen yang dimulai akhir Agustus.

Ambisi Elena Rybakina untuk merebut posisi nomor satu dunia kembali menemui hambatan. Petenis asal Kazakhstan itu harus menghentikan langkahnya di perempat final Cincinnati Open setelah cedera pergelangan kaki kiri memaksanya mundur saat menghadapi Iga Swiatek, Jumat (16/8) waktu setempat. Padahal, kemenangan di turnamen ini adalah satu-satunya jalan untuk menyalip Aryna Sabalenka yang tersingkir lebih awal.
Rybakina, unggulan kedua, hanya mampu bertahan lima game sebelum akhirnya menyerah. Ia tertinggal 1-4 saat memanggil medical timeout setelah terpeleset di kedudukan 40-40. Setelah berkonsultasi dengan fisioterapis, ia mencoba melanjutkan permainan tetapi hanya bertahan satu poin lagi sebelum memutuskan berhenti. โSaya merasa tidak enak, bahkan tidak bisa mendorong dari servis. Berjalan saja sakit. Kami akan tahu lebih banyak besok setelah MRI,โ ujarnya dalam konferensi pers.
Cedera ini bukan hal baru bagi Rybakina. Ia mengaku masalah tersebut sudah mengganggunya cukup lama, meski sebelumnya masih bisa dikendalikan. โSebelum pertandingan rasanya baik-baik saja, tapi satu gerakan yang salah, satu pendaratan, dan sesuatu terjadi,โ tambahnya. Kondisi ini tentu menjadi kekhawatiran besar menjelang US Open yang akan dimulai pada 30 Agustus mendatang, di mana Sabalenka adalah juara bertahan dua kali.
Di sisi lain, Swiatek yang pekan lalu mengalahkan Rybakina di final Kanada Terbuka, kini melaju ke semifinal dan akan berhadapan dengan Jessica Pegula. Petenis Polandia itu berpeluang menjadi wanita kedua sejak 2004 yang sukses mempertahankan gelar Cincinnati, setelah Serena Williams melakukannya pada 2014 dan 2015. Swiatek pun menyampaikan simpatinya, โSaya harap Elena baik-baik saja. Turnamen berikutnya adalah prioritas. Saya tahu ini penting, tapi US Open adalah US Open. Dia sangat dekat dengan posisi nomor satu.โ
Bagi pecinta tenis Indonesia, kabar ini menambah daftar panjang drama cedera yang kerap mewarnai tur dunia. Meski tidak ada petenis Indonesia yang berlaga di level ini, performa para pemain top tetap menarik perhatian, terutama karena jadwal padat antara Kanada Terbuka, Cincinnati, dan US Open sering kali memicu kelelahan fisik. Fenomena ini juga menjadi pengingat betapa pentingnya manajemen beban bagi atlet profesional, sebuah pelajaran yang relevan bagi pengembangan tenis di tanah air.
Sementara itu, di sektor putra, Flavio Cobolli menjadi sorotan setelah mengalahkan favorit tuan rumah Tommy Paul dengan skor 2-6, 6-3, 6-4. Kunci kemenangannya? Sekotak M&M's. Saat kehabisan energi di set kedua, petenis Italia itu meminta camilan cokelat saat pergantian sisi. โSaya merasa sedikit lelah dan butuh energi, butuh gula, dan saya suka M&M's. Cokelat dengan warna-warni membuat saya bahagia di lapangan,โ katanya. Berkat asupan gula instan itu, Cobolli berhasil membalikkan keadaan dan mencapai semifinal Masters 1000 pertamanya.
Cobolli akan berhadapan dengan Arthur Fils yang tampil impresif dengan mengalahkan Thiago Agustin Tirante hanya dalam 64 menit. Fils, yang baru kembali dari cedera delapan bulan pada Februari lalu, tidak menghadapi satu pun break point. Ia menjadi petenis Prancis pertama yang mencapai tiga semifinal Masters 1000 dalam satu musim sejak Guy Forget pada 1991. Pencapaian ini menegaskan kebangkitan tenis Prancis, sekaligus memberi warna baru di tengah dominasi petenis-petenis senior.
Dengan mundurnya Rybakina, persaingan menuju US Open semakin terbuka. Sabalenka, meski kalah awal di Cincinnati, tetap menjadi unggulan utama di New York. Namun, jika Rybakina tidak pulih tepat waktu, peluangnya untuk merebut posisi nomor satu harus kembali ditunda. Pertanyaannya, akankah cedera ini memengaruhi performanya di Grand Slam terakhir musim ini? Atau justru menjadi motivasi ekstra untuk membuktikan ketangguhannya? Yang jelas, dunia tenis akan menantikan hasil MRI dan perkembangan kondisinya dalam beberapa hari ke depan.



