Api Asian Games 2026 Mulai Menyala: Tokyo Jadi Titik Awal Estafet Obor Menuju Nagoya
Baca dalam 60 detik
- Upacara penyalaan obor Asian Games 2026 digelar di Tokyo, menandai dimulainya rangkaian menuju pembukaan di Nagoya pada 19 September.
- Obor yang digunakan adalah kaldron bersejarah dari Asian Games 1958 dan Olimpiade Tokyo 1964, simbol kontinuitas olahraga Asia.
- Estafet akan melewati Aichi dan prefektur lain, dengan atlet legendaris seperti Saori Yoshida sebagai pembawa pertama, sebelum puncak acara pada 19 September hingga 4 Oktober.

Tokyo, 18 Agustus 2026 โ Rangkaian menuju Asian Games 2026 resmi dimulai. Upacara penyalaan obor digelar di Stadion Nasional Jepang, Selasa (18/8), sekitar sebulan sebelum pesta olahraga antarnegara Asia itu dibuka di Nagoya. Momen ini bukan sekadar seremoni; ia menjadi penanda bahwa Asia kembali bersiap untuk unjuk kekuatan melalui olahraga.
Pelari cepat Yoshihide Kiryu, peraih medali perak Olimpiade Rio 2016 dalam estafet 4x100 meter, dipercaya menjadi orang pertama yang menyalakan obor dari kaldron bersejarah. Kaldron yang sama pernah digunakan pada Asian Games 1958 dan Olimpiade Tokyo 1964. "Saya akan membawa obor yang dipercayakan kepada kami dan berlari dengan cara yang dapat memberdayakan generasi berikutnya," ujar Kiryu, yang juga anggota tim Asian Games Jepang, dalam pernyataannya.
Pemilihan Kiryu bukan kebetulan. Ia mewakili generasi emas atletik Jepang yang kini bersiap tampil di depan publik sendiri. Namun, di balik kemeriahan, ada pesan politik dan diplomatik yang mengemuka. Gubernur Aichi, Hideaki Omura, yang juga ketua panitia penyelenggara, menegaskan harapannya: "Kami berharap dapat menegaskan kembali persatuan dan perdamaian Asia melalui olahraga." Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik kawasan, menjadikan Asian Games kali ini lebih dari sekadar ajang kompetisi.
Upacara serupa juga dijadwalkan berlangsung di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima pada Kamis (20/8), sebagai penghormatan atas tragedi bom atom 1945. Hiroshima, yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games 1994, akan menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian. Dua api dari Tokyo dan Hiroshima nantinya akan disatukan di Nagoya pada Sabtu (22/8), sebelum estafet resmi dimulai dengan pelari pertama, Saori Yoshida, peraih tiga medali emas Olimpiade dalam gulat wanita.
Estafet obor akan menyusuri prefektur Aichi hingga upacara pembukaan pada 19 September. Asian Games 2026 sendiri akan berlangsung hingga 4 Oktober, dengan sebagian besar pertandingan dipusatkan di Nagoya dan kota-kota sekitarnya, serta melibatkan Tokyo, Gifu, Shizuoka, dan Osaka sebagai tuan rumah sebagian cabang. Ini adalah kali kedua Jepang menjadi tuan rumah Asian Games setelah 1958 di Tokyo, dan kali ini mereka membawa semangat baru pasca-pandemi.
Bagi Indonesia, Asian Games 2026 menjadi panggung penting untuk menguji ketahanan atlet dan strategi pembinaan jangka panjang. Meski tidak menjadi tuan rumah, keikutsertaan Indonesia dalam ajang ini akan menjadi barometer kesiapan menuju Olimpiade 2028. Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) diperkirakan akan memantau langsung performa para atlet di berbagai cabang, terutama yang menjadi andalan seperti bulu tangkis dan angkat besi. Keberhasilan Jepang dalam mengorganisir acara sebesar ini juga menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah berbagai event internasional.
Di sisi lain, estafet obor yang melintasi kota-kota bersejarah seperti Hiroshima dan Nagoya mengirimkan sinyal kuat tentang rekonsiliasi dan harapan. Bagi Asia yang sedang dilanda persaingan ekonomi dan militer, Asian Games bisa menjadi ruang netral untuk membangun kepercayaan. Pertanyaannya, apakah semangat sportivitas ini akan cukup untuk meredakan ketegangan yang ada? Atau justru menjadi panggung baru bagi persaingan pengaruh?
Dengan waktu kurang dari sebulan menuju pembukaan, semua mata kini tertuju pada Nagoya. Jepang, yang dikenal dengan ketelitian dan inovasi, siap menunjukkan bahwa mereka mampu menggelar pesta olahraga yang tak hanya meriah, tetapi juga bermakna. Bagi para atlet, ini adalah kesempatan emas untuk mengukir sejarah. Bagi Asia, ini adalah momen untuk membuktikan bahwa olahraga tetap menjadi bahasa universal yang menyatukan.



