Jorja Smith Buka Suara: Ketenaran Terasa Menyesakkan bagi Penyanyi Berjiwa Kampung
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Blue Lights' ini mengaku kewalahan menghadapi sorotan publik pasca album debutnya, hingga merasa perlu menjauh sejenak demi kesehatan mental.
- Tekanan untuk mempertahankan eksistensi di industri musik, terutama saat merilis album kedua, sempat membuatnya mempertanyakan posisinya sebagai artis.
- Jorja kini memilih pulang ke kampung halaman untuk mencari ketenangan, sebuah langkah yang menyoroti pentingnya keseimbangan hidup di tengah hiruk-pikuk industri hiburan.

Pelantun "Blue Lights", Jorja Smith, mengakui bahwa ketenaran yang diraihnya sejak merilis album debut pada 2018 justru terasa menyesakkan. Dalam wawancara terbaru, perempuan 29 tahun itu mengungkapkan bahwa dirinya kerap merasa terasing di tengah gemerlap industri musik yang serba cepat dan penuh tekanan.
Jorja, yang tumbuh di kota kecil Walsall, Inggris, mengaku butuh ruang untuk bernapas. "Saya gadis kecil dari kota kecil. Saya perlu melarikan diri ke tempat di mana saya bisa melihat langit tanpa semuanya begitu ramai. Itu terlalu merangsang," ujarnya kepada The Standard. Baginya, kebisingan kota dan sorotan publik adalah beban yang nyata, bukan sekadar keluhan.
Kenyamanan justru ia temukan di rumah, di tengah keluarga dan sahabat. "Itulah yang saya suka dari berada di rumah. Karena semua orang saling kenal. Jika saya mengenalmu, saya benar-benar mengenalmu," katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa di balik panggung megah, Jorja merindukan interaksi yang autentik dan hangat.
Tekanan yang dirasakan Jorja tidak hanya soal popularitas, tetapi juga pengawasan publik yang intens, terutama terhadap penampilan fisiknya. Ia sempat merasa perlu mundur dari sorotan. "Saya banyak tampil di periode itu dan saya perlu mundur. Saya merasa hal 'menjadi Jorja Smith' ini agak sulit," ungkapnya. Pengakuan ini menyoroti sisi gelap industri musik yang kerap mengabaikan kesehatan mental para artisnya.
Beban serupa juga dirasakan saat mempersiapkan album kedua, Falling or Flying. Jorja mengaku sempat dilanda krisis identitas. "Pada satu titik saya ingat berpikir, 'Sial, saya bukan artis pendatang baru lagi,' dan itu benar-benar menghantam saya," tuturnya. Tekanan untuk membuktikan diri di album kedua menjadi momok yang nyata bagi banyak musisi.
Keputusan Jorja untuk "mundur" setelah kesuksesan album debutnya adalah langkah yang jarang dilakukan artis di puncak karier. Dalam wawancara dengan GQ, ia mengaku bekerja keras sejak kecil, selalu ingin melakukan lebih, tanpa henti. "Saya mulai sangat muda dan selalu ingin melakukan lebih, terus, terus, terus โ saya tidak punya jeda fisik, saya tidak tahu cara berhenti," katanya. Setelah album pertamanya, ia merasa perlu menarik diri dan melakukan hal-hal yang dulu membuatnya bahagia.
Fenomena ini tidak hanya dialami Jorja. Di Indonesia, banyak musisi dan selebritas yang juga berbicara tentang tekanan mental di industri hiburan. Maraknya kasus depresi di kalangan publik figur, seperti yang pernah diungkapkan oleh beberapa musisi Tanah Air, menunjukkan bahwa sorotan publik dan tuntutan industri yang tinggi bisa berdampak serius pada kesehatan psikologis. Langkah Jorja untuk mencari ketenangan di kampung halaman bisa menjadi pelajaran berharga bahwa kesuksesan tidak harus dibayar dengan mengorbankan kesehatan mental.
Pilihan Jorja untuk kembali ke akar dan menolak "overstimulasi" industri musik adalah pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada manusia yang butuh kedamaian. Pertanyaannya, akankah industri musik, termasuk di Indonesia, mulai lebih serius memperhatikan kesejahteraan para artisnya? Atau akankah semakin banyak musisi yang memilih mundur seperti Jorja demi menjaga kewarasan?



