Ketua AFC Balas Qatar: Kritik ke Infantino Bukan Langkah Melampaui Wewenang
Baca dalam 60 detik
- Sheikh Salman menegaskan kritik bersama UEFA dan CONCACAF terhadap Infantino adalah bagian dari mandat konstitusionalnya untuk melindungi kepentingan sepak bola Asia.
- QFA menilai AFC tidak punya hak bicara atas nama 47 asosiasi anggota, namun Salman mengingatkan Qatar pernah diuntungkan oleh praktik serupa saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
- Ketegangan ini berpotensi memecah belah suara Asia dalam pemilihan presiden FIFA tahun depan, dengan Qatar dan sekutunya mendukung Infantino.

Ketua Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, dengan tegas membantah tuduhan bahwa dirinya melampaui wewenang ketika ikut serta dalam kritik bersama UEFA dan CONCACAF terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dalam surat balasan yang dirilis Selasa (18/8), Salman menyebut langkah tersebut sebagai kewajiban konstitusional untuk menjaga kepentingan sepak bola Asia di tengah gejolak yang melanda FIFA.
Surat terbuka yang ditandatangani tiga konfederasi itu menuntut Infantino mundur setelah gagalnya rencana pendanaan swasta untuk turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia. Langkah ini memicu reaksi keras dari Asosiasi Sepak Bola Qatar (QFA) yang merasa tidak dilibatkan dalam keputusan tersebut. Presiden QFA, Hamad bin Khalifa Al-Thani, sebelumnya mempertanyakan dasar hukum AFC untuk berbicara atas nama 47 asosiasi anggota.
Dalam responsnya, Salman menegaskan bahwa dirinya memiliki otoritas dan tanggung jawab untuk bertindak tegas ketika ada isu fundamental yang menyangkut masa depan sepak bola Asia. "Akan tidak konsisten dengan tanggung jawab itu jika AFC tetap diam," tulisnya, seperti dikutip Reuters. Ia juga menyindir sikap selektif QFA yang baru mempersoalkan prosedur ketika kebijakan tersebut tidak menguntungkan mereka.
Salman mengingatkan bahwa AFC dan para pemimpinnya sebelumnya kerap mengeluarkan pernyataan publik untuk isu-isu penting, termasuk dukungan terhadap Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 di tengah tekanan global. "Saya tidak ingat QFA pernah mengajukan keberatan prosedural ketika protokol yang ada menguntungkan kepentingan mereka," ujarnya. Pernyataan ini menyiratkan adanya standar ganda dalam sikap QFA.
Ketegangan ini terjadi di tengah persaingan menuju pemilihan presiden FIFA tahun depan. Qatar, bersama Maroko dan beberapa asosiasi sepak bola Arab lainnya, telah menyatakan dukungannya terhadap Infantino. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memperkuat posisi Infantino di tengah gelombang kritik dari Eropa dan Amerika Utara. Namun, sikap Qatar justru dianggap oleh Salman sebagai upaya untuk "mengganggu persatuan sepak bola Asia" dan melemahkan AFC.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi penting. Sebagai salah satu anggota AFC, PSSI tentu akan mengamati arah konflik ini. Indonesia sendiri tengah berupaya meningkatkan peran di kancah sepak bola Asia, termasuk dalam persiapan Piala Dunia U-20 dan berbagai turnamen internasional. Stabilitas kepemimpinan FIFA dan AFC akan mempengaruhi kebijakan pengembangan sepak bola di tingkat global yang berdampak pada Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa AFC pernah dipimpin oleh tokoh kontroversial asal Qatar, Mohammed bin Hammam, yang dihukum seumur hidup pada 2012 karena melanggar kode etik FIFA. Salman yang menggantikannya kini harus menghadapi tantangan baru dari negara asal pendahulunya. Hal ini menambah dimensi politik dalam konflik yang sedang berlangsung.
"Prioritas pada teknis prosedural dibandingkan pembelaan kepentingan sepak bola Asia dan dunia adalah langkah yang keliru," tulis Salman dalam suratnya kepada QFA.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah konflik ini akan mempengaruhi solidaritas Asia dalam pemilihan presiden FIFA. Dengan dukungan Qatar yang kuat terhadap Infantino, Salman harus memastikan bahwa suara Asia tidak terpecah. Jika tidak, pengaruh Asia di FIFA bisa melemah, dan itu akan berdampak pada alokasi tuan rumah turnamen serta kebijakan lainnya. Indonesia, sebagai salah satu kekuatan sepak bola di Asia, tentu berharap AFC tetap solid di bawah kepemimpinan Salman.



