Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Eropa Siap Lepas Cadangan Diesel, WTI Anjlok 3,6%
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI kompak melemah setelah Uni Eropa membahas pelepasan 50 juta barel diesel dan 50 juta barel minyak mentah dari cadangan strategis.
- Tekanan datang dari Washington: Menkeu AS Scott Bessent mendesak Eropa segera menggelontorkan stok untuk meredam kelangkaan solar global.
- Jika realisasi, langkah ini bisa menekan harga energi dunia—berdampak pada Indonesia lewat subsidi dan inflasi bahan bakar.

Harga minyak mentah dunia kembali terperosok pada Jumat (2/10/2026) setelah muncul laporan bahwa negara-negara Uni Eropa tengah mempertimbangkan melepas cadangan diesel dan minyak mentah mereka untuk meredakan kelangkaan pasokan global. Brent kontrak Desember ditutup melemah 2,5% ke US$99,51 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) kontrak November anjlok 3,6% menjadi US$89,47 per barel—memperpanjang kerugian sejak awal sesi.
Pemicu utamanya adalah proposal Prancis yang beredar di antara anggota Uni Eropa. Menurut laporan Reuters yang mengutip satu sumber anonim, Paris mengusulkan agar negara-negara UE melepaskan 50 juta barel diesel dari cadangan mereka, sementara anggota Badan Energi Internasional (IEA) diminta menyumbang 50 juta barel minyak mentah. CNBC belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen, dan juru bicara pemerintah Prancis maupun IEA belum memberikan komentar.
Yang membuat situasi ini berbeda dari fluktuasi harga biasa adalah tekanan politik langsung dari Amerika Serikat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis (1/10/2026) menyerukan agar mitra Eropa segera mempercepat realisasi komitmen pasokan mereka. Dalam unggahan di media sosial, Bessent menegaskan bahwa petani, pengusaha truk, dan pelaku usaha Amerika “tidak boleh menanggung beban kelangkaan diesel global.” Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Washington menganggap krisis solar sebagai ancaman langsung bagi perekonomian domestiknya.
Uni Eropa sendiri menggelar pertemuan krisis pada Jumat untuk membahas respons terkoordinasi terhadap lonjakan harga diesel. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi. Jika proposal Prancis disetujui, ini akan menjadi intervensi pasar energi terbesar sejak krisis 2022—ketika IEA melepas ratusan juta barel untuk menstabilkan harga pasca-invasi Rusia ke Ukraina.
“Mitra Eropa kami harus mempercepat pengiriman komitmen yang ada dan segera menyediakan pasokan tambahan untuk mengatasi gangguan yang sedang berlangsung,” tulis Bessent dalam pernyataannya.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita pasar komoditas. Sebagai importir minyak mentah dan bahan bakar olahan, penurunan harga global bisa menjadi angin segar untuk menekan biaya impor—terutama solar yang masih disubsidi. Namun, efeknya tidak serta-merta terasa di pompa bensin. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan kebijakan harga domestik tetap menjadi penentu. Jika harga minyak terus turun, pemerintah memiliki ruang fiskal lebih longgar untuk menahan kenaikan harga BBM bersubsidi atau mengurangi beban APBN.
Di sisi lain, pelepasan cadangan strategis hanya bersifat sementara. Pasar akan tetap ketat jika permintaan global—terutama dari China dan India—tetap tinggi, sementara pasokan dari produsen utama seperti OPEC+ belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan signifikan. Analis energi memperkirakan bahwa tanpa perubahan struktural, harga bisa kembali melonjak begitu cadangan habis.
Pertanyaannya kini: apakah Eropa akan benar-benar menggelontorkan stoknya, atau ini hanya gertakan politik untuk menekan harga? Yang jelas, investor dan pelaku pasar energi akan terus mencermati setiap sinyal dari Brussels dan Washington dalam beberapa hari ke depan.


