Tragedi di Filipina: Pelajar Kelas 9 Tembak Teman Sekelas Lalu Akhiri Hidup, Sekolah Kembali Diguncang Kekerasan Senjata
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswa kelas 9 di Universitas Ateneo de Zamboanga, Filipina, menembak mati siswa kelas 10 sebelum bunuh diri, Selasa (18/8).
- Insiden ini menjadi penembakan sekolah kedua dalam dua bulan terakhir di Filipina, menyoroti masalah akses senjata ilegal di negara tersebut.
- Pihak berwenang masih menyelidiki motif pelaku, sementara sekolah telah melakukan latihan penembakan aktif sebulan sebelumnya.

Seorang siswa kelas 9 di sebuah universitas swasta Katolik di Filipina selatan menembak mati seorang siswa kelas 10 di dalam ruang kelas, kemudian mengarahkan senjatanya ke dirinya sendiri, Selasa (18/8). Peristiwa ini menandai penembakan sekolah kedua di negara itu dalam dua bulan terakhir, memicu kembali kekhawatiran tentang keamanan kampus dan peredaran senjata ilegal.
Insiden terjadi di Ateneo de Zamboanga University, sebuah institusi pendidikan di Mindanao barat. Menurut keterangan polisi regional, pelaku membawa pistol dan senapan ke dalam kampus, lalu melepaskan tembakan di sebuah ruang kelas. Polisi masih mendalami motif pelaku, seperti diungkapkan juru bicara kepolisian Shella Chang. "Penyelidikan masih berlangsung... Kami masih mencoba mengidentifikasi motifnya," ujarnya, seraya menambahkan tempat kejadian sedang diproses.
Video yang beredar di media sosial, yang tampaknya disiarkan langsung melalui Facebook, memperlihatkan laras senjata bergerak di sepanjang lorong seperti dalam permainan video orang pertama, sebelum diarahkan ke ruang kelas dan ditembakkan. Dalam rekaman tersebut, terlihat anak-anak berseragam berteriak dan berhamburan keluar. Akun Facebook pelaku telah dinonaktifkan.
Wali Kota Zamboanga, Khymer Olaso, yang awalnya mengidentifikasi pelaku sebagai siswa kelas 7, menyatakan bahwa dalam video terlihat pelaku pertama kali menembak ke arah seorang guru yang duduk di meja, namun meleset. "Sepertinya dia meleset, lalu pindah ke ruangan lain... Dia menembak siswa lain di sana," katanya kepada stasiun radio lokal. Pihak sekolah mengonfirmasi dua korban tewas dan telah berkoordinasi dengan orang tua untuk menjemput anak-anak mereka, serta memastikan keselamatan warga kampus yang tersisa.
Penembakan di sekolah memang jarang terjadi di Filipina, namun pada Juni lalu, tiga siswa remaja tewas dan 20 lainnya luka-luka dalam insiden serupa di Filipina tengah. Ateneo de Zamboanga sendiri baru saja menggelar latihan menghadapi penembakan aktif pada bulan lalu, sebagai bagian dari upaya banyak sekolah di negara itu untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Meskipun kepemilikan senjata api diatur ketat di Filipina, pasar gelap senjata masih luas, menjadi celah yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan senjata api dan kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Meski tingkat kepemilikan senjata di Indonesia lebih rendah, potensi kekerasan di sekolah tetap ada, terutama dengan maraknya perundungan dan tekanan akademik. Regulasi yang ketat dan deteksi dini terhadap perilaku berisiko menjadi kunci pencegahan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana sekolah-sekolah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat memperkuat sistem keamanan tanpa mengorbankan suasana pendidikan yang terbuka. Apakah latihan aktif penembak (active shooter drill) yang mulai diterapkan di Filipina akan menjadi standar baru di kawasan? Atau justru pendekatan yang lebih humanis, seperti konseling dan intervensi psikologis, yang lebih efektif mencegah tragedi serupa? Ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kebijakan pendidikan di seluruh kawasan.



