Ruby Rose dan Tuduhan 'Pembunuh Bayi' yang Membekas Seumur Hidup
Baca dalam 60 detik
- Aktris Ruby Rose mengungkap pengalaman traumatis saat remaja menemukan anak kecil terluka parah di taman bermain.
- Ia sempat dituduh sebagai penyebab kematian anak tersebut, sebelum rekaman memori sang kakak mengungkap kebenaran.
- Kasus ini menyoroti pentingnya penanganan psikologis bagi saksi anak dan risiko misinformasi dalam tragedi.

Ruby Rose, aktris yang dikenal lewat serial Orange Is the New Black dan Batwoman, membuka cerita kelam masa remajanya. Dalam wawancara di podcast Off the Vine, perempuan 40 tahun itu mengungkap bagaimana ia pernah dituduh sebagai "pembunuh bayi" setelah berusaha menolong seorang anak yang terluka parah di sebuah taman bermain. Peristiwa itu terjadi saat ia berusia 15 tahun dan hingga kini membekas dalam ingatannya.
Ketika itu, Ruby dan seorang teman masa kecilnya sedang mencoba rokok pertama mereka di area bermain. Pandangannya tertuju pada sosok yang ia kira boneka tergantung di peralatan permainan. Namun, saat mendekat, ia menyadari itu adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar empat setengah tahun dengan darah mengalir dari telinga, hidung, dan mulut. "Sangat traumatis," kenangnya.
Tanpa ragu, Ruby menggendong anak tersebut dan membawanya ke rumah warga sekitar untuk mencari pertolongan. Ia sempat berpikir telah menyelamatkan nyawa anak itu karena mendengar tarikan napas panjang. Sayangnya, meski sudah dilakukan resusitasi jantung paru (CPR) sebelum ambulans tiba, kondisi bocah malang itu memburuk dan ia meninggal di rumah sakit setelah dinyatakan mati batang otak.
Pasca-insiden, polisi mendatangi sekolah Ruby untuk memintai keterangan. Ia mengaku dihujat oleh teman-teman sekelasnya dengan sebutan "pembunuh bayi". "Saya benar-benar hancur," ujarnya. Tuduhan itu membuatnya terpuruk, terlebih karena ibunda korban menolak kehadirannya di pemakaman. "Semua orang pergi kecuali saya," tambahnya.
Kebenaran baru terungkap setelah kakak korban mengalami episode dissociative amnesiaโkondisi kesehatan mental di mana trauma atau stres membuat seseorang kehilangan ingatan. Kakak tersebut awalnya mendorong adiknya dari seluncuran, lalu berusaha menolongnya yang tersangkut paku. Namun, saat melihat darah, ia panik dan melarikan diri tanpa ingatan selama beberapa pekan. Setelah memorinya pulih, ia mendatangi polisi dan mengakui perbuatannya. Ruby pun resmi dibebaskan dari segala tuduhan.
"Saya pikir saya telah menyelamatkan nyawanya karena ada tarikan napas panjang," ujar Ruby Rose mengenang momen tersebut.
Dampak psikologis dari peristiwa itu begitu dalam hingga Ruby memutuskan untuk mendalami ilmu psikologi. Ia ingin memahami bagaimana trauma dapat memengaruhi ingatan dan perilaku seseorang. Kisahnya menjadi cermin betapa rentannya anak-anak dan remaja terhadap stigma sosial, terutama ketika sistem hukum dan masyarakat belum sepenuhnya memahami kondisi kejiwaan seseorang.
Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi ketika seorang anak menjadi saksi atau korban dalam kecelakaan. Minimnya pendampingan psikologis dan pemahaman tentang dissociative amnesia dapat memperburuk trauma. Ruby Rose, meski bukan warga negara Indonesia, memberikan pelajaran berharga bahwa tuduhan tanpa bukti dapat menghancurkan hidup seseorang. Kini, ia dikenal sebagai aktris yang vokal tentang isu kesehatan mental, membuktikan bahwa luka masa lalu bisa diubah menjadi kekuatan.



